Archive for February, 2017


Tanggal 13 Feb, saya , Ama, Ita berangkat ke Jakarta, dan Zuzo sudah menunggu di hotel dekat bandara karena kami berempat memang berencana istirahat dulu di Orchad situ semalam sebelum besok take off, saya dan Ama menuju Mekkah, Ita dan Zuzo menuju Kuala Lumpur untuk urusan bisnis. Kami sama-sama berangkat dari terminal 2D.

Alhamdulillah selama perjalanan menuju Cinta ini saya tak sendiri. Ada sahabat2 yang selalu menghibur, saling mengingatkan dan saling support sepanjang perjalanan. Plus selalu ada kesempatan untuk beristirahat juga berkali-kali sehingga perjalanan panjang pertama saya ini tak begitu meletihkan.

Jam 3 pagi kami berempat naik ke shuttle bus hotel menuju bandara yang jaraknya sekitar 2KM kurang. Disitulah saya bertemu anggota tour umroh lainnya yang sudah berkumpul lengkap dengan atribut umroh, kami semua berjumlah 40 orang. Seorang leadernya dipanggil Habib, berperawakan agak kearaban dan minta jamaah mendoakan Pak Ahok supaya ‘pae’ di Mekkah sana. Gemblung juga ya hahahaha, dia gak tau kalau ada pendukung Ahok diantara jamaahnya. Ehem. Tapi kali ini saya sabar…. senyum kecut sambil melirik Zuzo yang menahan geli melihat ekspresi saya.

17015646_10208309718887146_1754907163431085121_o

16903285_10208309710566938_8495419025517690102_o

Setelah solat subuh yang ngantri di bandara, kami cek in. Kemudian setelah urusan bagasi dan kabin selesai, saya berpisah dengan Zuzo dan ita. Kami, saya dan Ama ngumpul dengan anggota umroh lain sarapan pagi sebelum take off dengan pesawat Qatar jam 8 pagi.

Semua berjalan sesuai dengan jadwal, tak ada molor2an. Jam 8 itu saya sudah duduk di dalam pesawat (3 seat) bersebelahan dengan Ama dan seorang ibu agak tua. Sungguh aneh, saya yang phobia pesawat, saat itu super tenang. Padahal sebelumnya saya bayangkan saya akan berkeringat dingin dan wajib minum pil tidur sepanjang perjalanan yang 10 jam itu supaya tak tersiksa. Mungkin saya tak phobia pesawat ya? karena dari kecil sudah terbiasa naik pesawat, mungkin cuma gegara ditakuti ibu saya saja ketika dia tak setuju saya mendaftar jadi pramugari di maskapai penerbangan Garuda, saya mendeklarasikan tak mau naik pesawat! fyiuuuh what a mom!!!

Begitulah lalu pesawat Qatar ukuran airbus itupun take off dengan lembutnya. Pesawat terbaik nomor dua di dunia ini ditakdirkan membawa saya ke rumahNYA dengan pelayanan yang super memuaskan dan suguhan2 lezat. Yang saya pikir, saya akan meringkuk ketakutan di kursi pesawat sama sekali tak terjadi, saya bahkan membantu ibu tua yang duduk disebelah saya menggunakan toilet pesawat. Seperti pramugari yang memberi petunjuk cara menggunakan pelampung hahahaha.. oh well btw cara manual memakai pelampung itu tak ada lagi, semua dijelaskan lewat layar video dibangku masing2 penumpang. Btw lagi, miqat , niat Umroh kami lakukan diatas pesawat.

Kami sampai di Mekkah sekitar jam 9 malam, lalu menuju Hotel untuk makan malam dan meletakkan barang2. Jam 11 kami sudah di Masjidil Haram untuk melakukan umroh.

dan…..

