Kalau kalian belum pernah jadi seorang ibu, mungkin kalian gak akan pernah merasakan perasaan yang saya rasakan itu. Jadi, somehow, kalau ibu kalian ngomel2 karena kalian telat pulang, itu adalah bentuk kasih sayang yang besar………………….ternyata. Hiks

Biasanya saya suka ribut kalau si kembar bolak balik minta ini itu, jajan ini itu, seakan-akan duit itu jatuh dari langit atau tumbuh di pohon dan bisa diambil kapan saja. Tapi meski tak minta dan mereka cuma berandai-andai tentang keinginannya mau beli ini itu, jajan ini itu, sayapun ternayata jengah mendengarnya. Meski sebetulnya keinginan2 mereka tak muluk2, dan kalau saya maksa beli saya bisa beli.

And then kemudian, disatu hari, si kembar tak pulang ke rumah. Jam sekolah sudah bubar dari jam 11 siang tapi sampai jam 4 sore anak2 itu belum muncul menghebohkan rumah. Saya mulai kebat kebit, lalu berkeliling mencari mereka ke rumah kawan2nya dan ke tempat2 yang mereka sering nongkrong. Tapi semua mengaku tak melihat mereka seharian ini. Saya semakin kuatir…. semua kemungkinan buruk melintas dikepala saya. Ya Allah… Ya Allah lindungi mereka, jagalah mereka…. begitu guman saya tanpa henti layaknya orang berdzikir dalam ketakutan dan pengharapan yang sama besarnya.

Pada saat itu saya juga berpikir, jahatnya saya tak mempedulikan keinginan2 mereka yang sederhana itu? untuk apa saya jadi penjaga uang yang bukan otoritas saya sebenarnya? saya seharusnya menjadi penjaga hati anak2, penjaga anak2! karena itu amanah yang diberikan pada saya! Untuk apa uang saya simpan2 atas alasan masa depan yang datangnyapun kita tak pernah tau??? lalu tega membiarkan anak2 yang jelas menjadi amanah saya itu kecewa atau tak gembira? bukankah membahagiakan anak itu adalah perbuatan yang baik juga? dengan catatan dengan cara yang. “harus bijaksana”? Pada saat itu saya merasa betapa tak berharganya harta dibandingkan dengan kehilangan anak. Ternyata saya super kaya karena punya anak! Kekayaan hakiki yang tak terasa kehadirannya sama sekali, simply karena DIA berbaik hati tak mengambilnya dari kita. Rasa syukur pun hambar tanpa rasa pada kekayaan yang ternyata TAK BISA DIGANTI DENGAN HARTA SEBESAR APAPUN DI DUNIA INI!!!! Saya bahkan sampai merasa siap menukar nyawa asal anak2 saya itu SELAMAT!

Ya Allah …Ya Allah….

Dalam ketakutan dan pengharapan yang sama besar, saya juga seperti diingatkan betapa TAK BERSYUKURnya saya pada apa yang telah DIA berikan dan pemberian itu ternyata sangat berharga bagi saya, hidup saya, dan jiwa saya. Maka diantara ketakutan, pengharapan, penyesalan, menyelip juga rasa kesadaran akan ke-alpaan saya selama ini. Meminta tapi lupa bersyukur, atau paling tidak, meminta dengan penuh rasa dan air mata dan bersyukur dengan hambar. Bukankah saya telah terbalik-balik? bukankah seharusnya mensyukuri itu lebih besar porsinya daripada meminta???

Tapi ternyata si kembar masih ada di sekolahnya, sedang latihan ketrampilan pramuka. Dzikir sayapun berganti dengan alhamdulillah…. tiba2 harta tak ternilai itu “dikembalikan” pada saya tanpa kekurangan suatu apapun. Ya Allah Ya Allah…. beberapa waktu sport jantung yang sungguh jadi shock therapy untuk saya itu tak akan pernah saya lupakan sensasinya. Waktu2 pendek yang mengerikan, mendebarkan itu, namun penuh sesak dengan nilai itu telah membuat saya begitu memaknai “alhamdulillah” dengan lebih, lebih,lebiih dalam lagi, dengan kuasaMU ya Allah.

Dan seharian itu saya biarkan si kembar jajan sepuas yang mereka mau. Mereka mungkin heran karena ibunya mendadak baik dan lupa jadi bawel. Sehingga minta dua ribu, cuma bilang :oke, minta lagi seribu, bilang : Oke lagi. Coba2 minta lagi dua ribu, masih bilang: oke. Sampai mereka berhenti sendiri meminta karena gak tega mungkin hehehehehe.

Mereka gak tau, pengalaman spiritual apa yang sudah menghantam hati ibunya sampai bisa jadi se- oke itu……