Akhirnya, saya menemukan Ustad Fuad. Buat saya ini salah satu petunjuk barokah dariNYA. Itu sebabnya ketika suami menyarankan pergi ke “orang pintarnya” yang dulu pernah nyuruh minum air kembang dan mandi air kembang, saya ogah. Gak syar’i, gak mau! Dia marah saya gak ikutin maunya, tapi urusan satu ini saya sangat intoleran dan gak mau kompromi. Mau marah sampai muntahpun, saya tak peduli.

Anak saya yang sudah tak bisa tidur selama 4 malam itupun dengan susah payah kami bawa kesana. Mengangkat kepalanya sedikit saja dia tak mampu apalagi disuruh jalan ke mobil. Singkat cerita, sampailah kami ditujuan (setelah sebelumnya saya survey ke tkp sampai dua kali dan akhirnya membuat janji ketemu saat ini).

Lucunya anak saya bisa duduk bersila dengan mantap didepan pak Ustad yang masih terbilang muda. Lebih lucu lagi dia bisa berjalan sempurna ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, dan yang lebih aneh lagi dia bisa menjalankan sholat magrib dengan sempurna juga dengan mantap juga. Padahal belakangan dia mengaku rasa pusingnya sama sekali tak bertambah baik dibanding ketika dia berangkat dari rumah tadi. Tapi kok? beda?

Setelah ngobrol, yang mana pak ustad mencoba mencari tau apa yang menjadi beban anak saya, dan dia bilang tak ada; lalu setelah membahas ini itu yang kira kira jadi penyebab (termasuk 12 jam sehari mentengin laptop, hanya menjalankan 3 dari 10 nasehat ibu, sholat yang masih bolong2 dan jarang zikir) pak ustad memulai ritual ruqyahnya. Pertama-tama perlahan saja dari kuping kirinya dibacain doa doa, sementara anak saya disuruh memejamkan mata dan disuruh melihat apa yang dia lihat dalam posisi itu (belakangan dia mengaku melihat 6 tuyul alien yang kesemuanya memegang pentungan, dan satu monster berperut buncit bergigi tajam. Fyiuuh!). Kemudia pak ustad berpindah ke telinga kiri anak saya sambil mengomando si anak supaya mendengarkan ayat2 suci yang akan dia lantunkan. Anak saya mengangguk dan bersiap.

Setengah berteriak lalu pak ustad mulai melafazkan ayat demi ayat dengan bagusnya di kuping anak saya, sambil sesekali menepuk punggung si anak, dada si anak, dan mencengkeram kepalanya. Ayat2 itu dia bacakan cukup lama, dan wajah anak saya menunjukkan kesakitan meskipun dia hanya diam anteng mendengarkan (belakangan dia mengaku sangat menikmati lantunan ayat suci pak ustad, sama sekali tak merasakan sakit, justru damai dan tenang).

Singkat cerita selesailah ruqyah.

“Masih mual?” tanya pak ustad . “Masih sedikit”. “Kita keluarkan saja ya”. “Iya” jawab anak saya. Lalu pak ustad membaca doa, dan menepuk-nepuk punggung anak saya dengan pinggir tanggannya (seperti gerakan karate membelah bata) tapi perlahan saja. Anak saya muntah seperti mengeluarkan segunung kotoran ke dalam plastik yang sudah dia pegang didepan mulutnya. Tapi tidak, tak ada muntahan. Dia semacam memuntahkan energi negatif yang bersemayam dalam tubuhnya. Lalu lenyaplah rasa mual itu, dan pusing dikepalanya tersisa hanya 20%.

“Bagaimana rasanya sekarang?” tanya pak ustad sambil tersenyum. Anak saya tersenyum lebih lebar lagi ” Wah, enak sekali rasanya. Nanti malam saya bisa tidur nih. Sudah 4 hari saya gak bisa tidur” jawabnya sumringah bahagia. Alhamdulillah, saya ikut bersukur luar biasa sekaligus takjub melihat kehebatan ayat2 suci yang berkolaborasi dengan rasa tawakal yang tinggi, seperti yang barusan dilakukan pak ustad terhadap anak saya. Hanya orang2 yang sudah terlatih saja yang bisa membooster rasa tawakalnya sampai setinggi itu sehingga berpadu dengan asmaNYA dan menjadi kekuatan luar biasa untuk mengusir segala macam energi negatif yang mengotori tubuh manusia. Allahu Akbar!!

