Beberapa kawan akan mencemooh masalah2 kita, beberapa lagi tak peduli, beberapa ikut prihatin, beberapa ikut memikirkan mencarikan solusi, beberapa langsung aksi membantu, beberapa tak tau harus berbuat apa, beberapa memuji dan beberapa hanya basa basi prihatin. So many kind of friends we have and easy for us to evaluate what kind of friend they are.

Sebagai wanita, curhat itu kadang bukan untuk diberi way out. Tapi hanya untuk didengarkan. Tak lebih. Tidak untuk dinilai, tidak untuk di “ikut prihatinkan”, tidak juga untuk dinasehati. Saya pribadi kalau cerita tuh ya cerita aja, gini lo kondisi gue. Udah cuma mau bilang itu aja sebetulnya. Begitu dinasehati biasanya langsung nolak, karena usually saya tau harus apa. Atau ketika ikut diprihatini , what for? saya gak minta dikasihani kok. I am taugh kok. Saya bercerita gak sambil mewek… sambil ngopi malah!

Ada teman yang saya suka responnya jikalau saya curhat, dia tak mengejek atau merendahkan saya, tidak juga mengasihani, sebaliknya, dia menciptakan humor dari masalah itu. Alih alih saya tambah bete, pembicaraan malah jadi riang gembira. Jadi rupanya saya lebih suka “penunjukan perhatian” dengan cara koboy. “Napa gak lu hajar aja sekalian pake panci?” misalnya, dan kami terbahak. Kami terus membahas masalah dengan humor, sampai di titik yang saya lalu merasa beban lepas menguap. Mungkin karena banyak tertawa sekaligus banyak menyelenehkan masalah. Begitu juga dia terhadap saya. Saya agak lebih serius kalau dia yang curhat, biasalah emak emak kan emang gitu. Tapi ya gak menggurui juga. Saya lebih suka bertanya daripada menasehati, terus bertanya sambil mengarahkan dia ke penyelesaian masalah yang kemudian dia sendiri yang menemukannya. Jadi gak ada efek menggurui.

Oh well… orang memang berbeda, thats why kita tau dengan siapa kita merasa nyaman.

Kawan itu adalah yang saling mendukung dan mengingatkan… empati tapi bukan mengasihani, menasehati tapi bukan menggurui…dan selalu ada dalam kondisi apapun.

62731e828a0878f771c9d84fe7f2c342

Advertisements