Memanglah benar kalau kehidupan kita biasa biasa saja, datar-datar saja, tak akan ada booster untuk kita berlari kembali pada Allah dan menangis sesenggukan di hadapanNya dengan segala rasa dan kedalamannya. Tak mungkin!!

Perasaan bahwa hanya DIAlah Sang Maha Penolong dan Maha Pemberi jalan keluar, tak akan muncul se-greget itu jikalau kita tidak “didesak” dalam suatu situasi dimana kita dibuat tak punya pilihan lain selain kembali kepadaNya.

Kadang2 saya sampai pada satu titik “menikmati” kesusahan. Jangan bilang saya menantang Allah dengan diberi susah, tapi melihat betapa makna kesusahan itu bagi manusia, sungguh membuat saya antara maju dan takut. Ternyata kesusahan yang dipandang dari kacamata hikmah itu sangat indah. Keindahan itu muncul tentulah dengan pembanding, yaitu respon yang berbeda dengan jikalau manusia bersujud (padaNya) tanpa beban susah dihatinya.

Allah tahu kemampuan saya menanggung desakan derita itu sejauh mana, saya hanya , kadang berpikir, kesusahan ini belum apa-apa jika dibandingkan kesusahan manusia sebelum-sebelumnya, atau orang2 muslim di Palestina sana yang hampir sepanjang hidupnya sudah bukan lagi kesusahan, namun siksaan dan penderitaan tiada henti, tiada jeda, bahkan sampai kematiannya datang.

Saya, saya bukan apa-apa dibanding mereka. Ketika saya berlari kepada Allah dan menangis diatas sajadah, itu tak seberapa dengan teriakan seorang ibu, menangis histeris menyebut kebesaranNYA menguji ia, dengan melihat anak kesayangannya mati dengan lubang di kepala akibat tembakan pasukan dajjal laknatullah, zionist. Ini sebuah pengorbanan bapak muslim sedunia Ibrahim, tapi versi “keras” karena anak anak Palestina itu mati tanpa tergantikan oleh kambing apapun juga!

Begitu banyaknya manusia yang diposisikan olehNYA dalam situasi super keras hanya untuk melihat sejauh mana mereka tunduk pada keputusanNYA dan sejauh mana mereka, membuktikan sumpah manusianya bahwa DIAlah Allah My Master, My Only God, dan hanya kepada Allah lah manusia tunduk dan iklas melepaskan semua godaan dunia fana yang selalu menabiri hubungannya dengan Sang Pencipta.

Ujian atau tes, sejauh mana seorang hamba memposisikan dirinya sebagai hamba, tentunya hanya ada di dunia fana ini, hanya sesebentar ini, dan hanya sesingkat ini, sesedikit ini, sebagai bekal jalan panjang yang kelak akan kita tempuh setelah kematian ke-3 (dimatikan di bumi). Lalu jikalau inilah fase terpenting dari masa depan kita yang sesungguhnya, haruskah kita menolak semua rencana baikNya terhadap kita? menggerutu? memaki nasib? mengutuk langit? isnt that stupid then?

Jika saja kita selalu sadar betapa waktu itu berlari dengan kecepatan yang konsisten tanpa tundaan apapun, membawa kita semakin kekurangan kesempatan, kita sungguh tak punya waktu untuk mengeluhkan kehidupan ini melainkan mencari celah ibadah di setiap waktu, disetiap kondisi dan situasi; mencari ladang amal untuk ditanami, mencari ladang ilmu, dan mencari ladang ibadah…. sesungguhnya waktu kita sangat sebentar dibanding waktu sesudah kematian…..

282446_170315689701798_5822528_n

Advertisements