Itulah mungkin bedanya saya dan pak ustad. Saya juga mungkin bisa membacakan ayat2 ruqyah itu, tapi tentang tawakal dan sejauh mana saya bisa meninggikan ketawakalan saya terhadapNYA itulah yang saya belum bisa!

“Nanti, kalau kamu ustad mandiin, pasti tidurnya lebih enak lagi” kata pak ustad pada anak saya. Waaah, saya pikir, berarti ada section ke dua nih! Dan saya senang! Saya benar2 ingin anak saya kembali sepulih-pulihnya dengan cara yang syar’i. “Nanti saja bu, mandinya tunggu seminggu lagi ya” sambung pak ustad setelah memberi sedikit tauziah pada anak saya, dan membekali anak saya dengan beberapa lembar kertas yang isinya amalan doa-doa yang wajib dibaca anak saya setiap selesai solat wajib. Semakin tinggi rasa tawakalnya terhadap ALLAH ketika membaca ayat2 perlindungan itu, semakin kuat ayat2 itu akan melindungi dia dari segala macam gangguan energi negatif, bahkan gangguan manusia. Allah akan meng-ijabah!

Namun begitu, energi negatif ternyata perlu proses untuk benar2 habis dari tubuh anak saya. Memang malam itu dia bisa tidur nyenyak. Tapi kemudian mimpi aneh yang membuatnya terbangun tengah malam. Malam itu saya menemai anak saya tidur di kamarnya. Saya perhatikan dia masih belum sepenuhnya pulih. HP kesayangannya sama sekali tak pernah dia sentuh. Saya seperti melihat dua kepribadian berganti-ganti. Dan berkali-kali pula dia masih memuntahkan energi negatif.

Namun sesuai pesan pak ustad, dia harus melawan semua ajakan kemalasan dengan istiqomah solat 5 waktu dan mengamalkan doa2 yang dibekalkan padanya oleh pak ustad. Karena anak ini kadang2 masih dalam pengaruh negatif, sayalah yang membacakan doa2 perlindungan itu di air putih untuk dia minum.

Saya perhatikan semakin lama, dia semakin pulih. Tidurnyapun semakin lama semakin nyenyak dan full sampai subuh, muntah energi negatifnya semakin jarang, dan dia semakin menjadi dirinya sendiri lagi.Apalagi ketika dia sudah mulai main hp, oh yeaaah, he is back. Cuma tak lama dia seperti beruam merah2. Kulitnya jadi agak kehitaman karena ruam itu hampir diseluruh tubuhnya. Saya sampai memanggilnya : Mr.Crab.

Karena kuatir, saya telpon pak ustad, dan beliau bilang itu biasa, tunggu sampai seminggu in shaa Allah ada perubahan. Alhamdulillah memang iya… ruam berangsur hilang dan hilang sama sekali ketika anak saya dimandikan oleh pak ustad. Tentu saja bukan sembarang mandi, karena sepanjang dia disemprot pakai selang dengan pakaian yang tak dilepas karena menutup aurat, pak ustad tak henti2 melantunkan ayat2 suci. Pengakuan anak saya, sepanjang dia dimandikan itu dia merasa luar biasa mengantuk, bahkan hampir jatuh karena ngantuk yang nyaris bikin pingsan.

Lalu begitulah, saya minta pak ustad mau mentausiahi anak saya lagi. Sebagai guru agama yang mempelajari psikologis anak, saya lihat cara beliau menasehati anak saya sungguh asik sekali. Sama sekali tak ada kesan menggurui melainkan memberi solusi, dan tak ada kesan memerintah melainkan mengajak. Saya pikir saya bisa menghabiskan waktu berjam jam ngobrol dengan orang asik seperti beliau. Hahahahaha.

“Ustad, tak mau kamu selalu bergantung pada ustad. Amalkan doa-doa yang ustad beri itu sebagai amalanmu yang in shaa Allah akan jadi screening untuk dirimu sendiri, mengusir energi2 negatif yang masuk. Kamu harus bisa ya…harus bisa menyembuhkan diri sendiri dan memproteksi diri sendiri dengan langsung meminta kepadaNYA. Gak perlu pakai ustad lagi. Bisa kan?”. “In shaa Allah bisa” jawab anak saya sambil mengangguk takjim.

Alhamdulillah ya ALLAH…. pengalaman berharga ini sama sekali tak terbeli dengan uang dan sangat bermanfaat untuk seumur hidup kami semua….

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements