Tiba2 saya jadi ingat adik saya ketika dia diuji untuk bekerja di perusahaan asing milik Australia-Perancis. Perusahaan besar itu tak meminta ijasah apapun dari adik saya. Simply mereka cuma memberikan sederetan soal ujian yang harus dijawab adik saya via online. So, ujian2 itu benar2 sudah dibuat sedemikian rupa sehingga meskipun adik saya “open book”, dia harus tetap mikir memakai logikanya.

Adik saya diterima bekerja dengan kedudukan selevel manager hanya dengan melihat hasil ujiannya itu. Tak lama setelah bekerja di kantor barunya itu saya bertanya pada adik saya ini: Kok bisa sih kamu keterima hanya dari ujian tertulis begitu trus langsung mereka putuskan bahwa kamu bisa menduduki level manager? Mereka bahkan gak peduli ijasahmu or nilai rapotmu or prestasimu seperti kebanyakan terjadi di perusahaan lokal?

Adik saya bilang bahwa dari sekian soal2 ujian itu, pihak perusahaan menyebar soal2 yang ternyata mewakili “tingkatan” permasalahan yang dihadapi oleh tingkatan jabatan di kantor itu.Begitu dia di-  infokan oleh mereka, tentu saja setelah dia diterima bekerja disana. Dan fortunately adik saya itu ternyata mampu menjawab masalah2 kelas “manager” dengan sangat baik. Dia melewati jabatan “staff”.

Saya jadi berpikir, bahwa ujian2 hidup yang disodorkan untuk kita jalani itu juga tingkatannya macam2. Bisa jadi kita ini berilmu setingkat manager, tapi karena hidup kacau, ujian2 tingkat buruh sajapun kita tak bisa jawab. Otak dan hatinya terlalu kusam untuk diajak berpikir pintar.

Gimana supaya kita bisa menjawab pertanyaan level manager sesuai dengan kemampuan kita (yg sebenarnya)? ya tentu saja otak dan hati kusam itu harus dibersihkan terlebih dahulu. In shaa Allah, soal2 itu akan mudah dijawab. Sesuai dengan kemampuan kita kok!

Tawaran berikutnya akan datang dalam bentuk “kenaikan tingkat”. Belajar dulu banyak2, begitu kita mapan dengan ilmu2 sekelas direktur, kita otomatis akan diuji dengan ujian2 kelas “pemimpin”. Oh well… sama seperti ujian di kampus, rasanya gak selalu kita langsung lulus, seringkali gagal uji, tapi kesempatan untuk remedial itu always open. Rasanya juga bukan kita yang kudu bilang ” saya siap diuji deh sekarang”, no! Ujian kita bukan kita yang nentuin timingnya, tapi yang MAHA TAHU. Jadi ketika kita diuji kembali, sesungguhnya DIA TAHU kita telah mampu, itu sebabnya jangan cepat menyerah. Jangan. Terus jalani, terus fight, terus lakoni dan terus berpegang pada rope-NYA.

Ya begitu…. sampai timingNYA pula yang memutuskan bahwa ujian telah dilewati dengan baik and we get the reward🙂

bbb8b7053e6b243eb0f59c472ca25a0f