11891267_10203367485828007_945985057532028438_n

Masa2 SMA itu, gak pernah kepikiran masa2 sekarang. Dulu itu yang dikepala cuma ngecenglah, naksir2an, hangout kemana sekarang? kapan ujian? udah foto copy catatan apa belum? atau issue ringan semacam siapa menghamili siapa atau siapa cium siapa di toilet sekolah :P Sungguh gak ada masalah2 berat kecuali kalau yang ditaksir ternyata naksir orang lain😛

Di kelas pun kita semua sama2 gak tau si A akan jadi apa, si B jadi apa. Sekarang? sekarang semua tau deh. Oooh si A ternyata jadi itu, si B meninggal already karena kanker payudara, si C jadi kolonel, yang anak jendral malah gak jelas jadi apa, si D wanita karier, ada yang jadi pengusaha, ada yang jadi istri pengusaha, ada yang nyalon jadi walikota, jadi dokter, dosen dan lain-lain, macam-macam.

Nah, yang sering juara di kelas ternyata hidupnya malah gak lebih baik dari yang suka mabal, yang gak pernah masuk 10 besar, atau yang terkenal biasa-biasa aja dikelas. Yang bahasa jermannya selalu no.1 se kelas, malah tinggal di kota kecil, sementara yang bahasa jermannya di kelas biasa aja malah sekarang tinggal dan kerja di jerman.

Yang NEMnya tertinggi ke-2 se-angkatan aja dan dapat medali kehormatan dari sekolah, ternyata gak jadi apa2. Biasa aja luntang-lantung stresfull😀, sementara yang grade-nya biasa aja ketika SMA malah hidupnya nyaman berkibar sejahtera.

Lalu kesimpulannya apa dong? Gak semua prestasi di sekolah itu adalah jaminan prestasi di kehidupan juga. Dan bahwa setiap orang itu sudah ada garis hidupnya masing2 dan ketentuan ini sudah dibuat sejak sebelum dilahirkan kedunia; tak ada yang bisa merubahnya, bahkan urusan takdir ini, Allah sudah mengeringkan tinta penaNYA; No correction. Cerita sudah usai ditulis, tinggal dijalani saja oleh pelakunya.

Lalu apa? lalu saya pada anak2 menjadi tak memaksa mereka harus bisa jadi juara atau bisa jadi inilah itulah, yang ternyata tak bisa jadi jaminan masa dewasanya. Jaminan hanya supaya dia naik kelas aja, bukan jaminan dia bakal jadi orang sukses kalau disekolah dia sukses. Oh well, ada sih yang “kebetulan” sukses di sekolah, sukses juga dikehidupan. Tapi itu gak sebanyak yang nasibnya “unpredictable”.

Saya jadi “ngeh” pada quote yang kira2 bilang begini: hiduplah hanya pada hari ini saja, karena masa lalu telah pergi meninggalkanmu dan masa depan bukan milikmu. If..(hhhh andai2 ini tak bole laa, dosa) saya kembali pada masa lalu, dan tau pasti bahwa toh saya tak akan jadi apa2 di masa depan, di tiap-tiap hari masa2 SMA saya, saya gak akan pusing2 mikir soal masa depan. Saya akan belajar tapi gak akan sakit hati kalau nilainya jelek. Saya juga gak akan nangis2 bombay karena gak masuk HI, saya gak akan ikut bimbel yang cuma bikin saya “capek” ternyata jadi belajar biasa aja, saya akan maksimalkan hari2 saya dengan menikmati hidup!!

But you know what,…. ada satu hal yang penting yang jelas2 bisa memberi kita jaminan masa “super” depan. Kehidupan ini begitu pembohongnya sampai2 kita dibuat kecele beribu kali, tapi Allah tidak. Menikmati hidup kalau dengan hangout itu gak menghasilkan apa-apa, harusnya ya ibadah!! ya sholat… ya puasa yang genah. Jaminannya jelas cuuuy…

Kehidupan gak menjanjikan apa2 tentang masa depan, tapi ibadah? iyesss. Masuk surga? pasti. Masuk neraka? emang mau? tapi pasti juga ada neraka itu.

Pengalaman ini membuat saya berpetuah pada anak2… bahwa ada satu hal yang jelas jaminannya dan utamakan yang jelas itu saja. Bahwa kehidupan ini memperlakukan kita “seenak udel” itu sudah kodrat. Dia bahkan tak bisa menjamin mau jadi apa kita? tapi jaminan dari rajin ibadah itu jelas: surga. Dan itu pencapaian tertinggi manusia, bukan jadi direktur, bukan jadi jendral, bukan jadi boss… bukan! Jadi penduduk jannah!! Itu yang harus dikejar, dan itu satu2nya hal yang ada jaminanNYA.

Saya menyesal, tak tahu dari dulu soal “aturan” kehidupan main2 ini. Tak ada yang memberi tahu dan sayapun tak mencari ilmu setinggi bintang. Sehingga disinilah saya… dengan kenangan masa SMA yang ternyata tak ada penjaminnya, dan rasa sesal mendalam tentang betapa tak bernilainya masa2 muda itu.

Jikalau saat muda itu, saya mengisi hari dengan kegiatan ibadah bernilai tinggi, pastinya biar saya tak jadi apapun dalam kehidupan ini, saya sudah masuk dalam jaminanNYA yang lebih pasti, di masa yang lebih depan lagi.

Semoga belum terlambat mengejar ketinggalan dan memohon ampunan atas kebodohan selama ini.

dont-just-do-what-i-tell-you-16-638Semoga belum….