OMG! pertama sekali saya menatap ka bah air mata langsung merembes tak terbendung. Sebetulnya sejak niat ihram, dan terus terusan mengatakan kalimat talbiyah : Labaik Allahumma Labaaik, labaaik Laa Syarika Laka Labaaik Inal Hamda Wan Ni’mata Laka Wal Mulka La Syarikalah….( Aku memenuhi panggilanMu ya Allah aku memenuhi panggilanMu. Aku memenuhi panggilanMu tiada sekutu bagiMu aku memenuhi panggilanMu. Sesungguhnya pujian dan ni’mat adalah milikMu begitu juga kerajaan tiada sekutu bagiMu), saya sudah mellow habis-habisan. Ketika pesawat mau landing di tanah Arab, dan saya melihat daratannya, air mata sudah mengambang dengan keharuan yang dalam. Jadi ketika mata saya menatap Ka’bah yang menjulang dengan kebesaran namanya, tak heran air mata berhamburan keluar terdorong rasa yang membuncah-buncah bergejolak.

Who am I? wanita pendosa dengan segunung kesalahan dan kealpaan yang disengaja maupun tidak, diundang datang di tanah suciNYA dan dipersihlahkan masuk ke rumah suciNYA, dibiarkan menatap keagungan monumen kebesaran agamaNYA  dengan sangat dekat..sangat intim, sangat ramah dan sangat penuh cinta untuk kemudian dipersilahkan memunajatkan doa-doa permintaan sepuasnya!! Alhamdulillah Ya Rabb, The Almighty… Ar Rahman Ar Raheem …. Allahu Akbar!

Perasaan saya lalu terbagi dua antara keinginan beromantis ria lewat rasa dengan kabah, dan keharusan fokus pada aba-aba leader yang memulai ritual umroh pertama yaitu tawaf. Sesekali saya mengikuti doa-doa yang diteriakkan mutowif, tapi sesekali saya cuma sibuk memuji-muji namaNYA dengan sedalam dalamnya rasa syukur, dan bersalawat sambil mengagumi ka’bah yang selama ini cuma saya lihat di sajadah.

17038979_10208317169393404_2161525136915681107_o

Selesai tawaf kami solat dua rakaah dibelakang makam Nabi Ibrahim, lalu minum zamzam dan melanjutkan dengan Sa’i. Ritual ini saya resapi dalam2 betapa Bunda Siti Hajar bersabar, berjuang, berdoa untuk mendapatkan air demi bayi Ismail. Selesai Sa’i kami bertahalul lalu selesailah umroh kami. Sah. Kami memilih tak kembali ke hotel melainkan menunggu subuh di masjidil haram karena waktu telah menunjukkan pukul 3 dini hari. Subuh menjelang pukul 5.40 pagi.

Ada kejadian annoy sepanjang menunggu subuh. Saya kebelet pee ke toilet, tapi berhubung newbee, tak berani cari sendiri, takut nyasar tak bisa pulang digondol arab badui. Tidak tawakal pada kuasa Allah, bahwa ini adalah rumahNya dan saya dalam jaminanNYA bener2 menyiksa saya hiks. Temen yang bisa anter ke toilet tertidur kecapekan jadi saya tak tega membangunkan. Sama mutowifpun terpisah karena dia lelaki tempatnya berbeda dengan saya. Benar2 siksa dunia menahan pee itu. Hufffttt.

Ketika adzan subuh tiba saya luar biasa happy karena teman saya itu bangun dan berjanji menemani ke toilet. Ya Allah jadi gak kusuk solat subuh karena ngempetnya ngempet bangeeetttt. Mana udara dingin bikin tambah pengennnn. Huuffttt hufffttt.

Alhamdulillah lalu kami berempat (kebetulan teman sekamar saya juga) berenteng-renteng ke toilet. Ada teman se-grup dari papua yang ternyata ikut kebelet dan menunggu momen akbar mencari toilet ini , sama seperti saya hihihihihi. Kami the masjidil haram newbee akhirnya menemukan toilet dambaan hati sejak beberapa jam lalu!!! fyiuuh! Alhamdulillah. Tapi saya akui kemampuan GPS temen sekamar saya yang datang dari Bali itu memang ruar biasa akurat!!! Selanjutnya dia memang menjadi pemandu jalan untuk saya dan Ama. Namanya Dini 31 tahun, dan Kiki 27 tahun (kakak dan adik ipar).Again… My companies are also my blessing too. Alhamdulillah.

