“Aku tak pernah bersedekah dengan pamrih” begitu kata adik saya suatu hari . Saya lupa awal obrolan kami itu apa. Dia lalu balas melempar tanya pada saya, “Apa kau juga ngejar imbalan dari perbuatan baikmu?”. Saya menjawab singkat, “Sepertinya ya”. “Aku pikir orang yang sengaja sedekah seribu untuk dapat sepuluh ribu itu gak iklas. Hitung-hitungan. Apa kau begitu?” tanyanya lagi.

Saya mikir sejenak mengingat-ingat… rasanya sih pernah memang saya begitu, tapi juga sedekah gak pakai itung-itungan sering juga, tapi yang jelas prinsipnya cuma satu yaitu dalam jawaban saya ini, “Pada dasarnya, kalau aku pribadi, aku cuma mengejar janji Allah”

CWElaCeWwAA9L4R

Adik saya terdiam, nampak berpikir. “Allah berjanji apa? itulah yang aku kejar. (lanjut saya) JanjiNYA itulah. Allah menjanjikan balasan berlipat kali? itulah yg aku kejar. Jadi susah bilang apakah aku iklas atau tidak. Bila dikata iklas, aku iklas karena Allah telah berjanji. Bila dikata aku tak iklas karena aku ingin balasan sesuatu, gak betul juga, karena Allah memang sudah menjanjikan sesuatu. Jadi aksiku itu aku lakukan karena Allah telah duluan meletakkan janjiNya. Dan mau dibilang iklas atau aku ngejar balasan, menjadi tak ada bedanya. Toh Allah tetap menepati janji. Mungkin value nya menjadi berbeda, misal iklas atau cuma karena mau Allah menepati janji. Walahuallam… iklas mungkin rewardnya lebih banyak”

“Anak yang sudah kita janjikan hadiah sepeda kalau naik kelas, dan anak percaya kita selalu akan menepati janji. Ketika dia belajar tiap malam, dan berusaha keras menghapal pelajaran, susah untuk bilang apakah itu dilakukan dengan iklas atau tidak selama yang ada di hatinya adalah rasa percaya bahwa orangtuanya pasti menepati janji. Itu seperti bicara lebih ke soal PERCAYA nya daripada HADIAH nya. Mengerti?”

Dan pembicaraan selesai begitu saja. Adikku mangut mangut… mungkin dia setuju, atau setuju. Heheheheh

a9cad5d462ee4b509d471ec500283754

26189e640e002c344329ce1d30bfd60a