Saya merasa kalau manusia itu sudah on track di jalan Allah, sedikit saja lalai, Allah akan mengoreksinya. To be honest, saya sudah meritualkan kebiasaan sholat sunnah dua rakaat sebelum melakukan perjalanan penting. Nah, kemarin itu tidak saya lakukan memang, saya tak lupa, tapi saya tak lakukan. Saya merasa tak penting karena sudah sholat magrib dan Isya menjadi satu. Dan begitulah jadinya; CHAOS. Selayaknya manusia, selama chaos terjadi, saya tak merasa itu karena “ke-sok’an” saya sendiri. Pure saya melihatnya sebagai uji nyali sabar saja, padahal ? pada akhirnya saya akan tahu bahwa itu sebuah peringatan sebetulnya.

Awal hambatan itu mulai ketika taxi susah dicari. Jam saya harus berangkat mengejar kereta itu jatuh di weekend day, yang mana Bandung sangat terkenal super macet saat weekend, ntah karena menjadi tumpahan orang2 Jakarta, atau memang sudah bawaan dimana mana kalau tiap malam Sabtu itu macet cet.

Sebetulnya ditengah-tengah kepanikan mepetnya waktu mengejar kereta itu ada “golden help” dariNYA. Pertama, setelah semua taxi di cancel, eeeh ternyata ada satu taxi yang datang tepat waktu karena gak merasa ada pembatalan. Kedua, ketika taxi “salah pengertian”, koreksi “tak sengaja” yang keluar dari mulut saya itu muncul tepat ditengah jalan yang bisa membawa kami lurus2 saja ke arah tujuan. Tetapi, meski lurus, jalan itu terkenal super padat karena ada mall besar disitu. Mana lampu merahnya lama bangeeeet.

Dan luncuran kalimat istigfar “astagfirullah” bertubi tubi keluar dari mulut saya ketika jarum jam berdetak makin mepet, dan jalan nampak tak berujung karena tertutup atap2 mobil yang berjejer rapat ntah rapat apa. Saya mikirin duit yang bakal hangus kalau sampai ketinggalan kereta. Saat2 ekonomi lesu seperti sekarang, buang2 duit cuma karena stucked kena macet rasanya gak rela bangeeeet. Tapi kemudian saya ingat; iklas pada keputusanNYA itu bukan iklas melepas duitnya. Tapi iklas bahwa apapun yang terjadi, yang membuat duit hangus itu adalah iklas dalam bentuk rasa menerima kita dengan lapang dada atas semua keputusanNYA karena kita mencintaiNYA. Diperlakukan apa saja olehNYA, kita terima karena kita mencintaiNYA dan percaya bahwa apapun yang dilakukanNYA adalah yang terbaik untuk kita.

Sepanjang jalan mengejar waktu naik kereta itupun saya berjuang merubah astagfirullah berhaluan uang hangus, menjadi astagfirullah berhaluan penerimaan iklas atas apapun keputusanNYA. Ohho hohohoho… mohon dicatat: itu tak mudah.

Tapi alhamdulillah, golden help ketiga itu terlihat beberapa kali dengan dikosongkannya jalan setelah berapat rapat sekian lama dengan kemacetan, sehingga taxi yang tak sedikitpun ngebut2 itu bisa sampai di tempat lebih kurang 30 menit sebelum waktu keberangkatan kereta. Fyiuh….alhamdulillah.

Sambil merenung di kursi kereta saya jadi berpikir betapa selama ini saya mendekatiNYA kebanyakan bukan karena rindu saya padaNYA, atau cinta saya padaNYA yang membuat saya membutuhkanNYA selalu, tapi lebih karena saya butuh DIA menolong saya dalam bentuk materi. Kok saya jadi merasa sebagai penjilat ya? mendekati hanya karena ingin sesuatu? Saya pikir itu adalah serendah-rendah iman yang dipunyai manusia.

DIA mencintai saya begitu besarnya tanpa pamrih, padahal saya tak menjanjikan apa-apa padaNYA dan saya hanya mendekatiNYA karena sesuatu??? Najisnya saya ini ……

Ya ALLAH, tolong saya mencintaiMU tanpa pamrih apapun, dan tolong jauhkan saya dari atribut duniawi sebagai landasan ibadah saya padaMU, karena saya hanya ingin mencintaiMU sekarang, dan membutuhkanMU dalam setiap tarikan nafas saya yang merupakan tanda nyata cintaMU.

11822532_1029633060382299_2923666596480229873_n