Hari ini ada suami teman saya yang meninggal. Tulisannya dan candanya di medsos masih tertinggal beberapa jam sebelum almarhum di panggil menghadapNYA. Seperti mimpi rasanya, karena like magic, tiba2 orang itu hilang and will never come back again. Reputasi, profesi, keadaan, dan segala keduniawian yang dimiliki calon mayat, sama sekali menjadi tak berarti dan tak punya kuasa apa2 untuk mencegah. Ketika maut mengeksekusinya dari dunia ini, maut tak pernah peduli siapa dia itu! That will happen to me too, to us.

Almarhum bukan orang kere, bukan juga orang yang tak punya siapa2. Hartanya banyak, kawannya banyak, keluarganya banyak, dia disayangi banyak orang, tapi ketika dia menjadi mayat, semua itu begitu saja ditinggal seolah tak penting! Tak penting? Ya! tak penting jika mati telah mengambil alih kehidupan. Semua yang dimiliki mayat selama hidup, will not bother him anymore, ingatpun tidak dia pada kehidupannya itu. Really yang dibawa hanyalah amalannya, dan sedikiiiit sekali memori yang disisakan dalam kepala. Saya justru pikir itu bukan “disisakan” itu cuma semacam bekas…. ya..bekas-bekas memori.

Amalan yang masih akan terus mengalir bahkan ketika kita mati cuma amalan jariah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak sholeh. Itupun kalau punya anak, itupun kalau anaknya sholeh. Doa orang2 buat kita paling cuma satu dua kali diucapkan, itupun kalau mereka ingat, dan yang paling banyak hanya ketika tahlilan biasanya, lalu setelahnya boro2 mereka ingat kirim doa pada kita??? Tapi amal jariah itu terus menerus mengalir. (Cari sendiri amal jariah itu apa ya… homework)

Saya lalu jadi ingat lagi pada seorang kiayi yang tak pernah menyimpan uangnya , melainkan segera cepat2 menghabiskannya dijalan Allah karena beliau tak tahu kapan maut akan datang menjemputnya. Dari contoh yang ini kita bandingkan dengan contoh orang yang meninggal mendadak dengan tabungan harta sejumlah 100M misalnya. Bukankah alangkah menyesalnya mayat tersebut menyimpan uang yang sebetulnya bisa dia buat untuk membangun surau misalnya? atau membuat rumah persinggahan dhuafa misalnya? 100M ngonggrok di bank untuk apa kalau ditinggal mati? bandingkan manfaatnya jika dibuat surau??? sampai matipun ketika orang2 lupa mendoakannya, dia akan terus dapat pahala dari orang2 yang diberi manfaat lewat suraunya.

Semakin sering saya mendengar tentang kematian, semakin saya yakin betapa tak berharganya hidup kita jika kita tak memberi manfaat untuk orang banyak. Oh well, tak perlulah manfaat untuk orang banyak itu ruang lingkupnya se-RT, ruang lingkup keluarga inti aja dulu, lalu ke tetangga kiri kanan, lalu ke tetangga radius 5 rumah disekitar kita… lalu radius 10 rumah. Atau bisa juga membagi ilmu di TPA atau di kelompok2 mana, atau di grup2 mana, atau di pesantren atau di panti asuhan. Ilmu yang oleh mereka bisa digunakan sebagai mata pencaharian misalnya, atau sebagai ilmu yang akan mereka bagikan lagi ke orang lain, dst dst. MLM ilmu sebagai amal jariah… luar biasa.

Rasanya saya belum punya amalan jenis ini, kalaupun ada rasanya sedikit sekali dibanding dosa saya… bagaimana dengan kamu?

0c3c7b721b7daf557cf59d7952d3d1e8

Advertisements