Setelah grudak gruduk sejak akhir Desember 2016 untuk keberangkatan pertengahan Februari 2017 (persiapan yang terbilang singkat), akhirnya sampai juga hari H itu. Saya membuat list ‘to do’ and ‘not to do’ untuk anak anak lalu ditempel di lemari. Membuat tempelan cara memasak nasi dengan rice cooker, membuat tempelan cara mencuci baju dengan mesin cuci, menghubungi guru untuk minta ijin mengungsikan sementara anak anak di rumah orang tua saya supaya ada yang ‘take care’ selama saya bertamu ke rumahNYA dan ini tak mudah karena pada dasarnya gurunya tak mengijinkan; maklum sudah kelas 6, lagi musim try out juga.

Saya juga mengamplop-amplop dengan rinci dana untuk anak paling besar (uang sakunya dan uang makan ketika catering off plus uang cadangan kalau ada keperluan dadakan), untuk anak kembar saya (uang saku, uang try out, uang tambal ban kalo sepeda kempes, uang cadangan kalau ada keperluan dadakan, uang saku di kereta api ketika mereka nanti ke Bandung, plus uang makan mereka ketika dalam perjalanan; semua terpisah di amplop masing2), dan untuk mertua juga (uang saku ketika mengantar kembar ke Bandung dan tiket pulang plus uang becak dari stasiun). Intinya sampai se rinci itu saya persiapkan semua keperluan. Tas yang akan dibawa si kembarpun sudah saya siapkan berikut sebagian baju2 mereka, snack, dan oleh2 lengkap dengan tissue basah dan tissue kering hehehehe.

Saya sendiri tak sedetil itu mempersiapkan isi koper saya. Bawa baju 9 lembar, handuk dua (dan tak terpakai karena saya pakai handuk hotel), tidak bawa mukena karena ketinggalan hahahahah, tapi untung diberi kawan, dan diberi travel juga. Bawa kaos kaki 6 tapi terpakai 4 saja hehehe (karena saya bisa mencuci menjemur dan kering). Bawa termos minum 800cc untuk bekal minum air zamzam di hotel, dan ini sangat terpakai sekali. Bawa keringan teri tempe di kasih teman tapi tak termakan, bawa bon cabe juga tak termakan! Bukan karena tak butuh, tapi tak sempat mikirin lauk dua itu. Yang jelas, satu coat dan satu sweater itu sangat terpakai karena saat malam dan subuh suasana Mekkah Madinah cukup dingin bisa mencapai 10 derajat celcius.

Begitulah lalu sayapun berpamitan pada mertua dan anak anak, naik kereta api malam menuju Bandung. Di Bandung saya bertemu teman yang datang dari Medan untuk umroh bareng saya, dua teman perempuan yang memang stay di Bandung, dan satu teman lelaki yang akan datang dari Jakarta mengantarkan perlengkapan umroh who is dia juga yang jadi supporter umroh saya dan teman dari Medan itu. Mereka semua sahabat2 SMA saya.

Di Bandung saya bermalam di hotel dengan sobat2 saya itu. Melengkapi keperluan apa yang belum kami punya, silaturahmi ke rumah orangtua kawan2, dan sedikit bernostalgi ditempat tempat tongkrongan kami dulu. Semalam itu saja lalu bubaran dulu ke keluarga masing2, saya dan kawan saya tentu saja harus packing koper perlengkapan umroh yang sudah tersedia. Mempersiapkan sekali lagi apa apa saja yang kurang, yang perlu dan tak perlu dibawa. Cek list bolak balik ( dan mukena saya tetap ketinggalan hehehehe).

Kondisi anak-anak tentu saja saya cek bolak balik juga. Tetiba dapat kabar salah satu si kembar sakit demam. Mertua yang bersedia mengantarkan kembar ke Bandung , demam juga. OMG!

Tapi adik saya mengingatkan ; niatnya sudah mau umroh, lepaskan saja urusan duniawi, fokus pada ibadah aja, jangan terlalu dipikir, Allah will take care all the rest, as long as you declare that you are ready to be HIS guest.

Jadi betul, toh semua bisa berjalan sesuai rencana alhamdulillah. Mertua pada akhirnya bisa mengantarkan anak-anak ke Bandung, anak saya sehat, mertua juga sehat alhamdulillah.

 

Advertisements