Al Maidah : 5

Ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikatkan kepadamu, ketika kamu mengatakan, “Kami mendengar dan kami menaati.” Dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.

Ini bacaan saya malam ini, lalu terpaku pada kalimat  soal perjanjian yang telah terikat antara saya dan Allah, Pencipta saya. Gerangan apakah isi perjanjian itu, saya belum hunting tafsirnya. Later…

Tapi yang pasti, saya merasa semua yang terjadi pada saya telah saya setujui, dan harusnya saya mentaati aturanNYA, bukannya malah nyeleneh kemana mana… Ya Allah ampunilah ketololan hamba ini.

Bagaimanapun, semua masalah yang dihadapi manusia, baik dulu, sekarang dan kelak, telah dirangkumNYA dalam kitab suciNYA. Itu sebab gak heran kalau saya dan sepupu saya nyaris punya masalah serupa. Begitu serupanya sampai kami bisa menertawakan diri masing2; karena beberapa respon kami pun ternyata sama.

Seringkali obrolan kami berisi masalah2 dan banyak tertawanya. Kami berdua sudah terlalu jenuh dengan masalah, sudah terlalu akrab, sudah terlalu biasa dengan masalah, pun kami sama-sama sepakat bahwa masalah tak pernah lebih besar dari Sang Maha Penciptanya. Sejauh kami bergantung padaNYA, maka apa yang harus kami takutkan dari masalah? Jatuh bangun bertahun tahun mungkin telah menempa kami berdua menjadi pribadi yang berubah banyak; dari batu apung, menjadi batu karang. Kami mungkin tak pernah menyadari… tapi orang2 yang melihat, atau mendengar bisa melihat perubahan besar itu.

Tapi saya sadar bahwa saya jauh berada dibawah level sepupu saya itu jika bicara soal sabar. Dia jauh lebih sabar dari saya. Saya ini apalah… wanita yang kalau sudah marah suka nekat dan gak pikir panjang. Kadang urusan yang vital bisa jadi nomor kesekian asal ego ini dilampiaskan dulu semarah marahnya. Menyesal urusan belakangan dan ternyata??? big mistake!!!

Tapi sudahlah… semoga ini memang jalan yang dituliskan untuk saya tempuh, termasuk nyasar2nya, tapi termasuk juga sadar2nya. Saya ini apalah… hanya manusia bodoh.

Tapi bisa menertawakan kebodohan dan menertawakan masalah dengan teman seperjuangan itu kadang bisa menjadi support, bahwa kita nih diuji rame2, kita gak sendirian dalam ruang ujian, banyak yang masalahnya lebih gila dari kita, banyak yang level kesulitannya up up high in the sky dari kita, jadi gak usah minder, gak usah juga merasa mahluk tiri, toh Allah tau banget by name, kita tuh seperti apa mampunya, kurangnya dan lebihnya.

Seni menjadi manusia itu ya ada di masalahnya, se art apa kita menjalaninya dan mengukirnya sehingga menghasilkan maha karya yang bisa dibanggakan didepanNYA.  Semakin sulit tantangannya, berarti karena ukiran kita memang indah….

Lalu sudah seindah apa saya mengukir masalah saya??? ntahlah… rasanya saya bukan seniman kehidupan. Karya2 saya banyak yang rusak dan busuk… ppppffftt

 

 

 

Advertisements