Debat… saya pernah debat dengan adik2 saya….hehehe. Soal geniusnya mereka ya jangan tanya.. yang satu cumlaude di jurusan komunikasi, yang satu arsitek yang otodidak di TI…yang satu lagi  jebolan matematika dari universitas bergengsi di negeri ini, sementara saya? saya bukan siapa2…. cuma seorang produk gagal saja hehehee. Sampai kepancing sebel menjurus ke marah? seriiiing hehehehe. Tapi kalau sudah super hot biasanya yang “jago komunikasi” ini akan teriak “I love you!!!” remember that. “oke! oke…. lets calm down.. we love each other”. Hening. Hahahahaha. Dengan kata lain : agresor marah terhadap seseorang itu gak pandang ilmu, tukang becak bisa debat dengan seorang menteri, semau-maunya. Seorang ahli bahasa dengan seorang ahli bangunan, bisa. Seorang anak kecil umur 10 tahun dengan emaknya umur 50 tahun, bisa!

Anyhow, soal debat ini sudah dibahas di Qur’an juga. Allah Maha Tahu bahwa manusia akan berhadapan dengan situasi ini dengan siapa saja, itu sebabnya Rasulullah sampai bolak balik mengingatkan : kalau debat hanya meninggalkan benci dan kemungkaran, jauhilah… saking beratnya menjauh dari situasi ini, sampai2 diimingi rumah di jannah. Wew… beratnya “mengalah untuk menang itu ya”.

Kenapa ? kenapa sampai dijamin mendapatkan rumah di surga pabila menjauhi debat kusir? Mungkin , “Hurt feeling” adalah resiko paling fatal yang kita hadapi selama debat, yaitu  menyakiti perasaan sesama saudara, dan sebaliknya, resiko kita disakiti sesama saudara,. Dan tak ada pedang yang bisa menyamai tajamnya kata2, apalagi dalam posisi debat. Kadangkala kita merasa “sakit hati” dari penilaian terhadap “pemikiran” kita itu saja, itupun padahal sama sekali tak menyinggung pribadi kita (meski kadang2 kesinggung juga dan ini jauh lebih edan Hurt nya). Mertua saya seorang pendidik, satu nasehatnya yang saya tak pernah lupa: “Jangan pernah menilai SIAPA yang berbicara, tapi nilailah APA yang dibicarakan. Fokuslah ke masalah.” Ini semacam “pagar” yang menjaga supaya kita gak lost track ketika membahas sesuatu lalu muncul ketidaksepakatan. Karena alih2 mendebatkan suatu pokok masalah, malah jadi benci ke pribadi lawan bicara, dan BUUMMM… target utama bukan lagi mencari way out, melainkan HE hurts me so I have to hurt him back!! with NO MERCY!!!!

Banyak kok yang mengalami hal2 semacam ini, karena memang sudah digariskan bahwa manusia akan masuk pada situasi ini kapanpun dan dimanapun , lihat saja status teman yang satu ini :

Alfathri Adlin
Fungsi lisan di media sosial saat ini seringkali hanya untuk berperang dan meraih pengakuan: ‘Saya yang beragamanya paling benar, dan yang tidak beragama seperti saya, semuanya salah dan sesat. Gak percaya? Nih, kata ulama anu dan ulama itu begini begitu, dan itu fakta; maka saya benar dan Anda salah. Oke? Terima itu jadi fakta. Titik!’… Oke deh para pemuja ego berkedok agama dan dalil pinjaman dari sana sini hasil googling, para santrinya mbah Google, saya beri saja soundtrack dari Pantera berjudul Mouth for War….Hold your mouth for the war

atau ini :

Erizeli Jely Bandaro
Suatu saat saya bertemu lagi dengan sahabat yang saya kenal melalui dumay. Ketika bertemu dia terkejut karena saya nampak tidak berubah terhadapnya. Padahal dia menyimpan amarah dan kecewa karena saya block pertemanannya. Dengan tersenyum saya katakan bahwa saya tidak marah atas sikapnya. Juga saya tidak membencinya. Saya bisa menerima karena semua orang berhak bersikap terhadap saya. Kadang didunia maya orang tidak sadar bahwa ketika jarinya bergerak mengetik comment atau status ,dia sedang berhadapan dengan ribuan atau bahkan jutaan orang , yang siap menilainya dan bersikap terhadapnya.

