Ternyata memang susah menyampaikan kebenaran ya? menyampaikan soal ini saja bisa berantem. Ada yang gak suka, kebiasaannya dikatakan bidah. Saya pribadi sih ketika menemukan hal ini hanya bilang alhamdulillah saja, at least, ada yang bisa saya perbaiki ketika saya masih diberi kesempatan.

Jadi, ceritanya, dari semua kesaksian syeikh yang saya dengarkan dan mereka banyak mengacu pada hadist, bahwa dalam sholat2 wajibnya, rasulullah berdoa selama sholat dan bukan sesudah sholat. Yaitu setelah takbiratul ikhram, ketika sujud, dan sesudah atahiyat akhir. Bukankah memang posisi manusia paling dekat dengan Sang Rabb ketika sujud?. Lalu apa yang dilakukan rasulullah saw setelah sholat? zikir subhanaa Allah, alhamdulillah dan allahu akbar, lalu membaca beberapa ayat qur’an seperti ayat kursi.

Beberapa syeikh (lihat vid attach) tegas2 menyatakan, berdoa sesudah sholat itu bid ah, yang benar adalah selama sholat. Mereka cukup tegas soal ini karena ini masalah ibadah, bukan yang lainnya. Kalau saja memang berdoa adalah sesudah sholat wajib, nabi pasti sudah mencontohkan begitu. Tapi nabi tak pernah melakukan itu. Sunnah nabi ialah berdoa ketika selesai takbir, pas sujud, dan sesudah atahiyat akhir. Selesai solat, selesai pula doa-doa beliau.

Yang membuat saya sedih dari kenyataan ini adalah bahwa saya tak bisa berbahasa arab ketika harus berdoa padaNYA atau curhat padaNYA dalam posisi sujud (posisi paling dekat denganNYA). Aneh kan ketika asik asik arab lalu masuk bahasa indonesia. Gimana nih? gak sopan banget kesannya. Apalagi ibu saya bilang, tak bole pake bahasa kita kalau lagi solat, dia tau dari ustadnya katanya.

But then, ternyata boleh saja menurut ustad Muhammad Salah (vid attached), 80% muslim itu bukan orang arab, so, sepanjang kita gak mengganti bacaan2 sholat wajib dengan bahasa ibu, dan kita hanya pakai bahasa ibu ketika mengucap doa pribadi, selama sholat dalam 3 posisi tersebut, bole2 saja. Waah… lega deh saya. Kalau tau ini dari dulu saya sudah pasti akan melakukannya dari dulu juga. Kalau posisi terdekat kita dengan Allah adalah saat sujud, dan kita bebas berbahasa denganNYA, saya sudah pasti akan banyak curhat dalam posisi paling menghamba dan pasrah seperti itu… bukan posisi duduk menadahkan tangan sesudah solat.

Tapi ada juga ustad  yang tak menyatakan bahwa perbuatan tadah tangan after solat fardu itu bidah, dia bilang bole aja doa after sholat selama itu bentuk worship, tapi yang jelas, nabi gak melakukannya. Dan dia gak berani bilang itu bidah karena itu masih dalam bentuk worshiping. Sementara ustad lain menyatakan bidah secara keras.

Mungkin ini memang hanya perbedaan mahzab saja, sehingga ada ulama yang keras menantang dan ada yang biasa2 aja.

Cuma logika saya adalah, doa kan bisa diucapkan dimana saja , kapan saja, bahkan saat hujan doa akan menjadi sangat makbul, jadi kalau dilarang doa sesudah solat HANYA karena rasulullah tak pernah melakukannya, apa susahnya diikuti? toh kita sudah berdoa selama sholat? boleh doa dengan bahasa sendiri lagi, gak kudu pakai arab. Apa susahnya mencontoh rasulullah saw? bukankah kita lebih baik mengikuti yang jelas daripada yang meraba-raba? atau yang turun temurun, atau yang hasil analisa opini seseorang?, walahuallam.

Saya cuma menyampaikan saja sih, soal diterima atau tidak, gak urusan.

Jadi, buat saya pribadi, ini koreksi . Saya akan merubah cara saya yang lama, dan memulai yang baru yang in shaa Allah lebih benar.