Tadi malam teman di grup menyodorkan kata2 yang bunyinya intinya seperti ini : JADILAH WANITA MANDIRI UNTUK JAGA2 JIKA SUAMI TAK KERJA, SUAMI SAKIT, SUAMI PULANG KE RUMAH WANITA LAIN. Intinya wanita diharuskan mandiri jika bersuami.

Yang lain (kebanyakan memang wanita karir) bilang setuju kecuali saya (saya eks wanita karir, yang disuruh berhenti bekerja oleh suami, tapi kemudian disuruh bekerja lagi, and it was too late … no more chance). Saya bilang tak setuju bukan karena saya anti kerja (in fact saya menikmati kerjaan saya saat itu dan malas kawin malah gegara itu), tapi karena di Islam prinsip hidup wanita itu bukan sebagai pencari nafkah!! kecuali kalau memang kondisi memaksa dia harus mencari makan jika taruhannya lapar dan mati.

Saya pikir, untuk apa wanita menikah kalau toh harus mandiri??? yeaaa yeaaaa untuk jaga2 itu benarrrrr, tapi itu bukan prinsip utama. Wanita itu selalu menjadi tanggung jawab pria, sesudah bapaknya, lalu ke suaminya, nah kalau suaminya tak ada lalu ke saudara lelakinya, lalu terakhir tanggung jawab anak lelakinya. Begitu dimanjanya wanita dimata Islam. Tapi ini tentu fair melihat tugas wanita yang tak kalah beratnya dengan pria yaitu : merawat keluarga, mendidik keluarga, dan membantu tugas suami sebagai imam keluarga. Nah hal hal ini gak mungkin bisa berjalan lancar dan perfect kalau wanita kecapekan atau stress atau terbebani secara mental.

Wanita itu kuat, itu betul, tapi sebatas apa dulu? kuat ngomel supaya anak2 paham apa maunya orangtua (study membuktikan cara mengerti anak kecil itu diperoleh dari pengulangan), kuat mengulang2 hal yang sama (rutinitas rumah tangga), kuat mendengar anak menangis, kuat mendengar anak bertengkar, kuat disuruh nyuap sampai kejar-karjaran, kuat disuruh bolak balik beresin rumah, kuat disuruh makan sisa makan keluarga, kuat staminanya (wanita lebih jarang sakit dari cowok, tau gak?), dll. Tugas wanita ini akan berantakan dan tak maksimal jika dipundaknyapun diserahkan ketentuan untuk mandiri. Wahaiiiiii…. untuk apa nikah?  Wanita tak akan kuat menjalankan kesempurnaan jika pundaknya kanan kiri dibebani tugas yang tak hanya memang tugasnya tapi tugas suaminya juga! Gila apa lu?

Kalau wanita wajib mandiri cuma karena dia menikah, lalu untuk apa menikah? Jadi jomblo saja bisa kaya raya tanpa tanggungan? Biar saja lelaki tak usah ditemani wanita kalau keberadaannya cuma untuk menyusahkan wanita? Kalau harus mandiri jaga2 suami jika sakit, ya gak usah kawin saja? Atau kalau dia sakit ya tinggal saja cari yang sehat? why not? Kejam sekali kan?? memang. Itu sebabnya cuma kebaikan hati seorang wanitalah yang mampu membuatnya bertahan pada suatu kondisi dimana dia seharusnya tak boleh berada. Kalau wanita kemudian terpaksa mandiri untuk menghidupi keluarga karena suami yang tiba2 “tak bisa berfungsi” itu bukan karena “memang sudah kewajiban istri mengurus suami” ohohohoho… NO! tapi karena istrinya memang super malaikat yang mau dibebani hidup suaminya yang seharusnya tak menjadi bebannya.

Dulu saya pikir kejam sekali wanita yang menaikkan harga maharnya sebuah rumah diatas tanah 500, plus kendaraan kekinian, beberapa krat berlian dan emas terhadap lelaki yang hendak mengawininya dengan cinta. Tapi dikemudian hari saya pikir, tindakan itu tepat. Kalau suaminya kelak sakit, istri punya cukup harta untuknya sendiri dan terserah dia akan dia apakan. Again, kalau dia berhati malaikat, dia tak akan tega meninggalkan suaminya yang sakit, meski dia bebas melakukannya. Hal lain lagi adalah, pria menjadi terpacu untuk membuktikan cintanya pada si wanita, sehingga dia berusaha keras mencari harta untuk pujaan hatinya itu. Ya memang haruslah diawal awal hubungan, dimana saat itu cinta sedang bungah2nya … mencurah tak terbendung dan bisa jadi booster semangat cari uang. Kalau syarat itu ditetapkan setelah 10 tahun pernikahan, kelar hidup lu!

Cuma, di Islam, lagi2 tak dianjurkan sekeji itu terhadap calon suami. Sebaik-baik wanita adalah yang maharnya murah dan memudahkan calon suaminya, itu saya… hahahahaha. Saya tak begitu mempersoalkan harta meski ditengah perjalanan ternyata harta jadi persoalan.

Saya pikir semua ini bermuara pada ketawakalan kita. Seharusnya, jika tak ada yang salah dengan jalan hidup kita dan pilihan2 hidup yang kita pilih, semua akan berjalan baik-baik saja. Wanita tak wajib mandiri, untuk apa? fokus pada keluarga itu jauh lebih penting daripada mengkuatirkan masa depan. Sentuh anakmu, pegang anakmu, bukan pegang meja dan komputermu, itu utamanya wanita.

Jika suami tiba2 tak menghasilkan, tentu banyak jalan yang bisa ditempuh setelahnya, cobalah mandiri saat itu saja… ikhtiar dan niatkan pada Allah bahwa apa yang diusahakan adalah untuk kepentingan keluarga, tawakal bahwa memang keputusanNYAlah yang membuat wanita harus mandiri saat suami sakit. Paling tidak jedah waktu antara suami masih produktif dengan suami tak lagi produktif telah diisi dengan kegiatan fokus pada keluarga.

So, mengiming-ngimingi wanita harus mandiri itu buat saya adalah ajaran dajjal saja. Alasan apapun dibalik itu cuma berarti satu : tidak tawakal. Yang jelas jika semua wanita berlomba mandiri, bagaimana dengan anak? bagaimana dengan keluarga? Bukankah ini maunya dajjal? menyingkirkan peranan seorang ibu sebagai ujung tombak pertama pendidikan moral bangsa????

Advertisements