Saya sudah bilang, taktik dajjal itu memecah belah umat, saya taunya dari Syeikh Imran Hosein, bukan hasil ngarang2 atau analisa orang yang gak jelas. Tapi orang2 itu tetap saja gontok-gontokan sama-sama merasa benar. Saya tak menyalahkan karena pada satu masa, saya pernah ada di posisi itu. Posisi pikiran sempit yang melihat perpecahan hanya dari sisi Islam nya tok. Jadinya yang dituding tuding sebagai kafir malah sesama sepayung, sama sekali saya gak sadar ada skenario besar dibalik semua adu domba ini.

Saya jadi mak jleb ketika tahu bahwa Islam terpecah menjadi sekian sekte, begitu juga nasrani begitu juga Yahudi!!! Pikiran saya membawa saya pada salah satu ayat di Qur’an yang bilang bahwa kawan orang muslim yang paling dekat itu adalah para ahli kitab, yaitu “nasrani” (tertentu) dan yahudi (tertentu), jadi diantara mereka yang juga terpecah belah, ada yang bukan musuh Islam melainkan “sekutu” Islam yang kelak akan bersama-sama melawan dajjal. Who are they??? Kebanyakan mereka ada di Rusia (demikian menurut Ustad Imran Hosein).

Tiba-tiba setelah menyadari kenyataan itu, saya seperti tercerabut dari pikiran sempit saya dan melihat lebih luas lagi. Pertama, kita tak diberi hak untuk “menghakimi” siapapun, kedua, kita diperintahkan baik dan manusiawi kepada siapapun, ketiga, kita diminta melihat dengan hati dan pikiran tentang siapa musuh utama kita, keempat, kita diminta dakwah dan saling menasehati terutama pada sesama muslim apapun alirannya bukan untuk “merubah” melainkan hanya sebatas memberi masukan sebab Allahlah yang Maha Perubah dan yang paling berhak merubah.

Saya menjadi surut kebelakang, tak lagi berani koar2 soal sekte atau mahzab yang tak sesuai dengan yang saya anut. Saya takut salah menuduh meski bukti2 banyak bertebaran, tapi saya tak tahu mahzab yang mana yang super salah? jangan2 malah mahzab yang saya anut? >_<. Kalaupun memang orang2 itu salah, bukan hak kita menghukum dan menghakimi mereka, hak kita adalah “mendakwahi” mereka, mengingatkan pelan2.. mengajak pelan2 untuk kembali ke jalan yang benar… sama seperti ketika kita berhadapan dengan orang2 yang kita anggap sesat atau salah. Bukan menghabisi mereka. Begitupun hanya sebatas itu kita bisa usaha, selebihnya Allah yang akan memutuskan apakah mereka mendapat hidayahNYA atau tidak? Bagaimana supaya kita bisa “mengajak” mereka kembali? bahkan manusia sekelas Nabi Muhammad saw yang ilmuNYA langsung turun melalui Jibril pun perlu waktu lama untuk meyakinkan orang tentang sirotol mustakim. Saking sulitnya beban dakwah itu dirasa oleh rasulullah saw, Allah sampai menurunkan ayat untuk beliau ” Tugasmu hanya menyampaikan, selebihnya adalah tugasKU” (kira2 semacam itulah bunyinya), sebuah hiburan dari seorang kekasih kepada kekasihNYA…masyaa Allah. Jadi, perdalam ilmu, sering2 mendengarkan dakwah dari ustad2 yang tak memihak siapapun kecuali kebenaran Qur’an dan sunnah, supaya kita mampu membimbing kembali saudara2 yang berfikiran nyeleneh. Soal mereka akan insaf atau tidak walahuallam, bukan urusan kita. Saya saja insaf setelah 40 tahun 😀 menggila…..

Sebaliknya, saya melihat jelas siapa musuh umat berTuhan yang sesungguhnya, apa yang dia sedang usahakan dan bagaimana dia menipu dan membius manusia supaya kacau balau, terpecah belah, kehilangan konsentrasi pada iman, dan lupa padaNYA, lupa pula pada dajjal!

Gilanya lagi, bicara soal dajjal dianggap halusinasi kelas gila…. bahkan ada yang mengartikan dajjal itu sebuah kondisi. Inna lillahi…. manusia benar2 sudah lupa? atau memang saya yang gila ya?

Maka dari itu ketika ada status seorang ustad muallaf yang “baunya” semacam provokasi “intern” muslim, saya sangat kecewa. Bukankah tugasnya adalah menyatukan umat? mendinginkan? dan mengajak pada kebaikan tak hanya muslim yang sesat tapi muslim yang pongah karena merasa paling benar? Maka tak tahan saya untuk tak menulis status ini : “Pak Ustad, alangkah baiknya jika bapak membahas kejahatan dan tipu daya dajjal karena kita semua telah berada dalam masanya, alangkah baiknya jika bapak menjelaskan mengapa dajjal memecah Islam, Nasrani bahkan Yahudi? mengapa kita mau saja diadu domba dan dipecah belah? bukankah masalah keimanan adalah urusan pribadi manusia dengan tuhannya? kita hanya bisa sebatas menasehati dan mengajak mereka kembali? bukan malah mengibarkan semangat bermusuhan? seperti yang dilakukan dajjal pada sunni dan syiah???”. Komentar saya nampaknya komentar penutup… tak ada lagi yang komen setelah itu…  tapi tak tau lagilah… mungkin saja komen saya di delete 😛

Saya mencintai Islam… saya tak ingin pemeluknya terpecah belah dan bermusuhan hanya gara2 perbedaan yang mana hanya Allah-lah Sang Maha Tahu tentang semua kebenarannya. Malunya saya jika dajjal terbahak melihat kita saling bunuh sesama muslim. Dia tak perlu mengotori tangannya dengan darah, tipu daya dan muslihatnya telah sangat mampu membuat muslim membunuhi saudaranya sendiri sepuas-puasnya seperti yang dajjal inginkan. Dan selama kita sibuk saling membenci, melukai dan membunuh, dia membangun strategi pelemahan lainnya….. hhhhhh

Allah…bantu kami….

c19b854b76e5205fc92b65f540015a45

Advertisements