Pernah gak dinasehati begini ketika kamu punya masalah: “kamu siiih , kurang ngajinya, kurang baca qurannya” lalu ketika kita jawab “Aku baca quran kok”
Lalu dijawab lagi, ” Ya seberapa banyak dulu.. Kurang kalau cuma 1 dua ayat. Ya paling tidak selembar atau dua lembar”
Ini nih rasanya seperti orang mabuk yg masuk mesjid karena niat sholat, tapi diusir karena mabuk itu haram. Jangankan melaksanakan niat sholatnya, masuk mesjidpun tak boleh. Lalu kemana dia harus pergi setelah di mesjid dia tak diterima? Back to the bar of course and get more drink.

Somehow saya mikir, siapakah yang menentukan limit tentang kurang atau banyaknya ibadah seseorang? Bukankah limit itu milik masing2? Sesuai dengan kapasitas masing2? Dengan value masing2 pula? Misalkan, limit yg ditentukan orang tersebut mampu kita capai dengan segala daya upaya, apakah lantas menjamin terbebasnya kita dari satu masalah? Kalau begitu para ulama, para kiayi yang ibadahnya sudah unlimit itu mustinya bebas dari masalah dong??? Tapi apa iya? Manusia sekelas Rasulullah pbuh saja tak bebas dari masalah yang menyakitkan hati beliau dan sering membuat beliau menangis, apalagi kita manusia???

So, saya gak setuju sama sekali dengan nasehat serupa itu. Betul membaca quran itu bagus, betul mengerti quran itu bagus, betul memperdalam bahasa quran itu cool, tapi itu semua tak bisa dijadikan jaminan terbebasnya kita dari masalah. Mungkin ada yang bisa, tapi kebanyakan tidak selalu.

Yang paling tepat menurut saya adalah : “Bacalah quran, pahami quran, karena dengan begitu kau akan mendapatkan ketenangan dan kekuatan dalam menjalani ujian2mu. Pikiranmu akan menjadi bersih, hatimu bersih, lapang dan besar, sehingga masalahmu mengecil dengan sendirinya. Syukur2 masalahmu bisa berakhir karena Allah memang mengakhirinya. Tetapi kalaupun tak berakhir, setidaknya kau dibantu dengan kekuatan…”

Beda kan?
Ya.. Begitu saja…

image

Advertisements