Ini soal anak2 laki2 yang hobbbiii banget pakai kata kata tak senonoh pada sobs nya. Misal: heh, bangke! PR halaman berapa? Halaman 23 nyet.
Atau “Njing, besok lu jemput gue ye”. Atau ”  gue gak ngerti omongan elo, lu pake bahasa babi soalnya”. “Ya iyalah dasar monyet gila!”

Saya suka senyum2 sendiri malah kalau dengar anak laki2 saya yg sudah abg itu mulai memakai bahasa “ngehek” dengan sahabatnya. Karena sebutan kurang ajar itu cuma mereka persembahkan pada orang dekat. Jadi tak ke sembarang kawan.

Saya sendiri ingin bisa leluasa bicara begitu ke sobat saya. Tapi .. Hehehehe… Ga bisa. Paling jahat cuma bilang: heh gilak! Udah di cek belum soal itu? Nyebut he monyong, ato njing! Kayaknya ga bakal baikan lagi deh. Langsung musuhan. Sakit hati. Itulah beda cewek dan cowok. Ikatan persahabatan cewek tuh lebih rawan pecah dibanding cowok yang cenderung kuat tahan banting.

Masalah ini kan saya bahas dengan adik2 saya. Dan ternyata merekapun tak bisa marah kalau anak laki2nya juga melakukan ini. Sama seperti saya, bisanya malah senyum geli dan puasss banget. There is something in it that we loooove to say but we can’t, just because the ethic code. It is somekind of fun you know…

Adik saya bilang begini : harusnya pakai bahasa ini ke suamimu kalau kalian argue. Well, secara psikologis dan karakter, anak laki2 use to say these terrible words to their closest friends only kan, jadi suami istri mustinya bisa juga do this. Not only closest but intimate friend juga soalnya jadi the most close friend.
Saya nyamber: jadi kalau misal suami bilang :  kamu tuh bla bla bla bla. Nah saya akan jawab : apa katamu??? Sorryy yaaa.. Saya ga ngerti bahasa babi!!!

Adik saya menjawab setelah menulis wkkkkkk. “Nampaknya suamimu akan segera cari psikiater buat ngecek apakah dia mulai ber mega delusi”
Ganti saya yang ngakak.

Tapi saya yakin, ada kepuasan penuh tersendiri kalau kita bisa sebebas itu meluapkan perasaan. Bisa lepasss tuntas semua beban.
Masalahnya mulut saya ningrat. Hehehehe tak biasa turun pakai bahasa selokan. Ada kode etik yang tertanam kuat sebagai ilmu di kepala saya bahwa ada kata kata tak pantas yang tak boleh diucapkan tak pada tempatnya. Mungkin most perempuan akan berperasaan seperti saya. Tak enak kalau pakai bahasa animal.

Awalnya saya marah pada abg saya itu atas bablasnya mulutnya. Tapi since saya baca buku yang mengulik soal boys, and bahasa anti santun adalah salah satu khas nya gender bersifat pemburu ini, ya akhirnya saya maklum. Toh mereka memang hanya begitu pada sobs nya saja. Bukan sob saya hehehehe…

Advertisements