Aku tak tau ada kekuatan apa di dalam diriku ketika kata-kata itu kusemburkan. Semoga saja itu bukan kekuatan setan yang menjerumuskan. Aku ingin itu kekuatanNYA.

Tapi adikku bilang kekuatanNYA tak pernah muncul dalam bentuk kata kata yang menyakitkan, kekuatanNYA itu selalu muncul dalam kata kata yang humble, bijak dan tak mengandung “silet”. Dan akupun terdiam… tetap berharap setidaknya itu kekuatan binatang, harimau, bukan setan. Aku sungguh benci berurusan dengan setan. Kerjanya selalu menjerumuskan, selalu membuntukan jalanku, selalu menipuku, tak pernah berujung indah. Dasar setan!

Ada semacam kelegaan memang ketika kita mampu memuntahkan apa yang membuat perut gak enak, sebuah kelapangan rasa. Bumi bahkan mampu menciptakan tsunami hanya untuk mengeluarkan beban yang tak kuat dipanggulnya. Dan setelahnya damai tercipta, setenang bulan yang memancarkan sinar lembutnya setiap malam.

Entahlah, sudah kubilang aku sekarang sangat berhati hati memberi nasehat. Sumpah aku takut salah target. Padahal aku melakukan itu dalam kekalemanku yang paling sempurna, apalagi nasehat yang kusemburkan dengan kekuatan nafs dan ego? bukankah lebih beresiko meleset dari target? alih alih mengenai target, justru malah melukai dan membuat kondisi jadi tambah runyam. Disitulah memang bahayanya marah.

Masalahnya aku memang sudah muak karena hal hal itu saja yang menjadi borok bertahun tahun, terpendam bak fosil di lapisan bawah bumi tapi bak penyakit menahun juga yang tak pernah sembuh malah bertambah parah. Really aku benar benar ingin memuntahkannya, kalau bisa ke planet pluto. Biar sehat jiwa ragaku dan susah baginya untuk kembali padaku.

Tapi tak taulah…karena hanya Tuhan yang mengarahkan semburanku itu apakah masuk ke dalam mangkok kepalanya atau cuma sekedar menciprati lalu kering tanpa bekas.

Sigh*

13935156_1330124780335839_321116863005809137_n

Advertisements