Hari ini tiba2 saya mengerti, sedikit mengerti, mengapa muslim yang iman dan tingkat tawakaltunya tinggi tak pernah menyimpan harta atau uangnya. Hari ini tiba2 saya bisa merasakan, sedikit merasakan yang dirasakan para muslim beriman tinggi itu.

Orang2 sekelas kiayi yang ilmu agamanya super dalam, biasanya tak ter-ekspos. Mereka lebih suka mengajarkan ilmu dalam damai di pelosok2 desa. Dan ulama2 Indonesia semacam inilah yang saya kagumi luar biasa akan kebersahajaan mereka dan kerendahan hati merekam begitu jauuuuh dari urusan duniawi yang penuh tipu daya.

Hari ini saya sedikit “dicicipi” rasa yang para ulama itu “mampu” merasakan setiap saat, setiap detik (dengan perjuangan batin yang pasti susah) terhadap keteguhan iman pada kematian abadi dan kehidupan sementara, bahwa hal kematian itu bukan ditangan mereka melainkan di tangan Allah. Mereka mampu fokus pada sesuatu yang bisa datang kapan saja dan tanpa kompromi: mati. Hal pasti ini bukankah sering kita lupakan? dalam sehari pernahkan semenit saja memikirkan tentang kematian?

Demi Allah, kematian itu datang kapan saja. Demi Allah kematian itu tak bertanya berapa sisa uangmu di bank sehingga kamu siap mati atau tidak? Demi Allah kematian itu tak bertanya, apakah dia boleh mengambilmu saat ini ? Demi Allah kematian tak bertanya sudah selesaikah semua masalahmu di dunia sehingga dia bisa mengambilmu? Demi Allah kematian tidak bertanya apakah kamu rela jika detik ini juga nyawamu diambil? Demi Allah dia hanya akan datang padamu begitu saja, begitu tiba2, begitu mengejutkanmu, dan tak peduli soal sisa uangmu, hutangmu, hartamu, kekasihmu, keluargamu, waktumu, masalahmu, dan lain lain tentang kamu!, dia hanya menjalankan tugasnya dalam kepatuhan tingkat dewa, mencabutmu dengan segala cerabut kesakitan tak terperi dan matilah kamu!

Dan saya membayangkan seperti ini, jika kematian bisa datang kapan saja, untuk apa menyimpan 10rb di dompet? mengapa tak menggunakannya untuk bersedekah?  jika kematian bisa datang ketika nasimu masih banyak, mengapa tak membaginya kepada orang yang kelaparan? Jika kematian bisa datang setiap detik dari waktumu dan kamu tak pernah tahu kapan? mengapa membuang setiap detik waktumu dengan hal2 tak manfaat? Jika kematian bisa datang kapan saja, mengapa berat mengeluarkan uang untuk memenuhi kotak-kotak amal? bukankah lebih menyedihkan mati dengan simpanan uang di bank yang tak diapa-apakan, daripada mati tanpa simpanan uang sepeserpun karena disedekahkan? bukankah menyedihkan mati dengan seabrek sepatu dan pakaian, daripada sedikit sepatu dan pakaian karena sudah banyak yang kamu sedekahkan pada orang miskin?

Rasanya saya terlalu lama dan terlalu biasa mendekap dunia yang sementara ini kemudian melupakan akhirat yang selamanya. Saya akhirnya mengerti mengapa para ulama di tempat2 terpencil itu setiap mendapat rezki selalu langsung menghabiskannya untuk amal dan tak pernah punya “simpanan” atau “tabungan”. Rejeki untuk esok, bagi mereka, adalah urusan esok.  Sementara saya masih tahap menggenggam erat yang 10 ribu itu demi esok yang padahal saya tak tahu apakah esok saya masih hidup atau mati. Sungguh saya lebih memilih mati tanpa menggenggam apapun karena telah saya berikan pada yang lebih memerlukan daripada saya mati menggenggam 100M yang tiba2 begituuuu tak ada artinya jika kematian telah menjemput.

Hanya orang2 yang tingkat tawakalnya sudah super tinggi yang bisa melakukan hal2 sedemikian ini. Saya tadi hanya merasakan sekejap saja, sekejap saja, lalu rasa itu tertepis kembali dengan kesombongan “hidup selamanya”. Kekuatiran2 itu muncul kembali.. bayang2 serba kekurangan pada esok hari itu muncul merayu rayu, masalah2 pada hari depan menjulang bak monster mengerikan… genggaman saya makin erat.. kuat.. mencengkeram dunia tipu tipu ini. Lupa bahwa esok belum tentu datang untuk saya…. belum tentu….

34c766d9b594660ab19baadea1e1050807cc6911626afc39d9dc9aa5e865c6cc322d223cf95ddadca0cadd625ffd5ba1

7d0c31474a425c18e0fc5e29f6c588ee

 

 

 

 

Advertisements