Sebetulnya gak masalah kalau ada perbedaan pendapat tentang menafsirkan ayat, apalagi perbedaan itu diketahui seluruh muslim di dunia ini. Buat saya ini menunjukkan keterbatasan manusia dalam menerjemahkan maksudNYA. Meskipun sang Rasul Muhammad saw telah menunjukkan banyak contoh lewat prilaku beliau, tetap saja ummatnya mengalami perbedaan faham.

Tapi buat saya begini, saya sangat percaya Islam itu agama yang adil, agama yang menjunjung tinggi kemanusiaan, agama yang mengajarkan kejujuran dan kesantunan, agama yang lebih memilih kedamaian daripada pertikaian, agama yang lebih suka mendinginkan daripada memanaskan, agama yang mencintai semua jenis mahluk hidup didunia ini dan memberikan hak2 mereka sebagai sesama mahluk hidup.. bukankah itu juga merupakan tugas seorang khalifah? harusnya ini sudah sesuai dengan kehendakNya.

Lalu jikalau terbit perbedaan pendapat, bukankah kita diharuskan lebih condong pada pendapat yang paling adil dan paling damai? condong pada pendapat yang mengutamakan penghormatan kepada sesama mahluk ciptaanNYA? bukan malah condong kepada pendapat yang berbau kebencian, rasial, keributan dan jauh dari kedamaian serta keadilan?

Dalam hal kafir, ada perbedaan pendapat. Ada yang berpendapat bahwa kaafir itu ya non islam, ada yang berpendapat kafir itu adalah orang yang menolak kebenaran. Kafir pendapat pertama jelas diperuntukkan untuk orang2 diluar agama Islam, namun definisi kafir pendapat kedua adalah bahwa tak semua non islam itu disebut kafir jika mereka punya iman kepada Allah dan rasul2NYA, sebaliknya juga seorang muslim bisa disebut kafir jika dia kehilangan keimanannya. Di quran sendiri Allah jelas menyeumpamakan kafir seperti petani yang menanam benih lalu menutupnya dengan tanah. Demikian detil perumpamaan itu, sebagai seseorang yang mengetahui sesuatu (gak mungkin seorang petani tak mengenali benih yang ditanamnya) meletakkan sesuatu lalu menutupi sesuatu dengan tanah. Itulah yang disebut kafir oleh Allah. Bukankah peerumpamaan itu bisa mencakup semua manusia dibumi ini tanpa memandang kepercayaan?

Ketika saya mengetahui sesuatu itu dosa besar tapi saya tetap melakukan sesuatu itu, bukankah saya sedang melakukan perbuatan menutup benih (kebenaran) dengan tanah (ketidakpedulian)? Bukankah saya telah memenuhi kriteria disebut kafir??? lalu bagaimana dengan non muslim yang selalu menjunjung tinggi kebenaran? selalu takut menjadi tak peduli dengan kebenaran? mengimani Allah sebagai Tuhan dan mempercayai semua rasul2Nya? termasuk Nabi Muhammad saw? layakkah dia disebut kafir? apakah dia melakukan tindakan mengubur benih kebenaran dan mengingkarinya??? tidak.

Ulama yang sangat faham dengan ilmu Quran, akan berhati-hati dalam menyebut seseorang dengan sebutan kafir, mereka berani menyebut kafir hanya pada orang2  yang telah digelari kafir oleh Allah dalam kalamNYA (Quran).Hanya Allah lah yang Maha Tahu atas siapa2 saja orang yang mengingkari keimanan dalam hati mereka. Kita manusia sama sekali tak berhak menuding atau menilai sesuatu yang bukan teritori kita, kita tau apa? Itu sebab Rasulullah saw sangat menghormati dan menghargai seluruh manusia baik itu yang jahat ataupun yang baik, dan beliau tak pernah menggelari orang2 dengan sebutan kafir jikalau Allah tak menyebut mereka kafir. Meskipun agama, dan keyakinan berbeda Rasulullah tetap memperlakukan mereka setara dengan memperlakukan saudara sendiri, memberikan hak-hak mereka sama dengan yang diberikan pada sesama muslim, sama sekali tak membedakan apapun. Jika mereka dinilai pantas, mereka akan mendapatkan apa yang pantas untuk mereka dapatkan sama dengan yang didapatkan kaum muslim.

Masih berbeda soal definisi kafir, muncul lagi ayat tentang pemimpin kafir. Again terjadi perdebatan tak kunjung henti. Sudahlah berbeda definisi kafirnya, berbeda pula definisi kata “awliya” yang diterjemahkan sebagai pemimpin oleh yang lain dan diterjemahkan sebagai sekutu oleh sebagian lainnya. Again, perbedaan itu adalah atas kehendakNYA, tentu saja. Lalu saya jadi bertanya, instead of mencermati pendapat yang mana yang paling benar dan paling mendekati quran dan hadis, sebetulnya ada ujian apa dibalik perbedaan ini? karena ini ternyata tak hanya terjadi di Indonesia tapi diseluruh dunia. Apa? ujian apa?

Apakah yang dinilai dari “dimunculkannya” perbedaan ini? tapi yang terjadi memang sungguh menjengkelkan. Ulah muslim menyikapi perbedaan ini sangat ,sangat, meng -undergrade agama Islam. Saya bayangkan para kawan non muslim diluar sana melihat kita, muslim, sambil membatin : “Ajaran agamanya sendiri mereka tak mengerti, mereka saling berbantahan. Lalu dimana bagusnya ajaran ini kalau mereka saling tak sepakat dan berantem saling menghujat ?”.

Yang lebih gak lucu lagi adalah ketika muslim menghujat saudara muslimnya yang berbeda pendapat dengannya sebagai “tersesat, kesetanan, muslim liberal, atau calon penghuni neraka”. Siapa yang mau terima dihujat seperti itu? bukankah perbedaan pendapat itu bukan hasil karang2 semata tapi ada sumber2 yang diikuti, ada pendapat ulama2 yang diikuti? apa pantas menghina ulama yang pendapatnya diikuti itu? bukankah ulama juga berilmu tinggi dan tak perlu diragukan ilmunya??? tapi orang yang menghakimi dengan vonis calon penghuni neraka, atau muslim sesat, benar2 telah membuat setan berpesta pora atas kemenangan mereka! dan muslim yang tak terima dituduh begitu lalu membalas dengan hujatan tak kalah menyakitkan pun membuat setan terbahak bahak dalam pesta mereka itu. Tujuannya tercapai…memecah belah umat!!

Inilah yang ditakutkan oleh Rasulullah, gontok-gontokan dalam intern muslim itu sendiri. Karena manusia yang mengikuti hawa nafsu dan waswasa setan itu jauh lebih nyetani daripada setan itu sendiri, apalagi manusia nyetani itu adalah ummat rasulullah saw sendiri, yang berpotensi menghancurkan Islam dari dalam. Potensi menghancurkan yang jauh lebih besar daripada musuh2 Islam diluar Islam!!

Saya pikir disinilah letak ujian “perbedaan pendapat soal tafsir”, apakah umat bisa meredam ego masing2 sehingga meski berbeda pendapat Islam tetap kuat karena umat yang solid, atau umat tak mampu meredam ego sehingga perbedaan pendapat membuat umat terpecah belah lalu lemah dan mudah dikalahkan? walahuallam…

Advertisements