Pada suatu hari, ketika saya berbelanja di pasar dan sudah agak siangan sehingga suasana cukup sepi, muncullah sebuah becak. Tukang becaknya turun, dan penumpangnya , yang rupanya istrinya dan anaknya (masih di gendong, masih kecil) ikut turun. Mereka berdua nampak bahagia.

Saya mencuri pandang mencoba memperhatikan sambil pura2 sibuk milih kentang. Si istri masih muda dan beraut wajah manis bahkan cenderung cantik. Tapi wajahnya kotor berdebu, rambutnya diikat satu awut2an karena kebanyakan kena angin dan gimbal seperti tak pernah disisir bertaun taun. Kakinya telanjang dan superrr kotor. Kalau dicuci pasti airnya hitam seperti comberan. Bajunya suppperrr lusuh. Dalam hati saya, ni cewek kalau bersih lalu dandan, dia pasti cantik dan banyak laki2 yang suka karena badannya yang proporsional dan kencang seperti badan wanita negro. Anaknya tak kalah jorok dengan ibunya.

Ayahnya agak bersihan. Khas tukang becak dengan handuk kecil meliliti leher plus topi. Bercelana butut selutut dengan kaos tipis lusuh, warna putih yang sudah nyoklat, bersendal jepit yang harusnya kudu dibuang karena sudah soak banget.

Tapi ya… mereka saling melempar pandang dengan mesra, dan saya sering melihat istrinya tersenyum malu2. Memamerkan giginya yang seperti tak pernah digosok sejak lahir, duuuuh…

“Beli tempe mbak satu” kata si bapak, lalu memandang mesra ke istrinya, bertanya ” mau beli apa lagi?” istrinya balas memandang dan malu malu bicara sambil tersenyum senang “pengen labu siam”. Si bapak berucap pada penjaga warung sayur ” Sekalian labu siem satu ya mbak”. Istrinya tersenyum senang sekali karena dibelikan apa yang dia inginkan. Tempe dan labu dimasukkan dalam keresek hitam. Sang istri mengambil kresek yang diserahkan padanya dan dengan langkah gembira kembali ke becak lalu duduk manis menunggu suaminya membayar.

Saya lihat si ayah mengeluarkan segenggam uang lecek yang sudah diunyel unyel, uang dengan nominal paling besar 5rb. “Berapa semua mbak?”. “Tempe 4 ribu, labu siem seribu jadi 5 ribu pak”. Sang istri nampak menoleh memandang suaminya dengan mesra. Suaminya lalu membayar dan bergegas pergi mengayuh becak dan saya pandangi sampai mereka jauh…

Ya ampuuun, kemiskinan ternyata tak mampu menghilangkan kemesraan dua orang suami istri itu ya? bahkan istri sejorok itu oleh suaminya nampak dimanja sekali, dan istri sejorok itu nampak begitu pedenya pada sang suami yang memang nampak sangat mencintainya.

Cinta karena Allah itu mungkin begitu, kalau cinta bukan karena Allah, biasanya pamrihnya macam2 dan banyak banget alasan2 yang berada dibalik cinta, yang alih2 mengeratkan cinta, malah merenggangkan cinta bahkan memutuskan tak cinta lagi.

Mungkin seperti itulah hidup yang barokah, yang bisa mendapatkan “lebih” dari yang sedikit. Kadang2 memang bukan banyak atau sedikitnya yang menentukan bahagianya hidup itu, melainkan barokah yang dikandungnya.

Luar biasa…. mata pelajaran hidup super berat yang harus ditekuni untuk dikuasai…

Advertisements