Mungkin bawaan datang bulan jadi kemarin tuh malaaaasssss banget mau ngapa2in. Maunya juga marrrraaaah aja.

Malasnya saya ini nular ke urusan sholat. Really kemarin saya ditunggangi si korin. I knew it, but I was too lazy to fight and my imaan was so low too. I sit silently, did nothin and thought : ” What happend to u lady? isnt it life is about struggling? every minutes is a struggle? well fight now! win your battle”. Sadar saya mikir juga, jihad itu adalah menaklukkan nafs mu sendiri. Kalau kita mau sedikit cermat dengan perasaan kita, ntah berapa ratus kali dalam sehari jin menggoda kita dari nafs kita sendiri, atau mata kita melihat banyak hal yang lalu masuk ke hati lalu konek ke nafs atau kuping kita mendengar sesuatu trus konek lagi ke nafs, lalu jadi ujian. Begituuu teruuus berulang ulang.

Ujian ratusan kali itu sebetulnya bermuara disatu hal saja : SABAR. Ketika saya begitu bernafsu membantah, dan saya tau membantah orangtua itu salah, saya harus menelan nafsu saya untuk membantah itu bulat2. Saya harus mau diam, HARUS!! tapi untuk diam, ada yang saya lawan keras2, yaitu keinginan besar saya untuk melawan.

Atau ketika saya begitu ngantuknya tapi harus melakukan sholat dhuhur. Saya harus berjuang melawan keinginan saya untuk tidur. Atau ketika saya harus memilih : memberi senyuman atau merengut?? saya harus fight utk tersenyum meski saat itu saya begituuuuu inginnya merengut.

Di media, dimedsos itu banyak sekali setannya. Kalau lagi beruntung debat dengan orang sopan, biasanya fight nya gak begitu berat dengan nafsu. Tapi giliran orang yang mulutnya sekotor comberan menjadi lawan debat, ujian paling berat adalah untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan. Dan menelan keinginan itu bulat2 , sebaliknya bertahan untuk tetap santun dan sopan itu bukan perjuangan yang mudah. Itu sebabnya hidup di medsos kalau bawaannya lebih banyak mudhoratnya lebih baik ditinggal sekalian (dan untuk meninggalkannya itu juga perlu perjuangan berrraat). Tapi kalau banyak manfaatnya ya jadikan ilmu yang berguna.

Jadi jihad terbesar itu adalah menaklukkan diri kita sendiri ntah berapa kali dalam sehari.

Dan kemaren, ketika jin korin begitu menguasai saya, di saat2 puncak, dimana waktu sudah menunjukkan tengah malam, orang2 sudah pada tidur, artikel pak ustad ini muncul di stream saya:

11224568_10153645282084089_2832258055294167050_n

Kalau saya lalu merasa Allah masih memperhatikan saya, apa saya salah? apa berlebihan?? karena nasehat yang saya baca itu adalah yang saat itu sedang saya rasakan. Saya tak lagi menunggu waswasa jin korin karena penundaan berarti memberi dia kesempatan utk meniupkan kesesatan kembali. Segera saya bangkit, berlari ke kamar mandi dan mandi besar untuk mengusir pengaruh korin dari kepala hingga ujung kaki saya. It’s jam 1 malam, saya tak peduli. Saatnya menghukum si korin dan melatih nafs saya untuk tunduk pada cahaya hati.

That enlightening comes from HIM The Almighty as A Giver and me as a receiver. The brightness make my korin cried, I win my battle at that time!!! yay!!!!. Syukurin kau korin!!! kali ini aku yang menang!!!!

I made my sojood then…. it was my last sojood because in the morning, I was off to pray , masyaa Allah. Can you imagine if that night was my last night because I died??? and I did not make out my battle?

Allah My Lord….please guide me always , and please never ever leave me, please remind me always, please enlighten me always, please love me always……  I love YOU so much…..