Tiba-tiba ada yang kentut di sebuah ruangan… lalu orang mulai ribut mempermasalahkan kentut. Sebagian marah2 karena lebih fokus ke toto kromo atau sopan santun; “Sungguh terlalu!!! kalau mau kentut itu mbok ya jangan sembarangan di let it go!! gak sopan!!! pelecehan publik ini namanya!!! harus dituntut!!”

Sementara orang yang fokusnya ke kesehatan malah dengan santai bilang: Flatulensi adalah keluarnya gas melalui anus atau dubur akibat akumulasi gas di dalam perut (terutama dari usus besar atau kolon). Peristiwa keluarnya gas disebut juga kentut atau sering disebut juga buang angin. Kentut biasanya ditandai dengan rasa mulas di perut. Gas ini kalau tidak dikeluarkan akan membahayakan pemiliknya, jadi lepas saja. Tak apalah. Keluarkan saja dengan penuh perasaan dan hati-hati, nikmati prosesnya, oke?

Lalu orang yang fokusnya sehari-hari pada hal2 yang puitis akan bilang : Kentut adalah Gelombang angin surga berupa fatamorgana yang keluar melalui dasar samudra, menimbulkan aroma zat kimia yang bisa merasuk sukma dan mengundang angkara murka bagi yang menciumnya.

Gimana tanggapan orang yang tafkiri? Sesungguhnya kentut itu bid’ah jika dilakukan di publik dan makruh jika dilakukan di tempat yang kedap bau. Maka orang yang melakukan bid’ah sama dengan kafir. Hukumnya adalah siksa neraka jahanam nan perih nian. Segeralah bertaubat!!

Bagi orang yang terbiasa sabar dan menerima kenyataan hidup meski bau akan bilang: terimalah bau ini sebagai nikmat tiada tara, karena bagaimanapun tak ada ciptaan yang sia-sia, kentut bahkan bisa jadi therapi.

Yang suka politik akan bilang:  Kentut itu seperti korupsi di Indonesia, Selalu diributkan tapi selalu gak ditemukan barang bukti,apalagi tersangkanya.

Ahli metafisik akan bilang: kentut itu semacam mahluk ghaib yang hanya bisa dirasa hembusannya dan tercium aroma mistisnya tanpa terlihat bentuknya. Biasanya muncul dimanapun dan kapanpun saja tanpa mengenal waktu.

Seperti itulah saya melihat kasus pak Tawan, the iron man from Bali itu. Yang awalnya bikin surprise banyak orang lalu tiba2 diberitakan hoax lalu tiba2 dia menjadi tertuduh sebagai “penipu”.

Weleh2, kepo sih boleh2 saja, tapi kalau sudah main “judgement”, nuduh orang nipu padahal belum tentu dia niat nipu ituuuu yang harus diberantas. Karena semua orang akan mengeluarkan opini masing2 seperti opini soal kentut itu tadi.

Orang akan menilai Tawan dari berbagai sudut. Ada yang cukup kejam langsung memfonis dia sebagai penipu, ada yang bilang dia gila, ada yang mengasihani, ada yang tak peduli tangan robotnya itu beneran apa gak tetap mengapresiasi, ada yang repot mikirin dari segi teknik robotiknya, ada yang malah ngasih sumbangan karena lihat gubuk reotnya, ada yang cuma mendoakan, ada yang malah ter-inspirasi, ada yang repot liat jenis rongsokannya, walaaaahh macam2!!

Buat saya pribadi, semua itu tak mengapa selama kita tak menghakimi dia. Orang bebas berpendapat dari sudut favoritnya masing2, tapi menuduh seseorang secara premature, sebelum masalahnya benar2 clear dan terbukti, rasanya bukan kapasitas kita….

 

“Berdasarkan pengamatan saya, lengan robot yang dibuat oleh Sutawan tersebut, jika dilihat dari prinsip kerja robot, hal tersebut masuk akal,” ujar I Wayan Widiada, ST, MSc, PhD yang juga dosen Jurusan Teknik Mesin Unud seperti dilaporkan Tribun Bali. (http://regional.kompas.com/read/2016/01/23/19502221/Dosen.Teknik.Mesin.Universitas.Udayana.Uji.Coba.Tangan.Robot.Tawan)

Yang jelas pakar mesin Udayana dan UGM sudah mencoba langsung alatnya dan mereka gak bilang alat itu hoax. (http://popbali.com/lengan-robotik-tawan-hoax-ini-kata-dosen-ft-udayana-setelah-lihat-langsung/)

So, hati2 menghakimi sebelum tau pasti kebenarannya.

 

Advertisements