Seumur umur baru kali ini ngalami kejadian yang aneh.

Anak saya yang besar agak pendiam memang orangnya. Umurnya sudah 18 tahun dan ceritanya, tahun depan dia ingin ikut UMPTN lagi setelah yang tahun ini gagal masuk. Kelihatannya dia gak tau harus milih apa. Itu memang gejala umum anak SMA yang mau menuju universitas. Dikepala mereka itu biasanya kalau bukan kampus fave ya jurusan fave yang ngarahnya ke gaji fave. Prestige jurusan jadi inceran no 1 bukan lagi soal apakah jurusan itu disukai atau apakah kelak dia akan bekerja sesuai pilihannya itu? Diluar semua urusan prestiga dan fave itu gak mereka anggap penting sama sekali. Padahal banyak kejadian yang sarjana IPB malah jualan kue, yang Insinyur malah mendalami dagang, yang IKJ malah jadi jurnalis… berantakan. Pekerjaan tak sesuai dengan ilmu yang dipelajari selama kuliah. Terasa banget mubazirnya….

Begitu pula yang terjadi dengan anak lelaki saya ini. Sering saya pancing pembicaraan mencoba mengingatkan dia tentang tak pentingnya universitas atau jurusan fave. Yang lebih penting lagi dari itu semua adalah pekerjaan apa yang kira kira bakal dia sukai sehingga yang dia perlu cari adalah ilmu yang mengarah ke pekerjaan itu, dan untuk ini kadang2 tak perlu berjibaku mati matian berebut kursi fave. Tapi seperti orang yang baru menginjak dunia baru, anak anak baru lulus ini benar benar tak punya gambaran tentang pekerjaan yang berhamburan di muka bumi.

Lalu ada kejadian yang menurut saya lucu sekaligus aneh yang menimpa anak saya ini. Tiba2 saja dia ambuk demam dan pusing berat. Saya yang tadinya asik ketawa ketiwi malam itu harus mau tak mau menemani anak saya melewati hari hari beratnya sampai subuh dan subuh lagi.

Yang namanya paracetamol seolah tak mempan mengurangi sedikiiit saja rasa pusing yang dia alami dan demam tingginya. Diagnosa awal saya sebagai ibu, setelah introgasi, adalah anak ini masuk angin. Masuk angin yang super akut. Jadilah malam itu kami cari obat masuk angin yang sering diiklankan.

Sekitar pukul 1 malam setelah semua usaha kami lakukan tetap tak mengurangi pusingnya, mendadak anak saya ini seperti tercekat dan pandangan matanya berubah, dia mulai ngoceh yang aneh2. “Iiih ibu, apa itu? hiii apa ituu?” dengan pandangan liar seolah olah banyak mahluk aneh yang dia lihat di kamarnya itu, di setiap pojok. Tangannya menggenggam lengan saya dengan tekanan yang berubah ubah tergantung rasa terkejutnya atau takutnya. Kemudian dia berkomunikasi dengan alm kakungnya yang sudah meninggal sekitar 3 tahunan lalu.

Anak saya ini nampaknya setengah kehilangan kesadarannya dan biasanya pada kondisi ini memang manusia bisa melihat alam ghaib. Ingin memastikan ocehannya apakah benar atau cuma sekedar ocehan orang gak sadarkan diri, saya rajin melempar pertanyaan. Tentang seperti siapa wajah alm kakungnya, pakai baju apa, dimana rumahnya , sedang apa? siapa saja yang dia lihat saat itu, apa saja kata mereka, dll.

Ini pernyataan2nya yang masih saya ingat; ibuuu, kata kakung, kakung sayang sama saya, kakung sayang sama ayah. Saya disuruh minum obat sama kakung supaya sembuh. Hiii, ibu ada nenek jahat disana (melihat keatas ke arah pojok). Nenek jahat nidurin saya bu, hiii pergi huss pergii. Kakung usir2 nenek jahat itu. Kakung ganteng bu, muda, ganteng banget (wajahnya senang terpesona). Kakung pakai peci hitam, baju putih, celana putih. Kakung mengkilat bu, bersinar. (Tiap kali melihat mahluk yang dia tak suka ekspresinya berubah). Ibu ibu ibu itu ituu apa itu.. kadang2 saya ditepuk tepuk disuruh melihat kesatu arah tapi saya tak melihat apapun.

