My sista, Iyang, posting something tentang narsis, mengingatkan saya pada teman kuliah yang sering kami bulli di grup kampus karena superrr narsis.

Dia belum lama sih buka akun di medsos lapak biru, tapi dalam hitungan hari dia buka akun, isinya foto diaaaaaa semua!!! tak ada postingan yang bukan “muka dia”. Mungkin karena dia begitu menghayati kata “facebook”, sehingga dia merasa bahwa it is face yang harus di posting di lembaran maya buku medsos, dan bukan yang lain, dan yang lebih penting lagi adalah, it must be her face!!!

Awalnya saya rajin nge-like foto dia. Dan ketika kawan2 protes karena semua yang saya like, naik ke stream mereka, dengan entengnya saya bilang : Kasihan dooong, udah usaha usaha cantik masa gak di like? membahagiakan orang kan dapat pahala. ” SOmplaaaKKK lu naaaaaaaaaaaaa!!” hujat kawan2 saya dengan berbagai macam emoticon emosi.

Tapi sumpah saya juga gak tahan lama2. Bayangin, dia poto di pohon aja ada kali 10 gaya: gaya nungging, gaya gelantungan, gaya sembunyi, gaya tatap-tatapan dengan batang, gaya bertengger (sok sama ma burung), dll dll dengan ekspresi yang sama. Everyday dia apdet statusnya dengan berenteng-renteng foto dirinya ” Me in blue” ada 5 renteng deh tu dengan ekspresi sama, gaya yang sama, lokasi yang sama. Tak berapa lama “Me in red” another 5 renteng foto . Kapan2 dia posting lagi ” Me while sport” lalu berderaaaiii deretan foto2nya dengan pose2 olahraga tapi gak pakai baju olahraga; adalah yang ngangkang kakinya, adalah yang model nungging, adalah yang gaya kegel, dan beragam gaya senam lantai. Oiiii maaaakkk jaaaang… gak pakai mikir langsung saya mute postingan cewek yang menghabiskan SMA nya di Australia itu. Saya gak tahan lagi!!!!

Duniapun rasanya terang benderang ketika stream saya terbebas dari postingan sengkuni narsis satu itu. Tapi di grup, dia tetap jadi bahasan. “Heeeeyy everibadiiih, liat gak penampakan terbaru???” jreeeeng bermuncullah komentar2 berbau ghibah yang kadang2 susah saya hindari untuk gak ikutan “nimbrung” , astagfirullah.

Terus terang saja, kamipun di grup bukannya gak suka narsis, kami suka juga. Tapi ya gak menggila seperti itu yang bikin orang lain mual, muntah, sakit kepala, kembung, atau mati mendadak. Selalu ada yang berbeda dari hasil2 jepretan narsis kami. Beberapa kawan malah piawai memberi sentuhan2 seni sehingga mau narsis sesering apapun dia, tetap saja kita gak protes liatnya, ya karena bagus!!!! Kadang malah minta “di retouch” sama dia supaya hasil narsis bisa tampil “tak biasa”

Somehow ada orang2 yang narsis dengan bercerita dibalik foto2 narsisnya itu. Kadang di gunung, kadang di laut, kadang di pasar, kadang di luar negeri. Banyak juga yang narsis seperti itu, but… tidak boring liatnya. DIa bangga dengan dirinya dan kami yang melihatpun tak keberatan, karena memang bagus yang menjadi kebanggaannya itu. Gak seperti kawan saya ituuuu “me in red”, me in blue, me in black, me in car, me in kitchen, me in school, me in home, me bla bla bla.. ..

Ada lagi tipe narsis yang pamer kekayaan, itu adaaaaa. Ada yang narsis pamer kemesraan, adaaaaaa. Ada yang narsis pamer baju dan tas yang mix match, adaaaaa. Ada yang narsis pamer makanan2 di resto2 mewah, adaaaaaa.

Saya sendiri tak tau masuk di kategori narsis apa. Kumat2an sih kalau pengen narsis. Gak setiap hari juga, gila apa??? tapi kalau ngoprek foto yang ada itu suka banget, kalau lagi diem2 gak ada kerjaan pasti ngoprek foto. Kadang2 foto kawan2 saya oprekin kalau bener2 udah kehabisan stok foto oprekan muka sendiri :D. Ternyata lebih suka ngoprek daripada take pic đŸ˜›

7f9deaa404b52df1a5201599f75b9d93

Advertisements