Baru-baru ini saya keluar dari grup wa teman2 eks kuliah hanya karena menghindari toxic person. Sudah tau dalam sebuah grup ada beberapa orang yang pandangannya tak sama, kenapa harus posting hal hal yang berbau politik? yang memicu ketidaksetujuan lalu menciptakan kekesalan, lalu kemarahan? Sekali postingan , saya diam, kedua kalinya, saya marah karena itu hoax dan penuh fitnah, ketiga kalinya masih posting juga, maka saya left grup. Belum selesai saya “menarik nafas lega”, tetiba saya sudah ditarik masuk lagi ke grup itu.  Adminnya mungkin tak rela saya keluar hehehehe. But since then, saya tak pernah komen sepatah katapun juga, saya mencoba menghormati adminnya. Nampaknya juga teman toxic itu mendapat teguran. Lama memang dia tak posting sampai kemaren posting lagi yang berbau kotoran kebo, pffftt

Saya juga baru left grup keluarga besar suami saya, cuma karena ada yang suka memosting politik yang jelas2 menunggangi nama besar Islam. Mungkin tindakan saya itu dianggap tak sopan, tapi who cares? bukankah saya yang pegang kendali atas mood saya? kalau postingan cuma dibaca untuk merusak mood, untuk apa bertahan di grup?

Look, kadang2 tata krama itu diperlukan tidak saja didunia nyata, tapi juga dunia digital seperti sekarang ini. Saya bukan tipe kromo, tapi urusan2 seperti itu saya tahu harus apa, pertama, mengamati. Dari reaksi, sikap, respon, kita bisa gampang tahu apakah si A sepemikiran dengan kita atau tidak? Jika ternyata dalam satu grup ada yang tak sejalan, ya sudah, jangan main2 dengan postingan sensitif disitu jika tak mau hubungan silaturahmi terluka. Posting saja di grup yang sejalan sepemikiran atau di medsos yang terbuka umum dan bebas dibaca siapa saja, bukan di grup teman dekat, sahabat, atau keluarga. Bahayaa dong. Dan saya bukan tipe yang suka berbetah-betah uji sabar.

Pacaran 7 tahun dengan cowok yang berbeda agama dengan saya, dan tak mau mengalah pindah agama juga, membuat saya merasa cukup berbetah-betah dalam ketidakpastian, harus diputuskan dan move on. Tak ada airmata, tak ada sesal, lagi-lagi justru lega karena lepas dari beban yang seperti “dicari-cari sendiri”. Sadis? yaa sedikit 🙂

Dalam berumah tangga juga sebetulnya saya berprinsip, kalau sudah tidak nyaman ya untuk apa diteruskan? Allah hates this , Devil loves this, but we are free to choose . Dan saya selalu memilih menyelamatkan hati saya sendiri. Iya doong, wong tak ada yang mau peduli dengan hati kita kecuali kita? ya kita dong yang melindunginya, siapa lagi? berharap pada orang lain? neva do that…

Ya seperti itulah saya sekarang. Dunia ini sangat tak bersahabat, kalau kita biarkan hati kita teracuni dengan hal-hal yang tidak kita sukai, atau hal-hal yang ternyata cuma mengganggu dan membebani ya sudahi saja, hilangkan drama and move on!

 

 

5ee9f26ec5f94311fb0fc28fd6b2d063

 

 

 

 

Advertisements