Khusyu dalam sholat itu gak semudah nasehat, gak semudah teori juga. Karena kadangkala khusyu itu adalah pemberianNYA, menurut saya. Karena pada kenyataannya , rasanya memang begitu. Maka meminta dikhusukkan sebelum sholat itu adalah langkah tepat untuk membantu ihtiar.

Ada yang bilang, kalau mau khusyu kudu ngerti artinya. Ada yang bilang lagi, kudu inget besok mati, jadi ini sholat terakhir. Dan ntah apalagilah teori or nasehat2 yang seliweran soal mencapai khusyu.

Yang saya alami sendiri, dan ini gak berlaku universal maybe, adalah ke-khusyukan itu bisa dicapai melalui proses2 pada hidup, pada jiwa, pada perjalanan spiritual kita. Mungkin ini berlaku pribadi buat saya saja, tapi sholat saya ketika masih muda dengan saat sekarang tuh beda. Dulu, sholat seperti robot, ruh dan jiwa not included. Khusyu? not at all. Alih2 khusyu malah ngitung rakaat dan bacaan2 doa doa hanya meluncur begitu saja tanpa makna. Saya menghadap Allah, tapi tidak terjalin komunikasi. Frekwensi saya gak masuk di jalurNYA.  Tapi meski begitu, saat itu saya sudah tau soal nasehat2 how to be khusyu. Bukannya gak saya jalankan, saya jalankan tapi ya garing aja gak ngefek!!!

Lalu semakin tua, pengalaman hidup semakin beragam. Pencarian akan Tuhan semakin dibutuhkan sehingga jiwa ini haus ilmu pedekate. Proses yang berlangsung membentuk khusyuk kebanyakan tidak melalui kejadian2 suka cita dan riang ria, melainkan jatuh bangun, penderitaan, merana, sakit jiwa, mental illness, kepahitan, dan segala macam kegelapan masalah dunia .Masalah2 berat inilah yang punya andil membentuk arti khusyu, masalah2 yang tak ada ketika saya masih dalam penjagaan orang tua, masalah2 yang dulu di hadapi orang tua untuk saya, sekarang saya hadapi sendiri. Namun inilah rupanya yang berandil besar membuka jalur ilmu khusyu itu.

Barulah setelah berpuluh tahun dalam pencarian, khusyu itu saya mengerti. Ya benar harus tau artinya, benar harus tau tafsirnya, tapi diluar semua itu adalah menimbulkan rasa butuh kita atas komunikasi dengan Sang Khalik. Rasa butuh karena sadar kita tak bisa hidup dan bertahan dalam kerasnya hidup tanpa DIA, tanpa petunjukNYA, tanpa pertolonganNYA dan tanpa menenangkan diri dengan berkomunikasi denganNYA.

Shalat itu adalah fasilitas langsung jalur komunikasi ekslusif dengan Sang Khalik. Kalau kita khusyu, kita akan masuk di frekwensi yang tepat, dimana segala kenikmatan komunikasi terbentuk. Kita bisa sangat lepas curhat kepadaNYA diantara puja puji dan kesadaran penuh bahwa kita sedang didengarkan. Kekhusyukan ini mengambil alih hal-hal kerohanian dan meninggalkan dunia sejauh jauhnya. Saat2 seperti ini kita menjadi begitu betah berlama-lama, menyerahkan diri dan segala permasalahan hidup pada ke-AkbaranNYA. Tak akan ada habisnya. Sungguh berbanding terbalik dengan ketika khusyu tak tercipta; sholat secepat kilat dan sebisa bisanya segera selesai.

Begitulah khusyu itu, menurut saya. Dan bagaimana mengajarkan anak2 tentang khusyuk ini? mengenalkan mereka pada masalah, dan kebutuhannya akan ALLAH untuk membantunya menyelesaikan masalahnya. Membantu mereka mendeteksi problem, dan menunjukkan jalan keluarnya: sholat which is komunikasi and more than komunikasi karena ini hubungannya langsung dengan Sang Khalik.

f0f718dcb9b6f9e642246c1d64c553d9

Advertisements