Begitu terasa sehat sedikit, saya tak menunda waktu untuk segera ke Surabaya. Pikir punya pikir, dan setelah melakukan sholat hajat, saya mantap meminjam mobil ipar meski bayaran mahal karena kudu mersen supir  (uangnya Allah alhamdulillah), diantar pulak oleh mertua; tak jadi naik travel, tak jadi kereta api juga. Saya dibuat mantap dengan keputusan itu.

Datang di tkp langsung ditakutin “telat ngantri” oleh tukang parkir. Saya berasa ni tukang parkir yang ngaku orang dalam mau duit dengan cara menjual nomor antrian gagal. Tapi again, saya punya titipan dana dariNYA, jadi okelah, gak apa apa bayar mahalan lagi. Lalu hari itu selesai semua urusan 10 jam-an total termasuk 6.5 jam pp, makan, dan sholat. Alhamdulillah selesai satu masalah tanpa “kesasar” atau “mogok dijalan”.

Selesai typus, selesai urusan Surabaya, terbitlah sakit mata. Again kami bertiga. Fyiuuuuh!!!. Terbit pula sesudah itu masalah baru yaitu soal sekolah anak, apakah aman ditinggal? Oh God!!! rasanya kesandung-sandung terus dari awal perjalanan. Belum pulak dana yang terus mengalir keluar untuk urusan ini itu ini itu.

Tapi saya benar2 harus belajar tawakal nampaknya terutama masalah financial, kesehatan, ketakutan, kegelisahan, dan suudzon. Belajar keras menyeimbangkan harapan dan kesiapan mental utk iklas pada setiap masalah yang datang.

Bolak balik saya meyakinkan diri bahwa tak ada yang menjadi milik saya di dunia ini, tidak jiwa saya, tidak kesehatan saya, tidak tangan saya, tidak mata saya, tak ada!!! apalagi cuma uang?? tak ada sesenpun milik saya!!! Semua itu cuma pinjamanNYA untuk saya pakai demi kebutuhan saya terutama kebutuhan dijalanNYA. Toh kalau saya mati, duit yang dieman-eman itu tak ikut dibawa ke akhirat? bukankah yang saya bawa ke akhirat adalah “cara” saya memakai titipanNYA itu? Saya juga harus belajar tawakal dengan sangat keras tentang jaminan dariNYA. Jaminan bahwa apa yang DIA titipkan pada saya, jika saya menggunakan di jalan yang benar, dan mampu mempertanggung-jawabkannya kelak, DIA akan menggantinya berlipat-lipat lagi. Percaya dengan sangat kuat bahwa DIA lah my Care Taker, The Ultimate Care Taker I have.

Demi Allah semua ini bak kursus kilat. Bimbel kehidupan dimana saya “dipaksa” untuk melakukan yang terbaik dan menyingkirkan semua world attachment! Dipaksa menilai which is spent in HIS way and which is not, what is necesarry and what is not. Dalam keterbatasan dan cuma berbekal tawakal, ternyata senjata kita cuma mohon ampun dan meminta petunjukNYA untuk memilih yang benar dan sekaligus menjadi jalan keluar dari kesempitan.

Saya merasa tiap kali dimasukkan di ruang kecil, pengap dan menekan maka doa serta tawakallah yang membuat saya bisa keluar dari situ dan menghirup udara segar. Lalu masuk lagi ke ruang yang sama dengan warna berbeda, again doa serta tawakallah yang membebaskan saya. Ntah sudah berapa kali seperti itu dan saya nampaknya belum sampai di chapter akhir. Fyiuhhh

Semoga Allah selalu memberikan kemudahan dan kekuatan hati kita untuk terus sabar berdoa dan tawakal selama DIA menguji kita. Aamiin.

 

Advertisements