Dengan segala keterbatasan apapun itu saya mencoba mempersiapkan diri semaksimal mungkin untuk bertamu ke rumahNya. Ntah itu akan terjadi sesuai rencana saya, atau tidak karena sesuai rencanaNYA, semoga saya telah mempersiapkan yang terbaik supaya bisa maksimal menghambaNYA. Harap-harap cemas itu tak pernah lekang dari hati saya setiap saya mengeksekusi sesuatu untuk keperluan saya menujuNYA. Saya selalu berbisik, “dalam segala kekurangan saya, saya ingin sebersih mungkin, serapih mungkin, seterorganisir mungkin dihadapanNYA”. Saya tak sedang akan bertamu pada presiden… tapi pada RABB saya.. saya tak boleh anggap remeh. Semampu-mampunya saya, saya berharap maksimal, sangat maksimal!

Untuk mencapai takwa dan iklas itu ternyata tak mudah, grafiknya naik turun seperti denyut jantung orang yang sedang ketakutan setangah mati, dan jarang sekali mencapai posisi stabil jangka panjang. Itu saya rasakan.. itu saya figt setiap hari, berjuang supaya bisa up lalu stabil, paling tidak stabil jalan ditempat, tapi tak down.

Setiap kali muncul nafsu berlebihan dalam persiapan, hati selalu mengingatkan bahwa DIA tak suka yang serba berlebihan, “Mengapa berlebih dalam kekurangan? bisakah memilah kebutuhan dan keinginan?” … selalu begitu hati saya memerangi nafs saya. Dan banyak yang sudah saya pegang, saya kembalikan, atau yang sudah saya pikirkan lalu saya lupakan. Seperti itu terus menerus…. rempong sekali.

Bagaimana dengan doa? Oh Allah begitu banyaaaak isi kepala dan hati saya ingin menyemburkan doa doa, menumpuknya di rumahMU dan berharap Engkau akan menerimanya dengan prioritas!! Begitu banyaknya sampai kepala saya serasa tersumbat dan tak ada apapun yang muncul sebagai ide. Sampai saya dibawa pada sebuah tulisan ” Kalau terlalu banyak doa yang kan kau minta sehingga kau malah menjadi bingung dan tak tau harus minta apa, perbanyaklah zikir, mohon ampunlah, karena DIA mencintai orang2 yang memohon ampunan padaNYA “. Dan …kalau kita telah menjadi kecintaan, apa sih yang tak akan diberi? bahkan kita tak mintapun pasti diberi.

Plan saya hanya tentang ibadah!! banyak sekali masalah yang harus saya adukan disana. Tapi…tiba2 ada yang berceloteh soal pasar murah. Sayapun terbawa kesana. Ya Allah, dalam kekurangan, kalau urusan shopping kenapa berasa cukup? ah! lagi2 hati saya mengingatkan; “Itu rumahNYA, sebagai tamu harusnya tau diri saja mau dibawain goody bag apa? urusan itu tak perlu persiapan atau rencana! Tujuannya kan bukan soal itu!” Saya perlu menampar pipi saya kanan dan kiri supaya berenti memikirkan sesuatu yang tak terpuji dalam menjalani undanganNYA. Gak sopan! gak pantes!!

Tapi yang paling dalam yang diingatkan hati saya adalah ; jangan berhenti memohon hajat terlaksana, karena sampai detik terakhirpun belum tentu saya bisa menginjakkan kaki kotor ini rumahNYA, jika IA punya rencana sendiri. Saya harus memohon dan terus memohon supaya saya dihantarkan pada rumahNYA dan menikmati sejarah cinta para rasul, menumbuhkan keimanan lebih tinggi lagi, dan mengukir kenangan religius sebagai pengingat pada undanganNYA yang bermakna ke Maha-baikanNYA mengizinkan saya yang pendosa dan kotor ini menginjakkan kaki di laman suciNYA.

Ya Rabb… betapa aku mencintaiMU meski tak pernah bisa tertandingi oleh keMAHA-CINTAANMU terhadap kami para hambaMU yang kotor dan tak terpuji ini…

Waktu masih panjang…..bekal iman itu masih punya cukup waktu untuk dikuatkan, dipenuhi dan disehatkan… semoga bisa.

 

 

Advertisements