Ternyata benar, jikalau kita melihat dengan hati bersih, semua yang abu-abu menjadi jelas putih hitamnya. Hati yang bersih itu ya hati yang banyak diajak mengingat Allah. Sebaliknya, akan menjadi hati yang lupa diri, yang buta dan sering abu-abu.

Hati yang hidup itu mengintropeksi kesalahan dan dosa dosa sendiri sebelum mengintropeksi orang lain. Ada rem yang mencegah dari perbuatan dosa. Minimal ketika kita berkata jelek tentang seseorang, hati kita menjadi galau karena sendirinya sebetulnya tak kalah buruknya. Deal only with different evil saja.

Jadi, hati yang siaga mempermalukan diri kita sendiri melatih kita supaya tak menimbun dosa baru atau mengulang kesalahan yang sama. Karena training dipermalukan hati yang bersih itu sungguh menyiksa. Ada rasa malu dan minder dan sesal yang mendera-dera ruh suci.

Saya merasakan juga melihat tentang betapa berbedanya performa hati yang penuh zikir dengan hati yang lupa diri. Hati yang penuh zikir itu bawaannya mendamaikan, menenangkan, membawa jalan keluar dan menyemangati dan lain lain keindahan jiwa. Sedang hati yang sakit itu penuh kesinisan, curiga, kebencian, ketidakpuasan, kesombongan dan lain lain yang meresahkan.

Saya pernah bertemu seorang kiayi sederhana dari pelosok dusun. Wajah tuanya bercahaya menenangkan jiwa, setiap patah katanya menyejukkan melapangkan, geraknya santun dan penuh kelembutan. Badannya kurus karena puasanya tak putus sebagai bukti penghambaan pada Sang Khalik. Ilmu agamanya jangan tanya. Beliau tak usah panjang2 berdakwah,  cukup beberapa kalimat dan kita akan merasakan kedalamannya yang luar biasa. Tak banyak bicara banyak tersenyum, memandang kita seperti sedang mendoakan kita….
Sayang saya tak bisa berguru pada beliau. Benar2 seperti mutiara yang tersembunyi di dalam luasnya samudera: tak diketahui…. Tak dikenal…. Keindahannya hanya untuk Rabb dan orang2 beruntung yang mengetahuinya.

Saya ingin seperti itu….
Bukan seperti kamu.

image

image