Yang namanya ujian tuh ya nyebelin emang. Kadang orang lagi malas mikir dipaksa mikir soal ujian.

Ada orang yang punya semuaaaa yang kita mau, tapi gak dikasih ke kita. Kita dikasih bukan yang kita mau tapi yang kita butuhkan. Butuh buat apa? buat apa gak ada yang tau, hanya DOsennya yang tau. Udah kita terima aja, ngikut aja, berdoa aja…

Kadang2 saya berpikir begini: ada orang sukses, saking suksesnya dia lalu lupa Allah, lupa diri lalu dia dibuat mendadak gak sukses. Adaaaa aja kejadian yang di setting sedemikian rupa sehingga sukses yang tadinya besar itu jadi kegagalan besar. Big lost! Kalau saya boleh menebak nebak atau mengira ngira, bisa jadi orang sukses itu masuk kedalam masa “pause” dimana dia ditarik untuk “dididik” supaya kembali lagi padaNYA dan ingat diri. Untuk apa? untuk alasan pendidikan ego tentu saja, dan menguatkan hubungannya dengan Sang Khalik. Untuk apa? bisa jadi karena dia memang dipersiapkan untuk sukses yang lebih besar lagi tapi dengan “mental” yang sudah berbeda, sehingga bisa lebih amanah. Atau… atau karena dia “sekedar” diselamatkan dari “keluapaan padaNYA”, “Kealpaan padaNYA” sehingga punya banyak kesempatan berduaan dan menghamba pada Khaliknya. Kalau sudah dalam kekhusyukan berdua seperti ini, kesuksesan duniawi atau harta menjadi tak ada harganya lagi. Harga paling mahal itu adalah keintiman religius antara hamba dan Tuannya.

Bayangkan kalau semua kehendak kita, kita dapatkan semudah itu tanpa resiko apapun, tanpa tanggung jawab apapun, kita pasti jauh dariNYA, dan bisikan setan itu akan lebih mudah menjebak kita ke jalan yang salah. Lalu amanah itu menguap terlupakan.

Syukuri apapun kehendakNYA, karena tak ada yang jelek dalam niatNYA… semua untuk kebaikan hamba2 pilihanNYA…