Banyak yang bilang, carilah guru kalau mau belajar agama, jangan google dijadikan guru.

Saya balik bertanya pada diri sendiri, tapi kok banyak orang yang mengaku berguru sehingga berilmu melakukan kejahatan? ahlaknya juga tak segaris dengan ilmunya? lalu apa fungsi guru disitu?

Saya gak setuju juga kalau berguru dari blog to blog di internet, go blog to go blog atau web2 Islam yang adiminnya siapakah kitapun tak tahu. Entah dia jews kah atau antek zion kah? kita tak tahu, di internet kucing bisa ngaku anjing, anjing bisa ngaku kucing.

Niat untuk bertambah dekat kepadaNYA sehingga mendorong kita “mencari” ilmuNYA in shaa Allah akan membuatNYA menuntun kita ke jalan dan arah yang benar. Taunya benar darimana? taunya benar adalah kita menjadi manusia yang lebih baik dari kita yang kemarin. Kalau kemarin kita kalah dengan dosa besar, sekarang kita berhasil melepaskan diri dari dosa besar. Kalau kemaren kita kalah dengan dosa sedang, sekarang kita berhasil menghindari dosa sedang. Kalau kemaren kita kalah dengan dosa kecil, sekarang kita berhasil membuang semua dosa2 kecil. Progres/kemajuan semacam itu adalah bukti bahwa kita bertambah baik in shaa Allah.

Gak usah membandingkan indikator progres kita ke arah yang lebih baik dengan orang2 yang sudah jauh lebih alim, masing2 kita punya jalan yang berbeda dengan kadar perjuangan yang berbeda pula. Maka the best perbandingan yang bisa kita pakai adalah diri kita sendiri. Kita harus menjadi sedikit banyak lebih baik dari kita hari kemarin, itu disebut sukses!! Allah tidak akan membebani hambaNYA diluar kemampuannya, jadi masing2 orang punya ukuran berbeda.. jangan minder dengan yang kelihatannya lebih ilmuwan, atau hebat. Seseorang dimata Allah itu dilihat dari usahanya untuk menjadi religius bukan sebanyak apa ilmunya?

Lalu bagaimana pula dengan pemuda2 al Kahf? apakah mereka punya guru untuk memiliki tauhid terhadap Allah? tidak. Mereka punya ilmu agama yang tinggi? tidak. Mereka tau Qur’an? tidak. The only precious thing they had was faith in Allah, Tauhid. Karena faith inilah mereka menjadi sejarah dan mendapatkan kehormatan besar tertulis dalam qur’an dan dipelajari oleh banyak alim ulama dengan gelar2 keagamaan yang menandakan tingginya ilmu mereka.

I am not saying that “berguru” itu tak perlu, NO. Berguru itu bagus tapi gak harus, sebab hidayah ilmu itu bisa darimana saja datangnya bahkan dari kehidupan ini. Selama kita minta petunjukNYA dalam mencari apapun dan melakukan apapun, in shaa Allah kita gak akan sesat but becoming a better person from we were at yesterday

Alhamdulillah saya diberi guru terbaik yg dimiliki dunia ini… Qiqiqi ust.Nouman, ust.Menk, ust. Zakir, ust. M.Salah, ust. Yaseen
… What a bless.

 

Advertisements