Saya pakai aplikasi quran yang setiap jam 21.30 malam, setiap hari, memberikan saya 1 ayat quran untuk saya baca. Dan surat Al-Kahf setiap Jumat, notificationnya gak akan hilang sebelum saya baca.

Tadi malam itu yang dapat giliran dibaca adalah Surah Ar-Rahman. Begitu banyak sebutan Allah tentang “Nikmat Kami yang manakah yang engkau dustakan?”, dan cerita bahwa dua surga low level dan dua surga high level. Surga low ini untuk orang2 yang gak hebat2 banget, sementara surga high untuk orang2 hebat (surga yang berwarna hijau). Saya sempat berpikir: lah? jadi cuma 4 surga? bukankah surga punya 7 tingkatan?

Saya carilah tafseer surah ini. List dakwah Ustad Nouman saya obrak abrik lalu nemu yang judulnya bedah tafseer Ar-Rahman, tapi di awal2 kok malah bahas al waqiah? Browsing lagi ustad sapa yang bedah tafseer surah ini… ada beberapa tapi saya gak suka cara dakwahnya. Percuma gak akan masuk kepala.

Belum nemu apa yang saya cari, saya malah nyangkut di video ini

lalu malah keasikan dengerin sampek selesai. Isinya menohok saya sekali, itu sebabnya saya betah. Bahasa yang dipakaipun enak..jadi gampang di terima.

Ada banyak hal yang dibicakan dan semuanya menohok, tapi saya tulis yang nyantol di saya aja, sisanya sila dengar sendiri:

Semua manusia itu sebetulnya di guide olehNYA, tapi gak semua orang mau mengikuti petunjukNYA

Tidak seperti dosen penguji yang melarang kita open book ketika diuji, Allah selalu membuka tanganNYA untuk menjawab pertanyaan2 kita ketika kita bingung. Kita bebas bertanya padaNYA dan bebas meminta jawaban atau pertolongan selama ditest.

Tidak seperti pembesar yang tak mau ditemui atau susah ditemui, Allah menunggu kita datang selalu. Kita datang berjalan kearahNYA, Allah mendatangi kita dengan berlari. Allah se-Maha Merciful itu.

Bahwa tak usah ngayal dunia ini adalah tempatnya kesenangan. Dunia ini tempatnya ujian! Tempatnya kesenangan tu ya jannah…

Bahwa ujian yang paling susah dan sering luput dari kesadaran kita adalah ujian kesenangan, kekayaan yang melimpah dan kebahagiaan yang memuaskan. Ujian2 semacam ini jarang sekali bisa mendorong manusia berpaling padaNYA dengan derai air mata kepasrahan dan kerinduan dan pengharapan. Sedangkan ujian yang paling gampang mendekatkan manusia pada Sang Pencipta adalah ujian serba kekurangan, ujian kehilangan, ujian penuh penderitaan, dan semua ranah2 yang penuh ketakutan dan kesakitan hati. Ujian2 semacam ini terbilang jauh lebih manjur membuat manusia mengadu dan menangis dalam sujud padaNYA. Sebuah keintiman seorang hamba dan Tuannya yang begitu disukai olehNYA.  Jadi haruskah kita menghujat penderitaan padahal penderitaan itulah yang membuat kita dekat padaNYA?

Inna lillahi rojiun itu adalah sebutan untuk semua hal yang diambil dari kita tak saja nyawa orang yang kita kenal, tapi semua yang kita miliki termasuk gaji, harta, kesenangan, kebahagiaan dll. Kita tak pernah memiliki apapun di dunia ini. Semua yang kita miliki cuma sebagai “alat peraga ujian” saja.

Tapi jangan salah, dari yang diambil itu Allah memberi ganti yang luar biasa meski bentuk gantinya kadang gak kita sadari…

Bahwa semua penderitaan, kesedihan dan kehilangan yang kita alami jelas merupakan cara untuk membuat kita berpaling padaNYA (berlaku hanya untuk orang2 yang beriman). Seorang sahabat nabi pernah kehilangan putri kecilnya ketika beliau masih sebagai pemabuk, kehilangan yang begitu berat membuatnya tak ada pilihan lain selain kembali padaNYA dan mendapatkan ketenangan yang hakiki. Lalu begitulah… kehilangan membuatnya dekat pada Allah dan dekat pada rasulullah lalu hilanglah semua kebiasaan buruknya.

Bahwa ada satu titik yang dialami manusia sebagai “ciri” dia sedang “dipanggil kembali padaNYA” yaitu menyadari bahwa dalam kemelutnya, ditengah tengah masalah2nya, dan ketika tak tau jalan keluar apa yang tersedia, Allahlah satu2nya yang mampu menolong, Allahlah satu satunya tempat kembali…. tak ada yang lain.. dan ketika dia kembali dia mendapatkan kekuatan dan ketenangan. Itulah tujuan hakiki dari masalah2 yang mendera: Allah ingin dia dekat padaNYA, Allah ingin dia mengingatNYA.

Hal baik hanya terjadi pada orang yang baik, dan hal buruk hanya terjadi pada orang yang buruk. Karena orang yang baik keimanannya memang cenderung melihat semua masalah sebagai kebaikan, sementara orang yang buruk cenderung melihat masalah sebagai kenistaan dan keburukan yang nyata. Padahal penilaian baik buruknya situasi itu seringkali memakai standar duniawi, bukan standar akhirah.

Mukmin sejati biasanya sadar penuh bahwa keburukan yang terjadi dan menimpanya di dunia ini adalah kebaikan untuk akhiratnya tentu saja jika kesadaran itu dibarengi ilmu bahwa manusia bisa bertobat, bahwa penderitaan di dunia sifatnya sementara mengingat dunia ini cuma sebagai tempat singgah dan bahwa Allah cuma ingin mereka dekat… sehingga Allah punya alasan untuk memasukkan mukmin ke dalam janahNYA.

Bahwa iblis dan Nabi Adam dulu adalah penghuni surga, ketika melakukan kesalahan mereka sama2 dihukum usir, yang membedakan adalah bahwa Nabi Adam lalu bertobat dan memohon ampunan Allah, sementara setan tak mau melakukan itu dan malah berbalik menyalahkan Allah bahwa semua ini adalah skenarioNYA.

Diluar apakah benar itu cuma skenario atau tidak, the poin dari semua sejarah itu adalah Allah ingin menunjukkan : akibat kerendahan hati nabi Adamlah maka Allah mengampuninya dan menjanjikan surga kembali untuknya dan keturunannya apabila mau mematuhi Allah selama diuji di dunia. Tentu saja janji Allah pada Nabi Adam membuat setan iri dan berjanji akan menghalangi keturunan nabi supaya tak masuk surga kembali melainkan menemani dia di neraka jahanam.

Diluar skenario kehidupan yang paling awal itu, Allah ingin menunjukkan sebesar apapun dosa nabi Adam (dan keturunannya), selama mau mengakui kesalahan dan meminta ampunanNYA (tidak sombong selayaknya setan), maka pintu pengampunan akan selalu terbuka….

Dan banyak lagi nasehat yang layak untuk di dengar dari dakwah ini.. monggo di simak…