Ibu, kakung bilang saya harus jadi dokter supaya bisa membantu banyak orang. (Dia mengangguk angguk sambil tersenyum sumringah seolah menyetujui sesuatu). Iya..iya saya mau belajar, saya semangat, saya bisa (begitu ocehnya). “Ibu, saya disuruh puasa. Iya.. iya..” dia mengangguk angguk . Tiba2 wajahnya berubah sendu lalu mewek seperti anak kecil yang sedih, kakuuung… kakuung tangisnya pecah terguguk dan air matanya berderai keluar banyak sekali. (Saya bertanya dan ternyata kakungnya pamit mau pergi). Cukup lama dia menangis begitu sampai tangisnya terhenti karena (nampaknya kakungnya tak jadi pergi). Cuma pamit akan melihat mbah utinya di kamar sebelah. Anak saya sangat gembira (melihat ekspresinya) karena kakungnya stay. Pergi sejenak lalu kembali, dan katanya kakungnya itu tertawa melihat ayahnya yang duduk di depan saya sambil bersidekap dada mengamati anak bujangnya berceloteh aneh. Melihat kakungnya tertawa itu, anak saya ikut tergelak. Saya tanya apa yang lucu dari ayah? anak saya bilang gak tau.. dia hanya ikut merasa geli melihat kakungnya tertawa nampaknya. “Ayah, kata kakung assalamuallaikum” katanya menyampaikan.

Tak lama pandangannya nampak takjub seolah menonton adegan yang luar biasa. Saya bertanya dong dan dia bilang melihat kakungnya membunuh mahluk bertanduk satu dengan pedang panjang setelah meneriakkan takbir Allahu Akbar. Mahluk mengerikan itu kata anak saya berasal dari kamar mandi dan makanannya tokek. “Wuiiih kakung keren sekali, kakung hebat, kakung ganteng banget!” pujinya takjub.Tak lama mewek lagi karena kakungnya katanya mau pergi. Nangis lagi terguguk sampai saya harus mengeluarkan handuk untuk mengelap air mata bombainya. “Kakung jangan pergi…. kakung … kakungg” lalu mereda lagi tangisnya karena again nampaknya kakungnya tak jadi pergi. Sibuk mengusir usir nenek nenek yang mencoba mendekati anak saya.

Ibu, saya lihat jin ibu dan jin ayah, celotehnya. Jin ibu mirip sekali dengan ibu tapi lebih muda, jin ayah mirip sekali dengan ayah tapi lebih muda. (Tangan anak saya nampak menyentuh sesuatu dekat dengan kepala saya) Jin ibu cantik… lebih muda dari ibu tapi seperti ibu. Jin ayah juga (wajahnya sumringah tersenyum simpul memandang lekat2 ke apa yang kami tak lihat). Lalu ocehnya , “Iiih iiih jin ayah sama ibu pelukan.. haduuuh pelukannya..maluu iih ” anak saya tersenyum malu , memalingkan wajahnya sambil menurup matanya dengan satu punggung tangannya. Nampak dia gilo melihat adegan pelukan jin korin ayah ibunya. Ckckckck luar biasa kejadian ini.

