Tak hanya anak saya yang mengamalkan amalan proteksi diri itu, tapi saya juga. Saya sengaja menemani anak saya melakukan semua yang diminta pak ustad untuk dia laksanakan  sekaligus saya memang merasa harus menguasai amalan proteksi diri sendiri itu. Jadi selama seminggu lebih sejak acara ruqyah, saya ikut mencoba istiqomah membaca ayat2 proteksi diri itu.

Dan mungkin ini termasuk hasilnya….

Waktu itu saya habis ketemuan dengan kawan lama (teman SMA) yang kebetulan dari Jakarta dan lewat di kota saya. Kami janjian ketemu di sebuah mall yang ramai. Saya datang sendiri saja menemui dia, suaminya dan anaknya. Kami ngobrol sekitar sejaman, lalu mereka harus meneruskan perjalanan kembali.

Karena ada supermarket besar disitu, saya bermaksud beli rinso yang kebetulan sudah habis. Lihat jam digital saya tertulis 6.23 (belakangan ternyata tertulis 16.23), saya tak melihat angka satunya mungkin karena silau kena cahaya lampu mall. Wahhh… sudah telat magrib nih saya, saya pikir begitu. Tapi saya sempatkan masuk dulu beli rinso.

Gerakan saya buru2 sekali kalau orang mau perhatikan. Apalagi ketika saya sedang memilih kripik2 untuk oleh2, buru2 sekali karena ini acara tambahan setelah menenteng rinso. Tetiba ada lelaki berlogat melayu mengaku dari Brunai mendekati saya. Cakap apa dia saya tak jelas juga, tapi sepertinya dia cari museum. Karena merasa tak tau menau dimana museum dan fokus saya cuma SUDAH TELAT MAGRIBAN! CEPAT PULANG!! maka saya suruh dia tanya spg saja ,tapi cepat2 dia menolak usul saya. Tak lama ada lelaki lain lewat dekat kami, berpenampilan ala ustad (berpeci, bercelana panjang dan berbaju koko). Dipanggillah si ustad itu oleh si brunai ini seakan-akan dia perlu satu orang lagi untuk ditanyai dimana museum.

Laki2 ngustad itu nampaknya lebih banyak tau dari saya, dan hmmm logatnya seperti dia bukan orang jawa. Nampaknya dia juga curiga saya bukan asli jawa. Alih2 menanyai si brunai yang terobsesi museum, si ustad malah seperti mengintrogasi saya. Setelah dia merasa cukup tau soal saya, dan saya semakin in rush segera pengen pulang solat magrib, dia beralih pada si brunai. Entah mengapa saya merasa ada sandiwara diantara mereka. Apalagi ketika si brunai ternyata katanya membawa batu mustika dari brunai, dan si ustad dengan gayanya sok kaget “Waaah itu gak sembarang mustika itu! bener kalau diserahkan ke museum saja”. Saya melirik si brunai yang ditangannya ada sebungkus kukis. Dih, gak niat amat ni orang belanja di supermarket ya? ngapain bawa2 kukis? takut dicurigai orang dia gak belanja apa-apa? Begitu saya pikir sambil tetap fokus ke soal telat magriban.

Singkat cerita si ustad bersedia nganterin si brunai ke museum di blitar, tapi dia mau liat dulu mustika itu. Si brunai minta tolong saya supaya nemeni dia terus selama dia menghadapi si ustad karena “language barrier” antara dia dan ustad lebih berat daripada antara dia dan saya. Saya mulai curiga….apalagi ketika saya menolak menemani karena SUDAH TELAT MAGRIBAN. “Sebentar aja bu, 5 menit saja” kata si ustad yang bikin saya jadi mikir: kok elu yang maksa???

“Please temani saya menunjukkan mustika ini. Mustika ini harus ditunjukkan secara rahasia, tapi tolong temani saya menunjukkan pada bapak ini” pinta si brunai sambil mengucapkan asallamuallaikum berkali kali, yang alih2 meluluhkan hati saya, saya malah pikir ni orang lagi kena penyakit kaset rusak. “Maaf, saya gak bisa, saya harus solat magrib, saya sudah telat!!!” begitu jawab saya sambil bergegas meninggalkan mereka. Saya sempat melihat ekspresi si ustad yang akhirnya nampak nyerah ” Ya udahlah”…

Saya berlari-lari kecil ke kasir, takut telat banget magribannya. Di kasir saya sempat ngecek ATM, HP dan dompet. Alhamdulillah ada semua. Fyiuh!. Sehabis membayar saya berlari lari kecil menuju pintu keluar mall. Eeehh…tapi kok… di luar masih terang ya???? cepat saya melihat jam… lah..16.35?!!! seketika itu juga langkah saya melambat dan perasaan saya plong.. lega bangeeettt karena gak hanya gak jadi telat magriban tapi juga masih bisa ngejar sholat Ashar!!! Alhamdulillah.

Dan mustika itu?? mustika itu pastilah mau dijadikan alat untuk menipu saya, menguras atm dan uang saya. Luar biasa penyelamatan ALLAH hari ini terhadap saya, hanya dengan salah melihat jam saja, yang membuat saya fokus pada telat magrib, telah, mungkin, menjadi tameng sehingga mantra2 mereka tertolak semua oleh keyakinan “telat” saya itu. Pikiran saya tak kosong sama sekali saat itu karena riweh dan “sok” berkejaran dengan waktu karena TELAT MAGRIBAN.

Entahlah, mungkin lama2 dua orang yang saya suspect penipu itu jadi mikir : Ni ibu gila kali ya? masih jam 4 sore aja udah sibuk bilang telat magrib, telat magrib!!!. Bener2 sial karena korban kali ini lebih gila dari kita!!!

Hahahahaha…. saya melenggang bahagia keluar mall. Tersenyum ramah pada tukang becak yang saya pilih mengantarkan saya pulang. Saya bersyukur padaNYA… sangat bersyukur…..

Advertisements