17038783_10208309672805994_1254053045527455948_o

Advertisements

Setelah grudak gruduk sejak akhir Desember 2016 untuk keberangkatan pertengahan Februari 2017 (persiapan yang terbilang singkat), akhirnya sampai juga hari H itu. Saya membuat list ‘to do’ and ‘not to do’ untuk anak anak lalu ditempel di lemari. Membuat tempelan cara memasak nasi dengan rice cooker, membuat tempelan cara mencuci baju dengan mesin cuci, menghubungi guru untuk minta ijin mengungsikan sementara anak anak di rumah orang tua saya supaya ada yang ‘take care’ selama saya bertamu ke rumahNYA dan ini tak mudah karena pada dasarnya gurunya tak mengijinkan; maklum sudah kelas 6, lagi musim try out juga.

Saya juga mengamplop-amplop dengan rinci dana untuk anak paling besar (uang sakunya dan uang makan ketika catering off plus uang cadangan kalau ada keperluan dadakan), untuk anak kembar saya (uang saku, uang try out, uang tambal ban kalo sepeda kempes, uang cadangan kalau ada keperluan dadakan, uang saku di kereta api ketika mereka nanti ke Bandung, plus uang makan mereka ketika dalam perjalanan; semua terpisah di amplop masing2), dan untuk mertua juga (uang saku ketika mengantar kembar ke Bandung dan tiket pulang plus uang becak dari stasiun). Intinya sampai se rinci itu saya persiapkan semua keperluan. Tas yang akan dibawa si kembarpun sudah saya siapkan berikut sebagian baju2 mereka, snack, dan oleh2 lengkap dengan tissue basah dan tissue kering hehehehe.

Saya sendiri tak sedetil itu mempersiapkan isi koper saya. Bawa baju 9 lembar, handuk dua (dan tak terpakai karena saya pakai handuk hotel), tidak bawa mukena karena ketinggalan hahahahah, tapi untung diberi kawan, dan diberi travel juga. Bawa kaos kaki 6 tapi terpakai 4 saja hehehe (karena saya bisa mencuci menjemur dan kering). Bawa termos minum 800cc untuk bekal minum air zamzam di hotel, dan ini sangat terpakai sekali. Bawa keringan teri tempe di kasih teman tapi tak termakan, bawa bon cabe juga tak termakan! Bukan karena tak butuh, tapi tak sempat mikirin lauk dua itu. Yang jelas, satu coat dan satu sweater itu sangat terpakai karena saat malam dan subuh suasana Mekkah Madinah cukup dingin bisa mencapai 10 derajat celcius.

Begitulah lalu sayapun berpamitan pada mertua dan anak anak, naik kereta api malam menuju Bandung. Di Bandung saya bertemu teman yang datang dari Medan untuk umroh bareng saya, dua teman perempuan yang memang stay di Bandung, dan satu teman lelaki yang akan datang dari Jakarta mengantarkan perlengkapan umroh who is dia juga yang jadi supporter umroh saya dan teman dari Medan itu. Mereka semua sahabat2 SMA saya.

Di Bandung saya bermalam di hotel dengan sobat2 saya itu. Melengkapi keperluan apa yang belum kami punya, silaturahmi ke rumah orangtua kawan2, dan sedikit bernostalgi ditempat tempat tongkrongan kami dulu. Semalam itu saja lalu bubaran dulu ke keluarga masing2, saya dan kawan saya tentu saja harus packing koper perlengkapan umroh yang sudah tersedia. Mempersiapkan sekali lagi apa apa saja yang kurang, yang perlu dan tak perlu dibawa. Cek list bolak balik ( dan mukena saya tetap ketinggalan hehehehe).