Lalu adegan selanjutnya dia nampak mengangguk angguk “Iya, ibu,kakung kasih aku teman. Dia pakai kerudung putih dan bawa al Quran” katanya sambil, sepertinya, memandangi temannya dengan wajah bersahabat. “Kakung pamit mau sholat subuh di awan. Kakung kalau sholat di awan, lalu turun lagi kesini ibu ” katanya lagi dan kali ini nampaknya dia tak keberatan ditinggal kakungnya karena telah diberikan “teman”. “Kakung bilang kakung sayang ayah, kakung sayang didut”. Lalu tangan anak saya itu memegang kepala saya bagian depan dengan lima jarinya sambil ngoceh; “Ibu kata kakung , ibu harus jaga ayah”. Tangannya kemudian seperti melakukan gerakan ” good bye” pada seseorang dan gerakan “mencium tangan seseorang” , “Kakung sudah pergi bu” katanya lalu suami saya segera ambil panadol ” Cukup cukup, ayo minum obat sekarang” katanya sambil mencari obat dan mau membantu anak saya bangun untuk duduk (selama itu dia berbaring). Sebelum dia menyentuh anak saya itu, anak itu bangun seperti ditarik seseorang (tangannya terbentang lebar lurus ke depan). Saya melongo “Loh, kok bisa bangun begitu kamu?” tanya saya. . Anak saya bilang “alhamdulillah, kan dibantu teman saya” lalu mengambil obat dari tangan ayahnya menelannya dan menghabiskan segelas penuh air putih dengan semangat (padahal tadinya dia susah banget mau minum). “Ibu saya mau pipis” katanya lagi. Dan ayahnya sibuk mengambilkan botol air seni. “Gak usah, saya mau jalan ke kamar mandi” katanya sambil berdiri gagah, melepas jaketnya seolah tak pernah sakit lalu berjalan keluar dengan sehatnya. Saya bilang ke suami ” Pegangi dia, nanti dia jatuuh”, anak saya mengibaskan tangannya dengan santai ” Gak apa apa ibu, saya dibantu teman saya” katanya dengan cool nya lalu berjalan gagah ke kamar mandi. Suami saya memberi isyarat supaya saya nyantai aja.

Selesai dari kamar mandi dia melihat ke tempat tidurnya yang ada bekas air kompres, “Itu basah kenapa ibu?” . “Itu air kompres tadi “. Jawab ayahnya “Ooohh tidak apa apa” jawab anak saya lagi dengan legowonya. Saya mencoba membereskan kasurnya lalu menyilahkan dia tidur. “Terimakasih ibu” katanya sambil merebahkan tubuh menarik selimut dan merem. Masyaa Allah, belum pernah seumur umur lihat anak ini begitu sopannya seperti itu kepada saya dan begitu ekspresif baiknya hahahahah.

Selama kejadian itu saya memutar surah al baqarah, dan suami saya memutar ayat kursi dari ruangan sebelah. Suara quran itu didengar anak saya sebagai suara alm kakungnya sedang mengaji.

Paginya, yang mana saya juga tak tidur sampai pagi karena setelah kejadian itu tak lama kemudian subuhan, saya tak bisa tidur lagi karena harus mengurus adik-adiknya bersiap ke sekolah. Setelah itu saya menemani anak saya yang besar, membuatkannya teh panas dan memberinya obat. Tiba2 dia bilang dia sepertinya mimpi aneh tadi malam.

“Mimpi apa?”

“Sepertinya aku dapat wahyu ya?

“Wahyu apa?”

“Aku disuruh jadi dokter”

“Oh ya??? kata siapa?”

“Kata kakung. Katanya supaya bisa rawat ayah sama ibu”

“Trus apalagi?” saya mencoba memancing

“Saya disuruh puasa”

“Puasa apa? senin kamis?”

“Puasa senin kamis kalau mampu puasa daud. Semampunya aku yang mana”

“Kamu bisa?”

“In shaa Allah bisa”

“Ingat apalagi soal mimpimu? ”

“Dada aku ditarik, lalu keluar api. Api itu dibuang. Itu dosa”

“Alhamdulillah, semoga kamu memang dibersihkan dari dosa. Lalu apa lagi?”

“Ada profesor.. genius”

“Pake kerudung putih bawa al quran?” tanya saya

“Iya tapi itu bukan kerudung bu, itu hoody”

“Ooohh……kamu bisa lihat wajahnya?”

“Gak bisa”

Lalu kami ngobrol soal jurusan kedokteran, dan tentang gratisnya jurusan itu di UNPAD.

” Aku disarankan ambil spesialis”

“Spesialis? disarankan siapa?”

