Semalam aku bersumpah pula, kuangkat sumpah demi hidup-Mu,

Bahwa aku tak akan pernah memalingkan mataku dari wajah-Mu; bila Kau memukul dengan pedang, aku tak akan berpaling dari-Mu.
Aku tak akan mencari sembuh dari yang lain, karena kepedihanku ialah lantaran perpisahan dengan-Mu.
Bila Kau mesti melemparkan aku ke dalam api, aku bukan mukmin bila aku mengeluh.
Aku bangkit dari jalan-Mu bagai debu; kini aku kembali ke debu jalan-Mu.

Suatu ketika Nabi Isa as pernah berkata kepada para sahabatnya (al-Hawariyyun): “Yang paling banyak mengeluh di antara kalian pada waktu ditimpa musibah adalah yang paling banyak menghadapkan wajahnya kepada dunia!” Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw bersabda betapa herannya beliau saw terhadap keluh kesah manusia ketika mereka ditimpa kesakitan, karena seandainya manusia itu tahu bahwa kesakitan yang menimpanya merupakan wahana pembersihan, sehingga nanti, saat manusia tersebut menghadap Tuhan, sudah dalam keadaan bersih; seandainya mereka mengetahui hal itu maka tentu mereka akan senang menerimanya.

Ketangguhan untuk menerima kesakitan apa pun sebenarnya terlihat jelas juga di kalangan para pecinta Allah seperti Nabi dan para sufi. Rasanya tak jarang para sufi dipandang secara melankolik sebagai orang yang asyik berpuisi-puisi cinta dengan Tuhan dan tidak pernah berbuat banyak dan nyata untuk manusia di sekitarnya. Sungguh, itu adalah sebentuk stereotipe klise lagi basi yang entah kenapa selalu diulang-ulang lagi dari generasi ke generasi. Perhatikanlah puisi Rumi di atas, tertangkapkah ketangguhan yang dahsyat dalam puisi tersebut? Coba amati bait kunci ‘Bila Kau mesti melemparkan aku ke dalam api, aku bukan mukmin bila aku mengeluh.’ Bahwa semua ungkapan Cinta kepada Tuhan yang banyak bertebaran dalam puisi Rumi (dan juga sufi lainnya) diimbangi dengan kesediaan mereka untuk menerima apa pun yang diperbuat Allah—sebagai sang kekasih—terhadap mereka sebagai para pecinta. Setiap orang bisa saja dengan mudah mengatakan “aku mencintai Rasulullah dan Allah”, tapi hadirnya ‘tamparan keras’ dalam kehidupannya yang melahirkan sekian keluh kesah—baik di lisan mau pun dalam hati—dengan jelas menunjukkan betapa cinta itu sebenarnya belum meresap; hanya baru sebatas ucapan lisan saja.

Apabila dibaca kisah hidup Rumi, sebenarnya terlihat jelas bahwa dia pun menghadapi sekian banyak ujian, namun tak ada keluh kesah yang terungkap dalam puisinya, semata cinta kepada Allah. Padahal dia harus menghadapi sekian fitnah dan kedengkian dari kalangan muridnya sendiri karena pertemanannya dengan Syamsi Tabriz, dia harus menghadapi kenyataan bahwa anak sulungnya pun beroposisi terhadapnya (bahkan Schimmel mencatat bagaimana Rumi pun tidak “bisa” ikut menguburkan anak sulungnya tersebut—tentu hal ini cukup menyakitkan bagi seorang ayah), dan sekian banyak fitnahan lainnya dari lingkungan sekitarnya.

Ketangguhan seperti ini bisa terlihat juga dalam Mazmur yang ada di Alkitab. Mazmur itu merekam sekian madah dari Nabi Dawud as. Sebagaimana diketahui Rasulullah Saw sendiri pernah mengungkapkan bahwa dalam hal tertentu Nabi Dawud diuji lebih berat dari beliau Saw. Rasulullah saw memiliki keluarga dan sahabat yang taat padanya dan Allah. Sementara Nabi Dawud as, setelah menikah dengan anaknya Thalut (atau Saul dalam Alkitab), harus menerima keadaan bahwa dirinya difitnah hendak mengkudeta Thalut sehingga selama sekian tahun harus melarikan diri dari Thalut. Berulangkali Dawud memperlihatkan bahwa mudah saja baginya untuk membunuh Thalut, namun dia tidak mau melakukannya. Kemudian bagaimana dia dikhianati oleh istri-istrinya, bagaimana dia harus kehilangan sahabatnya, Yonatan, yang adalah kakak iparnya (putranya Thalut) karena mati dalam peperangan. Bagaimana dia harus menerima pengkhianatan dari teman-teman semeja makannya, bagaimana dia harus menghadapi kenyataan bahwa Absalom, anaknya, telah memerintahkan pembunuhan Amnon, saudara tirinya karena telah memperkosa Tamar, adiknya Absalom.

Tidak hanya itu, Absalom pun di kemudian hari malah memerangi bapaknya hingga dia sendiri mati. Tidak cukup sampai di situ, Dawud pun harus melakoni skenario peristiwa dirinya “merebut” Batsyeba dari Uriah, kemudian bagaimana Dawud dimintai putusan apa hukuman bagi perkara seseorang yang memiliki 99 kambing malah mengambil satu kambing milik orang lain. Saat Dawud menjatuhkan apa putusan hukuman bagi si perebut satu kambing milik orang lain tersebut, sebenarnya Dawud tengah menjatuhkan “hukuman” untuk dirinya sendiri. Dan sekian anak yang lahir dari rahim Batsyeba akan meninggal, namun, Allah memang sebaik-baiknya Sutradara, justru dari Batsyeba inilah lahir seorang nabi Sulayman, dan bukan dari istri-istri lainnya yang dinikahi bukan dengan cara “sekontroversial” Batsyeba. Maka bisa terbayangkan apa maksud Rasulullah Saw saat mengatakan bahwa Nabi Dawud memang diuji beberapa hal yang lebih berat dari Rasulullah Saw. Dengan brilian, Ibn ‘Arabi dalam kitab Fushush Al-Hikam memaparkan bahwa dari namanya saja kita bisa tahu bahwa nama Muhammad dalam bahasa Arab ditulis dengan huruf yang saling tersambung, berbeda dengan nama Dawud yang ditulis terpisah-pisah antar tiap huruf, yaitu Dal, Alif, Wau, Dal, yang menunjukkan bagaimana kehidupan Dawud itu sendiri terpenggal-penggal oleh sekian ujian seperti yang bisa kita saksikan dalam alur kehidupannya.

Kembali kepada Mazmur, silahkan simak madah demi madah yang tertuang di dalamnya: adakah keluh kesah terlontar dari Dawud karena sekian prahara kehidupan yang harus dihadapinya? Adakah keluh kesah karena dirinya dizalimi oleh si anu dan si anu? Dalam Mazmur 23, yang termuat dalam Alkitab, tertulis ungkapan Nabi Dawud sebagai berikut:

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.”

Itulah ketangguhan dan kekuatan sebenarnya namun seringkali teralihkan karena terbungkus oleh bentuk ungkapan-ungkapan puitis, sama seperti puisi-puisi Rumi mau pun sufi lainnya. Dalam puisinya di atas, Rumi bahkan mengaitkan keluh kesah dengan ketidakberimanan. Dengan indah kembali Rumi menuliskan puisi sebagai berikut:

Seorang pencari berkata kepada Sang Hakim: “Dia, yang pertolongan-Nya kita mohonkan, tentu mampu membuat perdagangan kita tak pernah rugi.
Dia yang yang mengubah api Namrud menjadi mawar dan pepohonan, tentu juga bisa membuat dunia kita ini jadi tanpa api.
Dia yang memekarkan mawar dari tengah kumpulan duri, tentu mampu mengubah musim dingin ini menjadi musim semi.
Dia yang membuat setiap cemara lurus dan bebas tentu kuasa mengubah sedih menjadi gembira.
Dia yang membuat ketiadaan menjadi keberadaan: takkan Dia direndahkan, jika ciptaan dibuat-Nya abadi.
Dia yang memberi raga suatu ruh, sehingga hiduplah ia; apa ruginya Dia jika dibuatnya kita tak perlu mati?
Mengapa Sang Maha Pemurah, tak menganugerahkan saja, semua yang diinginkan setiap hamba; tanpa mereka perlu susah-payah berusaha?
Dan mengapa tak dijauhkan-Nya, sang hamba yang lemah, dari kelicikan syahwatnya, dan dari godaan syaithan; yang selalu siap menyergap?
Sang Hakim menjawab: “Jika tiada perintah yang pahit, jika tiada beda baik dengan jahat, jika tiada beda batu dengan mutiara,
Dan jika tiada hasrat ragawi, tiada hawa nafsu dan syaithan, dan tiada pukulan, pertempuran atau perang,
Lalu dengan nama atau gelar apa Sang Raja akan menyebut hambanya, wahai penanya yang lalai?
Bagaimana Dia akan menyebut: ‘Wahai hamba yang sabar, Wahai hamba yang tabah?’
Bagaimana Dia akan memanggil: ‘Wahai hamba yang pemberani, Wahai hamba yang bijak?’
Bagaimana akan terbentuk hamba yang sabar, hamba yang tulus ikhlas, hamba yang lazim berinfak, tanpa kehadiran penyamun dan syaithan yang terkutuk?
Rustam dan Hamzah, atau tukang selingkuh, jadi tidak bisa dibedakan; pengetahuan dan kebijaksanaan akan musnah, tak berarti.
Adanya pengetahuan dan kebijaksanaan itu untuk membedakan jalan lurus dengan jalan buntu: jika semua jalan sama saja, pengetahuan dan kebijaksanaan tak ada gunanya.
Apa menurutmu pantas, jika ke dua semesta ciptaan dihancurkan, untuk memenuhi hasrat jiwa rendah?
Tentu saja aku paham bahwa engkau telah termurnikan, dan bukan lagi yang masih mentah; dan engkau tanyakan ini, semata untuk mengajari mereka yang masih kasar.
Kejamnya Sang Waktu dan semua derita yang mewujud itu lebih ringan daripada jarak kepada Rabb dan pengingkaran.
Karena derita itu akan berlalu, tetapi tidak demikian dengan jarak kepada Rabb.
Insan yang dianugerahi kebahagiaan sejati hanyalah mereka yang datang kepada-Nya dengan jiwa yang bangun dan mengenal-Nya.”

(Cuplikan dari makalah berjudul ““Tuhan Tidak Memiliki Agama”: Ad-Dîn, Mata Air Agama-agama, dan Agama Cinta dari Perspektif Islam, yang pernah saya presentasikan di Extension Course yang diadakan oleh Fakultas FIlsafat UNPAR, dan saat ini sedang direvisi habis-habisan agar, Insya Allah, bisa dimasukkan dalam antologi esai yang sedang saya susun. Bismillahi Rahmani Rahim.)

 

Advertisements