Aku cuma minta yang sederhana tapi memang butuh disiplin untuk melakukannya, sehingga ketika disiplin itu lepas dari tanganmu, yang sederhana itupun menjadi rumit

Aku cuma minta yang sederhana, tapi kadangkala nafsu angkara yang bersemayam di dalam hati bisa meledak kapan saja, jadi yang sederhana itupun menjadi petaka

Aku cuma minta yang sederhana, tapi ego datang sesuka hati mengutak atik yang sebetulnya tak perlu, sehingga konslet menjadikan yang sederhana itupun terbakar

Aku cuma minta yang sederhana, selalu sederhana saja, karena aku mengerti batas-batasmu, tapi  kadangkala pengertianku kau anggap begitu sepelenya sehingga yang sederhana itu menjadi sulit untuk dilakukan

Aku cuma minta yang sederhana, tapi kau melihatku dari cara pandang yang berbeda, sehingga permintaanku menjadi tak sesederhana yang seharusnya

Aku selalu sederhana dalam berlaku atau meminta, sesederhana itu hingga sering tak dianggap dan terlupakan, lalu yang sederhana itu menjadi mustahil ada

Aku selalu minta yang sederhana supaya tak menyulitkan siapapun, kecuali kau sendiri yang membuat sulit sehingga yang sederhana itu menjadi begitu beratnya

Kadang aku berpikir, apakah sederhana itu masih bisa didefinisikan lebih lebih sederhana dari yang sederhana? tapi tak ada lagi kata lain yang lebih sederhana dari sederhana. Itu sudah mentok

Lalu aku bertanya pada Tuhan: Tuhan? apakah aku terlalu berlebihan dalam meminta yang sederhana? Apakah sesulit itu kata sederhana? Lalu harus sesederhana apalagi yang bisa aku sederhanakan lebih? apakah aku memang tak harus punya permintaan ? bahkan yang sederhana sekalipun?

Tuhan menjawabnya lewat pikiranku sendiri : sesederhana apapun permintaanmu, manusia tak akan bisa mengabulkannya karena  manusia memang bukan tempatnya kita meminta, tapi..

DIA, Tuhanmu…

016e8ae69e9713b271235c1db9ee784c

Advertisements