Akhir-akhir ini ada beberapa kawan yang getol curhat pada saya. Ngantuk2pun saya jabani karena kasian… kebayang kepalanya mumet penuh masalah dan butuh keranjang sampah asik seperti saya (uhuk). Ada yang suaminya selingkuh, ada yang selingkuh dengan suami orang, ada yang sudah cerai lalu menjadi serbuk kembang yang dilalerin tawon2 jantan (hmm..dilalerin tawon itu gimana ya bentuknya? dikerubutin seperti dilalerin begitulah), ada yang diancam mau dicarai padahal cinta bangeeet dia, ada yang tak punya anak, ada pulak yang kesepian, ada yang ingin jadi mualaf…. dan saya baskom tadah curhat mereka.

Padahal, masalah saya sendiri segudang, bisa diredam memang, tapi tetap mumetin kadang2. Anehnya, ketambahan curhat kawan2 itu malah membuat saya bisa lupa pada masalah saya sendiri. Lucunya lagi, sebagai keranjang sampah profesional karena “jam terbang jadi pendosa” cukup tinggi (ngakak sendiri), saya bisa sangat mengerti kondisi mereka2 itu, saya bisa memposisikan diri pada orang yang mendholimi dan yang di dholimi. Hebat ya? Layaknya curhat soal dosa ke bekas preman yang tobat, pastinya responnya akan berbeda dengan curhat soal dosa ke orang suci yang tak pernah punya pengalaman berselancar di lautan dosa. Respon si preman pasti lebih full understanding. Tul?

Lucunya, saya mulai ngeri memberi nasehat, pertama; saya harus menasehati yang sudah saya lakukan, bukan yang masih teori. Munafik namanya ituh. Kedua, saya ngeri berkesan menggurui sehingga nasehat saya malah menjerumuskan kawan karena dia jadi kesal pada saya. Ketiga, saya ngeri salah kasih komen, sehingga akibat salah saya itu dia berubah pikiran ke arah yang sebaliknya dari yang saya harapkan. Keempat, kadang saya bingung harus mengatakan kebenaran yang menyakitkan atau mendukung tapi menyesatkan?. Kelima, saya tak ingin menjadi orang yang sok suci, padahal saya ingin sekali mengatakan dia salah! dia dosa! again karena sayapun seorang pendosa cuma deal with different evil aja dengan mereka. Pertarungan ini terus berkecamuk dalam hati saya selama saya menjalankan peran sebagai keranjang sampah. So annoying… tiap kalimat saya harus mikir gimana baiknya.

Karena saya wanita, somehow saya tahu apa yang dibutuhkan wanita saat mereka curhat, sama sekali mereka tak minta sebuah jalan keluar sebetulnya, tapi simply cuma minta didengar dengan penuh perasaan aja. Hahahahaha… karena ketika mereka diberi jalan keluar, mereka tak suka. Adat keras kepala wanita itu seperti sudah mendoktrin mereka untuk tidak menerima apapun saran ketika melakukan curhat, hanya ingin didengarkan saja dan dimengerti perasaannya, itu tok. Kalau kita nekat menyarankan sesuatu, usually mereka akan merasa seperti orang tolol yang diarahkan tentang sesuatu yang mereka sebetulnya sudah menyadari atau mengetahui.

Lain dengan pria, ketika mereka curhat, mereka suka dengan ide ide jalan keluar yang melegakan, atau kesimpulan2 yang meluruskan. Mereka tak minta dimengerti perasaannya.. gak terima malah kalau dikasihani karena merasa jadi seperti banci yang kewanita-wanitaan.

Saya cuma , kemudian, berharap padaNYA, supaya saya diberi kekuatan akal, dan pikiran untuk mampu memberi sedikiiiiiit saja cahayaNYA pada kawan2, seperti DIA telah memberi saya cahaya lewat ustad Nouman dan mereka2 yang telah tak pantang mundur menasehati saya bertahun-tahun….. semoga saya bisa menerangi kawan2 saya sesedikit itu…

a6b4526f29ce2f8b63ce3334af691c67