Sayang..tak ada sedikitpun didalam pikiran saya merendahkan mu ketika saya mem block. Tidak ada. Sekeras apapun perbedaan, saya dapat terima. Tidak pernah saya balas makian dengan makian.Sarkasm dengan sarkasm. Tidak pernah,kan. Namun tidak semua orang sama dengan saya.Kadang ketika kamu membuly saya lewat satire atau sarkasm, comment mereka terasa keras dan merendahkanmu. Itulah sebabnya mengapa kamu saya block. Karena saya mencintaimu dan tak ingin kamu dipermalukan oleh orang lain hanya karena kamu membully saya.

Saya sadar bahwa saya bukanlah pribadi yang sempurna dan sekeras apapun saya berusaha sempurna tak akan pernah saya gapai. Apalah saya yang bagaikan debu.Saya hanyalah pria tua yang menyedihkan.Generasi yang gagal menghalangi penguasa merusak alam.Generasi yang membiarkan penguasa negeri ini terus berhutang untuk memanjakan rakyat tapi lupa mendidik rakyat mandiri, sehingga generasi kini mejadi paranod.

Saya hanyalah seorang yang tak layak dibayar sebagai karyawan swasta atau negara. Bukan pula lulusan universitas terbaik.Bukan pengusaha berkelas kongklomerat yang selalu berbangga diri dengan kemewahan hidupnya. Tak ada yang bisa saya banggakan sehingga pantas menegakkan dagu dihadapan siapapun. Seumur hidup saya hanya berusaha menjadi sahabat siapapun, yang mau meneirma saya dengan segala kekurangan saya.

Andaikan dengan saya block ,kamu terus membenci saya tanpa pernah bisa memaafkan saya, maka kamu tetap saya cintai dan maafkan. Andaikan kamu pergi dari saya,saya akan selalu menantimu.Andaikan kamu tak ingin menegur safa, saya tetap akan menyapamu. Andaikan kamu merasa senang membully saya maka lakukanlah terus. Andaikan karena fitnah dan bully berhasil membuat semua follower saya hilang dan tak ada lagi friendlist saya,maka saya tetap mencintaimu dan tak akan menyesali itu semua,sayang..

Karena , sayang..kita tidak butuh sejuta sahabat yang memuji kita. Kitapun tidak perlu resah bila sejuta orang membenci kita. Kita hanya butuh Tuhan dihati kita dan cukuplah Tuhan sebaik baiknya sahabat bagi kita, dan berbuat karena itu… ya kan sayang…

See? we are not alone. Take this as a lesson, a trial and an error, to get and to become a better person. It’s when seseorang terlibat konflik ketidaksepakatan dengan pemikiran kita, jadikan “praktek” menahan diri untuk tetap sopan, in control, dan memilih milah bahasa yang kira2 tak menyakiti dan tak berbau serangan. Not easy but.. kalau berhasil, in shaa Allah kita akan menjadi lebih sabar dan lebih bijak.

Saya sendiri? saya bukan komunikator bijak, belum. Saya masih belajar untuk manjadi bijak dengan cara saya sendiri. Tak ada marah, tak ada sakit hati, tapi saya perlu waktu untuk kembali ke titik nol dan mencari ilmu dulu untuk memperkuat kelemahan yang satu ini. Sometimes, ketika dalam pembelajaran dan pencarian ilmu itu, silence is gold🙂. Kita bisa “selamat” dari banyak kemungkinan dan kesempatan menghancurkan atau dihancurkan.

Mari belajar dulu, and put the guns down for awhile…..

12188926_982714798454478_42990890601202742_n

Rasulullah SAW bersabda:

Berhati-hatilah kalian terhadap dzon (prasangka), karena prasangka itu adalah sedusta-dusta perkataan. Janganlah kalian saling mencari-cari kejelekan (tahassus), saling memata-matai(tajassus), saling hasad, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian, wahai hamba-hamba Allah, orang-orang yang bersaudara. –H.R. Bukhari No. 6064