Kondisi anak-anak tentu saja saya cek bolak balik juga. Tetiba dapat kabar salah satu si kembar sakit demam. Mertua yang bersedia mengantarkan kembar ke Bandung , demam juga. OMG!

Tapi adik saya mengingatkan ; niatnya sudah mau umroh, lepaskan saja urusan duniawi, fokus pada ibadah aja, jangan terlalu dipikir, Allah will take care all the rest, as long as you declare that you are ready to be HIS guest.

Jadi betul, toh semua bisa berjalan sesuai rencana alhamdulillah. Mertua pada akhirnya bisa mengantarkan anak-anak ke Bandung, anak saya sehat, mertua juga sehat alhamdulillah.

 

Tensi

Baru-baru ini saya keluar dari grup wa teman2 eks kuliah hanya karena menghindari toxic person. Sudah tau dalam sebuah grup ada beberapa orang yang pandangannya tak sama, kenapa harus posting hal hal yang berbau politik? yang memicu ketidaksetujuan lalu menciptakan kekesalan, lalu kemarahan? Sekali postingan , saya diam, kedua kalinya, saya marah karena itu hoax dan penuh fitnah, ketiga kalinya masih posting juga, maka saya left grup. Belum selesai saya “menarik nafas lega”, tetiba saya sudah ditarik masuk lagi ke grup itu.  Adminnya mungkin tak rela saya keluar hehehehe. But since then, saya tak pernah komen sepatah katapun juga, saya mencoba menghormati adminnya. Nampaknya juga teman toxic itu mendapat teguran. Lama memang dia tak posting sampai kemaren posting lagi yang berbau kotoran kebo, pffftt

Saya juga baru left grup keluarga besar suami saya, cuma karena ada yang suka memosting politik yang jelas2 menunggangi nama besar Islam. Mungkin tindakan saya itu dianggap tak sopan, tapi who cares? bukankah saya yang pegang kendali atas mood saya? kalau postingan cuma dibaca untuk merusak mood, untuk apa bertahan di grup?

Look, kadang2 tata krama itu diperlukan tidak saja didunia nyata, tapi juga dunia digital seperti sekarang ini. Saya bukan tipe kromo, tapi urusan2 seperti itu saya tahu harus apa, pertama, mengamati. Dari reaksi, sikap, respon, kita bisa gampang tahu apakah si A sepemikiran dengan kita atau tidak? Jika ternyata dalam satu grup ada yang tak sejalan, ya sudah, jangan main2 dengan postingan sensitif disitu jika tak mau hubungan silaturahmi terluka. Posting saja di grup yang sejalan sepemikiran atau di medsos yang terbuka umum dan bebas dibaca siapa saja, bukan di grup teman dekat, sahabat, atau keluarga. Bahayaa dong. Dan saya bukan tipe yang suka berbetah-betah uji sabar.

Pacaran 7 tahun dengan cowok yang berbeda agama dengan saya, dan tak mau mengalah pindah agama juga, membuat saya merasa cukup berbetah-betah dalam ketidakpastian, harus diputuskan dan move on. Tak ada airmata, tak ada sesal, lagi-lagi justru lega karena lepas dari beban yang seperti “dicari-cari sendiri”. Sadis? yaa sedikit 🙂

Dalam berumah tangga juga sebetulnya saya berprinsip, kalau sudah tidak nyaman ya untuk apa diteruskan? Allah hates this , Devil loves this, but we are free to choose . Dan saya selalu memilih menyelamatkan hati saya sendiri. Iya doong, wong tak ada yang mau peduli dengan hati kita kecuali kita? ya kita dong yang melindunginya, siapa lagi? berharap pada orang lain? neva do that…

Ya seperti itulah saya sekarang. Dunia ini sangat tak bersahabat, kalau kita biarkan hati kita teracuni dengan hal-hal yang tidak kita sukai, atau hal-hal yang ternyata cuma mengganggu dan membebani ya sudahi saja, hilangkan drama and move on!

 

 

5ee9f26ec5f94311fb0fc28fd6b2d063