“Profesor”

“Spesialis apa katanya?”

“Saraf. Atau paru dan jantung”

“Kamu bisa?”

“In shaa Allah bisa, masih ada waktu buat belajar keras. Kemungkinan masuk cuma 2%. Kecil sekali” Katanya setelah itung2an quota yang saya gak mudeng sama sekali.

“Kamu kost dong di jatinangor”

“Kata profesor, kampusnya di Bandung”

“oooh syukurlah”

“Setelah kuliah, masa pengabdian, baru ambil spesialis. Gaji awal juga gak banyak paling 2 juta. Aku gak mau buka praktek, aku mau kerja di tempat banyak nolong orang aja” katanya dengn kesadaran penuh.

“Jadi dokter kan bukan pilihan kamu sama sekali toh? sama sekali juga gak masuk pertimbangan kamu kemaren kan? kamu kan gak suka bilogi kimia?”

“Iya memang. Aku kan mau ke ITB, atau apa ajalah tapi jelas jadi dokter sama sekali gak kepikir. Gak mau. Tapi…aku dapat wahyu bu dan aku pikir aku bisa” katanya

“Yang jelas, semua saran yang baik itu tak pernah turun dari setan. Kalau benar itu petunjuk, itu jalan kamu, kamu harus siap bekerja keras untuk memenuhi saran itu”

“Iya. Aku juga perlu olahraga supaya sehat bu. Kita lari yuk”

“Ayok!!” kata saya gembira, secara selama ini saya emang niat pengen bisa lari tiap pagi tapi malas banget kalau sendirian. Ngajak anak saya ini lari itu mimpiiiiiiiiii !!! secara gak bangetttt deh ngajak dia olahraga. Anak satu ini tipe geek yang anti olahraga. Sungguh aneh memang kejadian ini.

Siangnya anak saya ini masih juga susah makan. Pusingnya yang berat bikin mual, lidahnya juga pahit jadi tak ingin apapun dan tak makan apapun. Tapi saya harus paksa dia makan supaya perutnya yang dari kemaren kosong, ada isinya. Jadilah saya mencoba menyuapi dia makan bubur. Buka mulut aja susah banget, sehingga bubur yang masukpun cuma seujung-ujung sendok, dikit -dikit. Dan harus terhenti-henti karena rasa mualnya itu. Tiba2 pandangan anak saya ini berubah persih menjadi seperti kejadian tadi malam… dia membisikkan sebuah nama islam : Ismail Hafiz….. ” Siapa?” tanya saya , ” Nama profesor” Lalu dia bilang “makan” sambil membuka mulutnya lebar lebar, dan mulailah saya menyuapi dia dengan sangat lancar dan cepat, luar biasa. Sebentar saja bubur itu habis. Anak saya minta minum dan minum banyak, lalu tidur dengan tenang. Subhanaa Allah, dia dibantu makan oleh temannya itu. Dan setelah dia bangun sesudah itu, dia masih ingat nama itu dan masih ingat kejadian itu bukan sebagai “mimpi” tapi sebagai kejadian nyata. ”

Orangnya besar seperti orang belanda, tapi lebih besar. Jenggotnya berwarna abu2″ katanya melukiskan “temannya” itu. “Katanya wajahnya gak kelihatan?” kata saya lagi ingat waktu dia ngoceh malam itu dia bilang begitu. “Oiya emang gak kelihatan ketutup hoodynya, yang kelihatan cuma janggutnya” ….

Saya membawanya berobat ke dokter setelah 3 hari sakit, dan hasil lab menunjukkan anak saya tak menderita sakit semacam typus atau demam berdarah, bahkan tak ada indikasi radang sedikitpun. Alhamdulillah. Tapi saya jadi bingung, lalu panas yang gak turun turun dan pusing yang tak hilang hilang masa cuma masuk angin biasa?

Sampai tulisan ini saya buat, anak saya belum pulih dari mumetnya itu. Nampaknya harus ada tindakan non medis juga untuk penyembuhannya; doa, sholat dan puasa.

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements