Kemaren itu saya sempat terganggu dengan postingan kawan yang mengarah ke postingan atheis. Selidik punya selidik, dia masih keturunan kiayi terkenal di tanah air. Saya juga tak hendak menilai dia sebetulnya, tapi mencoba menilai apa yang saya rasakan ketika melihat orang seperti itu. Apa yang hati saya rasakan…

Marrah.. marrrah yang entah seperti apa style nya. Allah itu memang ghaib sifatnya. Tak bisa kita lihat hanya bisa kita percaya. Tak bisa kita dengar omonganNYA dan hanya bisa kita baca di kitab suci. KeberadaanNYA yang membutuhkan iman untuk bisa dipercaya ini menjadi sasaran empuk para manusia “cerdas” yang saking ilmuwannya, dan saking logisnya, sampai tak kuasa menanam iman di dalam hatinya lalu jadilah Sang Pencipta dengan kalamNYA bulan-bulanan mereka yang buat saya sungguh “stupid”.

Saya jadi ingat tafsir surah Yassin.. bahwa ada orang2 yang memang ditabiri atas pilihan mereka sendiri. Mereka didalam ruangan tertutup, dirantai pulak, dan pandangannya dihalangi dari depan, dari belakang dan dari atas, dari kanan dan dari kiri. Mata bisa melihat tapi tak melihat, telinga bisa mendengar tapi tak mendengar dan hatinya kosong akan keimanan. Saya tak hendak menilai kawan saya itu. Tapi tafsir ini menunjukkan pada saya, ada orang2 yang tersesat sejauh itu… dikehendaki sejauh itu tersesat semata-mata karena pilihan hati mereka sendiri.

Kodratnya manusia itu adalah hatinya percaya akan ALLAH Sang Maha Pencipta, tapi pilihan2 yang dibuat mereka, membuat mereka menjadi manusia2 yang ingkar… dan itulah buktinya… kawan saya sendiri.

Saya tak mendebatnya meski banyak sekali hal yang bisa saya ungkapkan padanya . Tapi jika untuk melakukan ini dibutuhkan kesabaran yang tinggi, saya mundur. Saya memang mundur pada nyatanya, karena saya tak mampu menelateni orang yang sudah membuat dada saya terbakar akibat kekurangajaran serta kesombongannya terhadap Allah dan Rasulullah. Boro2 menjelaskan dengan gaya ustad Nouman, rasanya saya ingin menjelaskan dengan cara memaki maki dia. Pastilah gagal, itu bukan caranya rasulullah. Maka diam adalah emas… bukannya saya tak peduli ya Allah… tapi saya tak mampu…

Dan kemelankolian saya terhadap pembelaan akan keMaha-an Allah yang telah dihujat dengan tak berprikemanusiaan itu membuat saya menangis terguguk dalam sholat saya siang itu. Ntahlah…. tiba2 kesedihan saya menyesaki dada.. tak rela Pencipta saya dihina seperti itu meski saya sadar se sadar-sadarnya ALLAH tak perlu dibela oleh seorang pecundang seperti saya yang meluruskan yang salahpun saya tak mampu.

Hanya saja kemarahan dan kesedihan itu begitu berrrat untuk saya simpan dalam hati saya sehingga jebol lah pertahanan itu…

Ya Allah… how I love YOU so much … and I never have a heart to hear people talk bad about YOU… please forgive them..show them the truth Allah… and forgive me too….

2512923bc7be411c361059c18a1c0c10

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements