Kemaren bertemu bapak, sudah semakin tua dan ringkih, makin bijak tapi juga makin rewel soal menu makan karena susah makan, makin tenang tapi juga makin malas bicara.

Bapak itu hebat dimata saya, sebagai anak pertama, bapak cukup keras pada saya tapi sekaligus cukup dekat. Mungkin karena saya sering mau naik ke atap rumah untuk betulin antena tivi, atau saya yang sering diajak bapak melakukan pekerjaan lelaki , simply karena saya memang paling besar. Disitulah mungkin jadinya saya dan bapak sering berinteraksi padahal saya punya adik lelaki yang usianya tiga tahun dibawah saya. Hanya saja, dibanding saya, adik saya jauh lebih lembut dan berhati-hati.

Jadilah bapak suka bela-belain kepentingan saya diatas kepentingannya sendiri. Waktu itu kantor bapak di Jalan Pasteur, sementara sekolah saya di Dago Pojok. Bapak itu masuk kantornya jam 8 pagi, sementara saya masuk sekolah jam 7 pagi, namun begitu setiap pagi bapak yang mengantarkan saya sekolah. Tentunya dia juga harus siap lebih pagi karena langsung ngantor sehabis mengantarkan saya. Pastinya bapak adalah pegawai yang tiap hari selalu datang paling pagi di kantornya, tapi bapak gak keberatan.

Sepanjang jalan kami sering ngobrol yang ringan2, tentang rencana2 saya dan banyak hal lagi. Bapak itu tak seperti ibu yang setiap ada kesempatan pasti bawaannya dakwah, bapak itu asik.. jarang menasehati malah banyak mendukung. “Pokoknya yang kamu suka pasti bapak dukung” begitu selalu katanya.

Bapak itu bukan tipe yang suka bercengkrama dengan anak-anaknya. Diluar jam kantor bapak lebih suka nonton tivi sambil baca koran, seruput kopi dan kudapan (pisang goreng itu favorit bapak), kalau ada anaknya disekitarnya , bapak akan sedikit tanya2 tentang apa saja yang ringan. Obrolan tak pernah panjang-panjang seperti kalau dengan ibu, bapak memang cenderung pendiam.

Bapak juga pembersih dan rajin. Dulu sering ngepel rumah sambil jongkok. Malah saya pernah duduk di sofa dan bapak ngepel di bawah saya, tapi bapak gak ngomel bilang saya malas or sirik liat saya duduk bak raja (coba kalau ibu, pasti sudah habis saya kena omel karena gaya saya itu). Bapak tak suka ngepel pakai alat, katanya tak bersih. Mencuci bajupun bapak sering, padahal sudah capek ngantor. Baju2 itu tak mau dicuci pakai mesin, alasannya tak bersih. Dan cuciannya bapak itu selalu wangi… celana2 dalam kamipun dicuci bapak padahal kami sudah besar2 saat itu. Lagi2 bapak gak pernah ngomel gara-gara itu.

Satu hal yang saya ingat yang paling tak disukai bapak, yaitu ribut. Jangan coba2 ribut di dekat bapak kalau gak mau di geplak koran atau diuber pakai sendal swallow. Belakangan saya tahu kalau bapak itu punya darah tinggi. Penderita tensi tinggi ini mendengar suara dua kali lebih keras dari orang normal, dan membuatnya pusing sampai naik pitam. Saya jadi mangut2 sendiri kalau ingat betapa murkanya bapak tiap kali mendengar saya dan adik saya berantem ketika dia sedang tidur siang, baru ngerti saya kenapa sendal swallow bisa mental ke kepala šŸ˜€

Satu hal lagi yang paling tak disukai bapak adalah anak perempuan yang gak seperti perempuan. Bapak menyediakan pecut khusus untuk saya kalau ketahuan naik pohon kersen. Betis saya bisa garut garut merah kena hukuman bila ketahuan naik pohon. Anehnya kalau saya naik pohon jambu kok gak dipecut ya? Belakangan saya baru ngeh, karena pohon kersen itu dibawahnya ada selokan dalam, dan cabang2 pohonnya kecil tak sekokoh pohon jambu. Nampaknya bapak gak kuasa nahan kuatir karena hal itu sehingga lebih baik melarang saya menaiki pohon kersen. Saya sendiri merasa gak ada yang perlu ditakutkan naik2 disitu qiqiqiqi.

