Sudah sejak dua hari ini saya rajin mendengarkan ceramah pak Imran Hosein yang durasinya rata2 2 jam-an. Pikiran saya sudah bulat tentang siapa sesugguhnya musuh saya. Ego saya (termasuk nafs), Korin saya, dan dajal beserta antek2nya.

Maka ketika saya masuk kembali ke stream medsos saya dan membaca hal2 tentang fitnah ini itu, syiah begini begitu, wahabi, rasial, sara, rupiah, dll dll, lalu orang2 saling mendebat ini itu, tiba2 yang biasanya saya hasrat banget ikutan urun rembuk meramaikan kolom2 komentar, malah surut, menyusut, mengkerut. Feel so dumm, so stupid and so foolish talking about that stuffs.

Sebetulnya ini sudah berkali-kali terjadi pada saya, keinginan untuk tak mengurusi hal2 yang wasting time sekali dan seolah-olah mengikuti maunya dajjal. Tapi selalu ada saja yang bilang : membiarkan kebatilan dan mendiamkan kejahatan juga bukan perbuatan baik. Selagi kita bisa menyampaikan berita yang sebenar-benarnya, mengapa tidak? bukankah kita harus menyampaikan apa yang benar? tentang diterima atau tidaknya bukan menjadi urusan kita?. Just deliver it and leave it. Kalau tidak nanti kita malah dimintai pertanggung-jawaban, kena pasal: tak menyampaikan kebenaran yang kita ketahui. Karena kadang2 memang mereka tak tahu atau belum tahu.

Dan malas2an akhirnya saya “kembali” lagi.

Buat saya, internet ciptaan zionis ini, mestinya bisa digunakan sebaik mungkin untuk mengisi ilmu2 akhir jaman dimana menjadi jaman saya sekarang, dan saya menstransfer ilmu itu ke anak2. Terus terang tanpa internet, saya ini seperti katak dalam tempurung karena tak suka bergaul atau ikutan pengajian kemana mana seperti ibu2 lain. Panduan ilmu saya adalah ceramah2 dari syeikh2 dengan kredibilitas bagus dan diakui internasional. Mereka termasuk jajaran scholar dunia yang mau berbagi ilmu lewat internet. Alhamdulillah saya masih menemukan orang2 ini. (so, internet ciptaan zion ini seperti pedang bermata dua untuk mereka para zionists , hah! emang enak?!!)

Tentu saja saya berhati-hati dengan mereka para scholars . Jadi sebelumnya saya coba cari tahu siapa orang2 yang bakal saya serap ilmunya itu. Mencocokkan ajaran mereka dengan Quran dan sunnah, lalu memutuskan apakah mereka layak didengar atau tidak.

Dan ternyata mahzab yang mereka anutpun kadang berbeda satu dengan yang lainnya. Ada yang aliran wahabi, ada yang salafi (tak ada syiah hehehehe), jadi di beberapa kasus mereka bisa berbeda pendapat bahkan sering juga saling tuding. Tapi ini tak masalah buat saya, saya merasa nyaman yang mana, itulah yang saya ikuti. Bukankah Islam itu mudah? sama halnya dengan perbedaan2 yang ada di Muhamadiyah atau Nahdatul Ulama misalnya. Sejak tahun jebrottt jaman saya TK, dua pentolan payung Islam di nusantara itu sudah sering berbeda dalam hal2 tertentu, tapi saya ikut yang saya suka saja sesuai dengan ilmu yang Allah beri pada saya. Bagaimanapun tentang kecenderungan pilihan, itu urusanNYA, bukan kita. Urusan kita cuma “we do our best”. Kita sudah menganalisanya sesuai ilmu kita, dan kita menjatuhkan pilihan untuk ikut yang mana then thats it. Begitu juga halnya dengan mengikuti mahzab2 sahabat2 Nabi saw.

Sesungguhnya yang perlu kita persiapkann saat ini adalah diri kita sendiri. Bagaimana supaya tak terikut dalam rencana2 dajal dengan semua inovasi teknologinya, bagaimana supaya tak terjebak dalam permainan trik politik dajal dalam melemahkan Islam, bagaimana supaya sesama muslim tidak saling membenci, bagaimana mengingatkan mereka siapa sebenarnya dalang dibalik semua kekacauan dunia ini, dll dll yang bersifat jauuuh lebih urgent dan lebih luas dari sekedar mengurusi presiden dan pemerintahan ini.

The funny thing is, tak banyak yang tertarik kalau masalah dajal di lempar sebagai bahan diskusi. As if dajal itu tak ada atau cuma berupa simbol2 belaka. This amazes me! really… somehow i feel like crazy woman who believe in the existence of dajal, but I am not crazy…. my phropet saw had already said about him, the dajal, why they resist to talk about it???

Saya merasa seperti seorang pecundang tiap kali mengangkat masalah dajal atau bicara soal dajal. Lucu bukan? Orang2 seperti melihat saya dengan pandangan aneh. Dan ini yang membuat saya semakin yakin bahwa manusia memang dibuat “tak tertarik” dengan urusan dajal karena pasti ada alasanNYA tersendiri yang walahuallam bi sawab sayapun tak tahu apa.

So… alhamdulillah saya nge-fans berat dengan cerita soal dajal ini…dan menularkannya pada anak2, Harapan saya tak jauh2, cukup orang2 dekat saya saja yang bisa saya gapai saja yang saya jejali soal dajal ini, terutama anak2 saya. Saya ingin sekali mereka sadar tipuan2 apa saja yang bisa menjebak mereka, termasuk inovasi2 teknologi yang semakin lama semakin menjauhkan mereka dari orangtua dan agama. Semakin mereka tak terpisah dengan internet,semakin mereka tertutup, semakin mudah mereka di brainwash melalui game2 dan segala jenis hiburan dimana ajaran2 sesat bisa “nyaru2” seperti bunglon.

Gitu aja.

0e857a5914ad7554d8d794c555def613 f15f437dcffee3af5a7e901720beb8c5

56e0890dd018211dd7aff10dbc7db104 (1)

Advertisements