Hampir semalaman saya dan kawan saya yang sedang dalam pencarian “buru2” itu bertukar pikiran. Kadang2 ego saya naik saat dia memuji umat nabi Isa. Susahnya disitu, menahan diri untuk tetap cool tak terpancing, karena saya merasa duta Islam. Saya harus se-cool mungkin untuk menjelaskan bahwa yang dia puji puji itu adalah ajaran Islam juga, cuma dia saja yang belum pernah dengar.

Sumpah mati, saya ingin menyombongkan agama saya didepannya, tapi saya tahu bangett ini ego saya, pure ego. Saya harus sabar ketika dia menunjukkan ketertarikan lebih pada agama nasrani. Saya hanya ingat ucapan ustad Nouman : sampaikan saja yang kau ketahui tanpa ego didalamnya, dan tanpa harapan apapun terhadap manusia kecuali kepadaNya. Jadi saya banyak mengangguk mengiyakan pendapatnya (yang memang benar adanya soal nasrani) daripada menyombongkan Islam. Namun meski begitu, saya menimpali : di Islampun ajaran itu ada…. atau..yup di Islam dikatakan demikian juga…atau ya betul nabi Muhammad pbuh juga mengajarkan begitu…

Kadang2 saya kesal karena tak bisa melepas ego saya. Tapi kan bukan begitu cara Rasulullah, bukan melepas ego beliau seperti yang saya hasratkan ampun-ampunan. Saya belajar menjadi humble hehehehe, dan luar biasa mengesalkan sekali, karena saya harus menekan kebiasaan sok tau saya dan kesombongan saya jauh jauh di bawah kaki saya; megap-megap. Tapi kenapa harus pusing, toh yang merubah hati kawan saya itu bukan saya? harusnya saya santai aja kan. Mau saya blingsatan nyombong atau sekalem air aquarium, tetap Allah yang menentukan pandangannya tentang islam.

Itu sebab saya kesal sekali pada muslim yang super arogan menunjukkan keyakinannyalah yang maha benar. Kadang2 orang sampai tak melihat kebenaran karena tertutup kesombongan…bagaimana pesan itu bisa sampai jika belum2 sudah dibentengi oleh ego dan sok !

Oh well, saya cuma berteori, somehow ada orang2 tertentu yang memang harus diperlakukan sombong sehingga kadangkala saya menyampaikan sesuatu dengan caranya. Mungkin salah, mungkin juga tidak. Again, hanya Allah yang memutuskan apakah omongan kita bakal nyangkut dan bersarang di kepala seseorang, atau cuma mendesing-desing melewati kepalanya; meleset semua. Walahuallam….

Dan kawan saya itu akhirnya memutuskan mempelajari islam setelah mengucapkan dua kalimat sahadat……

Advertisements