Kadang2 kesel juga pada lupa bahwa orang itu berbeda-beda jalan pikirnya plus pintu ngertinya. Masalahnya, selalu kita disuruh maju and dont lose hope.

Saya itu tipikal yang tak mau tahu sebetulnya. Tak peduli. Tapi tugas untuk saling berbagi ilmu dan mengingatkan dan menasehati dan memberitahu itu ada di pundak saya. Kalau cuma menyampaikan ke anak-anak sih gampang, tantangan nyaris tak ada, tetapi menyampaikan kepada orang yang merasa sudah tahu segala-gala, menyampaikan kepada yang lebih sepuh dengan segala arogansi keseniorannya, menyampaikan kepada orang yang merasa lebih pintar inteleknya, atau kepada orang yang meragukan kereligiusan kita dan ilmu agama kita, itu yang butuh tantangan tinggi.

Swear kadang2 korin apa nafs saya membisiki: biar sajalah orang yang gak tau seterusnya gak tau, biar saja orang yang buta terus buta, yang tuli terus tuli apa urusanmu? Simpan saja pengetahuanmu itu sendiri, menjadi baik sendiri.. sudah titik, tak akan ada perjuangan, tak akan ada sakit hati, tak akan ada kecewa, titik. Tetapi ntah mengapa bisikan ini tak sesuai dengan kata hati saya sebagai manusia pengemban amanahNYA. Bukankah seharusnya ilmu yang kita miliki disampaikan pada yang belum tahu, dan ini benar sebuah amanah, ini perintah. Meng-estafetkan ilmu bermanfaat itu perintah… karena siapa lagi yang bertugas memperbaiki situasi pabila semua orang menyimpan ilmu untuk dirinya sendiri?

Soal respon itu bukan urusan kita. Soal apakah ilmu itu sama merasuknya di otak orang lain seperti halnya pada kita, bukan urusan kita. Masalahnya, reaksi orang yang kita terima itu seringkali menjadi urusan karena kadang-kadang tidak seperti yang kita harapkan. Ya harusnya memang gak usah berharap pada hal hal yang diluar kuasa kita. (Tapi saya kan manusia biasa yang kadang susah menghindari hal hal semacam itu …..tertunduk*)

Kadang memang saya merasa lega dengan apa yang telah saya lakukan (menyampaikan ilmu), meski lebih sering merasa menyesal telah menyampaikan karena seringkali tak membuahkan apa apa selain kecewa. Bukan urusan saya sebetulnya tapi begitulah hidup. Berjuang antara amanah dan hasil, antara harapan dan kenyataan yang lebih sering tak sejalan.

Mau gimana lagi? yang penting tugas tereksekusi…

Advertisements