Ceritanya saya di inbox teman sesama projo: “jeng, maaf ya, gak permisi dulu, sampeyan tak usulkan jadi kandidat ke istana negara acara makan siang dengan presiden. Diminta beberapa nama, lalu saya serahin 3 nama termasuk saya.”. Alih2 marah karena sudah dicatut namanya tanpa permisi, saya malah kegirangan. “Woooow asiiik, kamsya kamsyaa yaaa, semoga kita bisa ketemu bapakee”. Teman saya menenangkan “Yo tapi gak semudah itu jeng, diseleksi juga kita. Yang jelas akun kita dipantau oleh panitia istana.”

Ternyata memang panitia istana gerilya mulut kemulut saja untuk menyeleksi aktivis projo medsos.

Dan saya tak terpilih, hehehehehe hiks, kecewa beerrrraaat. Pantesan teman2 pentolan projo sejak kemarin gak apdet status karena nampaknya sibuk persiapan. Ternyata merekalah yang lulus seleksi menyampaikan aspirasi cebong kepada bapak RI-1. Memang pantas sih kalau melihat perjuangan  mereka di medsos. Ketika ada fitnah menyerang, mereka gak sembarangan meng-counter melainkan langsung mempelajari masalah dan menganalisanya sesuai dengan data2 sumber yang akurat. Mereka bisa membaca buku sampai bertumpuk-tumpuk hanya untuk menjelaskan aturan ekonomi atau bahkan bedah hadis. Selain itu tulisan2 dan analisa2 mereka sungguh tajam dan najong supperrrr. Mereka bisa riset artikel dan bisa aja menemukan kejanggalan penulisan yang tak singkron, bahkan kalau ada yang sotosop plintiran kalimatpun mereka bisa tau dengan cepat dan menemukan dengan cepat pula artikel awalnya. Ini yang kadang membuat saya terkagum-kagum pada perjuangan mereka. Dan rata2 mereka memang orang2 yang cerdas yang bisa berpikir logis, out of the box!

Ada lagi seorang pelayan restoran yang simpel saja kesukaannya tapi konsisten, yaitu memberitakan semua kegiatan presiden diluar mainstream. Sumbernya cuma dari setkab, tapi dia telaten menyebar berita. Itu saja. Tak menganalisa masalah, tak ikut debat, tak melayani cemoohan. Meski begitu akunnya ntah sudah berapa kali di “robohkan” oleh pasukan kampret. Beberapa kali pulak tab nya rusak dan mendapat sumbangan tab baru dari projo “yang mampu”. Setiap bulan dia selalu menyisihkan gajinya untuk beli quota internet demi ke-konsistenannya itu. Saya senang dia ikut terpilih menemui RI-1, sangat pantas.

Lalu saya gimana? yaaah saya mah memang bukan aktivis. Bukan seperti para pentolan projo medsos yang minimal likers nya aja 300 orang, minimal yang nge-shared artikelnya aja bisa 50 orang, itu minimal…. angka up nya bisa ribuan likers dan ratusan shared. Lucunya gak semua pentolan projo itu profesional, statusnya macam2, dari TKW, wanita karir, ibu rumah tangga biasa, dokter, tukang, ustad, pengusaha, pelayan….yang lainnya lupa saya.

Gontai saya mengambil wudhu, pasang mukena dan bersiap2 dhuhur. Nurani saya berbisik , “Hey, why sad? mereka hanya ketemu RI-1, sementara kamu sedang siap2 bertemu Sang Penciptamu. Bukankah DIA lebih pantas kau banggakan ditemui? gak perlu sedih… Allah selalu siap kau temui kapan saja tanpa seleksi apapun!!! don’t be stupid!”. Ya ampuuuun… iya benerrr. “Allahu Akbar”……

Sholat dhuhur saya yang paling khusyuk rasanya saat itu….🙂