Ternyata… makin tinggi level keimanan seseorang, makin sulit ujian yang harus ditempuhnya. Imbalan surga itu memang tidak mahal, tapi juga tidak mudah.

Kadang saya merasa takut kalau keadaan keimanan mulai up. Karena itu “bisa” berarti amunisi saya sedang diisi untuk dipersiapkan menghadapi peperangan yang lebih dasyat lagi.

Memang benar, Allah tak pernah mendorong kita maju menguji diri tanpa membekali ilmu terlebih dahulu. Itu sebabnya kita diuji tak pernah melebihi kemampuan kita sendiri. Tapi tetap saja butuh perjuangan untuk mempratekkan ilmu2 bekalanNYA itu. Ya kita harusnya bisa karena anak TK hanya diuji calistung dan bermain, anak SD ujiannya agak susah, anak SMP ujiannya susah, anak SMA ujiannya sangat susah , anak kuliahan super susah. Tapi ya itu tadi, sama halnya dengan seorang guru yang membekali ilmu, pastinya ujian kehidupan ini juga. Dan sama dengan guru yang menguji sesuai dengan ilmu yang diajarkan, maka kehidupan ini juga. Gak akanlah anak TK diuji oleh dosen…

Kalau surga itu 7 lapis sesuai dengan levelnya, saya pikir, ujian juga berlapis seperti itu. Ujian saya bukan apa2 ternyata jika dibandingkan dengan yang lain-lainnya. Tapi meski begitu, alhamdulillah masih diberi ujian, masih diperhatikan, masih diberi kesempatan, ntah buat mberatin amalan, ntah buat nebus dosa masa lalu.

Ujian saya ini rasanya bahkan belum mencapai target firdaus level terendah, meski buat saya ini sudah poll . Tapi kalau melihat betapa banyak orang lain yang ujiannya lebih berat…saya minder hhhhh. Tapi juga gak berani nantang… Allah tau kapasitas saya seperti apa, dan saya tak pernah tau. Allah selalu melakukan yang terbaik untuk hambaNya, dan saya malah mengeluh. Allah ingin menaikkan derajat saya, saya menolak. Allah ingin saya menebus dosa2 saya, dan saya marah???

Lucunya ketika kita berprasangka baik padaNYA, masalah2 itu seperti menguap…

Api itu menjadi sungai yang menyejukkan, ketika prasangka kita padaNYA menjadi kekuatan kita sendiri. Subhanaa Allah

96a644b92fd86d492fcd01f3cf0db99d

Advertisements