Bapak itu tak begitu dekat dengan anak2nya karena sifat pendiamnya itu, tapi bapak asik. Bapaklah yang suka membelikan kami buku bacaan. Tiap ada acara bazaar buku, kami selalu dibawa kesana dan diberi jatah uang untuk membeli buku2 pilihan kami sendiri. Kalau bapak torney keluar kota, bapak selalu bawa oleh-oleh buku bacaan sampai 10 atau 15 buku. Saya senaaaang sekali!! dan coklat tak pernah ketinggalan. Kadang2 ibu pesan supaya bapak belikan oleh2 baju, dan bapak akan belikan. Kebiasaannya itu terus berlangsung sampai kami besar namun masih dalam pengasuhannya. Bapak masuk sebagai anggota sebuah toko penyewaan buku, lalu setiap weekend bapak akan menyewa satu kresek buku2. Bukan buku2 tipis dan komik lagi karena kami sudah besar, melainkan novel2 best seller termasuk novelnya Agatha Christy dll, atau komik berat seperti asterik, tin tin…dll. Senang sekali! Tiap journey ke luar negeri, coklat tetap tak pernah lupa dibelikan untuk kami, bahkan ukurannya semakin besar. Kalau dulu Silver Queen, kali ini bisa Cadbury dan Van Houten, yang ukurannya 250gr.. dan tiap anak bisa dapat dua! Itupun masih plus es krim yang bapak beli di perjalanan pulang…bisa sampai 6 box es krim. Bapak memang doyan jajan! dan kami yang ikut happy!!!

Saya juga ingat ketika saya hamil anak pertama, yang sibuk memperhatikan saya ya bapak saya itu, bukan suami saya. Sebelum pulang dari kantornya, bapak selalu menelpon saya yang juga sudah ngantor, ” Mbak pengen apa? nanti bapak belikan sambil jalan pulang”, dan saya akan dengan happy bilang keinginan saya. Saat itu saya memang masih serumah bapak. Sampai anak saya lahir who is cucu pertama bapak, bapak sangat perhatian. Tengah malam kalau bayi merengek dan saya masih ngantuk, bapak akan dengan senang hati menidurkan cucunya itu, padahal bapak juga masih aktif di kantornya. Bapak memang hebat!!!!

Tapi sekarang bapak tak bisa melakukan itu semua, jalannya saja sudah tertatih dan harus bertumpu ditangan saya. Saya selalu merasakan tangannya yang keriput dan dingin ketika saya memegangnya kuat2 supaya tidak limbung. Bapak sudah tak segagah dulu. Bapak sudah sering menangis terharu melihat hal yang manis sedikit saja. Bapak tak lagi bisa menyembunyikan perasaannya, sudah seperti anak kecil. Saya tak pernah melihat bapak menangis ketika bapak muda dulu, begitu pandainya bapak menyembunyikan kebahagiaan atau kesedihan yang menggigit. Sekarang saya biasa melihat bapak nangis…nangis bahagia atau haru.

Saya selalu dibisiki bapak lewat telpon ataupun bicara langsung ; kebahagiaan itu hanya dua..kamu bisa tidur nyenyak dan kamu masih bisa makan dengan perasaan enak, selama kamu merasa seperti itu, bersyukurlah karena itulah kebahagiaan yang hakiki. Saya kini mengerti, ucapan bapak yang sederhana itu ternyata bermakna luas dan dalam. Benar kesehatan itu kekayaan tak ternilai dan jauh dari hutang, atau beban financial itu adalah kedamaian hidup yang hakiki. Itu maksud bapak… itu….

Saya ingin bapak hidup dan mati bersama-sama saya supaya saya tak merasakan kehilangan bapak. Semoga saja bisa begitu, ya kan pak?

1a25efee2c4051d53c4ef4de691447df

Advertisements