Archive for March, 2017


Percaya

Masalah itu menurut saya muncul karena yang satu terlalu gampang percaya dan terlalu buru-buru mengambil keputusan, sehingga jadilah gegabah.

Saya ini tipical yang tak mudah percaya begitu saja. Kalaupun saya bisa “mempercayai” seorang penipu, itu sudah saya prediksi di awal biasanya bahwa ini orang cuma penipu kampungan, tapi tak mengapalah karena saya perlu tahu lebih banyak sejauh mana kebrengsekan seorang penipu. Enjoy the game then. Tapi tidak dengan kawan saya itu. Padahal kawan saya dan saya itu sesama gemini, tapi mengapa dia gampang percaya dan saya tidak ya?

Dulu suka ada lelaki gombal yang sering memberi janji-janji surga dunia (jaman pacaran), di depan dia saya berbunga-bunga, tapi di dalam hati saya mencibir. Buat saya bicara itu gampang memang, membuktikan itu yang sulit. Mengapa tak buktikan saja dulu lalu bicara belakangan? tapi jarang banget yang seperti ini; bukti dulu lalu kata pengantar tuh jaraaang banget.

Jadi gak heran saya gak pernah ambil hati atau anggap serius beratus ratus macam rencana, atau janji atau mimpi2 indah yang melibatkan saya di dalamnya, atau saya cuma numpang denger doang. Sobat saya kadang sampai kesal : Susah sekali meyakinkan kamu ya?, katanya dengan mimik putus asa. Saya cuma angkat bahu. Tapi ketika dia menunjukkan tanda terima uang muka pembayaran perjalanan umroh atas nama saya, saya pun percaya. Hahahaha. Itu yang saya maksud “Bukti” lebih penting dari proposal!

Jadi begitulah, akibat gampang mempercayai ucapan orang, teman saya pun akhirnya harus gigit jari. Banyak keputusan yang akhirnya dia cancel dengan pihak ke 3, dengan rasa malu. Bahkan harus mencari investor baru untuk proyek yang kadung dia buat. Dia pikir semua yang telah dia putuskan itu telah mendapat jaminan back up  dari orang yang dia “percaya”. Terlalu cepat kawan saya itu memutuskan untuk percaya, padahal belum ada bukti2 bahwa orang itu serius.

Saya tak seperti itu. Jadi beruntunglah suami saya sebetulnya. Ntah sudah berapa banyak janji2 manis dan mimpi2 yang dia tumpahkan, tapi saya tak gampang percaya sehingga mudah melupakannya. Saya tak suka kembang2 muluk seperti itu. Kalau jadi buluk, saya juga yang rugi terlanjur mengingatnya. Jadi sudah sejak saya remaja kebiasaan untuk tak gampang percaya saya terapkan untuk melindungi diri saya sendiri.

Saya dijanjikan pekerjaan dengan gaji mengiurkanpun saya sambut dengan emoticon histeris bahagia, tapi hati saya ? facepalm* hahahaha. Lucunya kawan2 lain bisa dengan mudahnya termakan dan mudahnya percaya … lalu jadi berharap. Again; berharap itu pada ALLAH, bukan pada manusia. Bukannya saya tak ingin menyeriusi, ingin, tapi tak bisa, atau tepatnya tak biasa.

Keyakinan penuh bahwa bukti itu jauh lebih akurat dari omongan, benar2 sudah membatu di pikiran saya, tak bisa dirubah lagi. Dan tempaan hidup yang pahit dan tak menyenangkan telah mengajarkan saya bahwa mulut manusia bisa ngember se-sumur, tak habis-habis. Tapi keputusan bukan ada pada mulut mereka, bukan pada manusia, melainkan pada ALLAH. Jadi tak usah berbunga-bunga ketika mendengar janji manis manusia, tapi berharaplah dengan ketakwaan pada Sang Kuasa pada sujud kita, pada tadah tangan kita dalam doa doa yang khusuk.

Saya berusaha menasehati kawan saya supaya next time dia jangan terlalu gampang percaya. Tapi nampaknya tak terterima. Oh well , sa’karep mu lah. Keputusan ya keputusan dia sendiri yang buat, apes ya apes dia sendiri yang rasa. Saya cuma sampai di pintu nasehat saja.

 

Advertisements

Cermin

Jadi kamu tak percaya bahwa ketepatan dan kecepatan kita memenuhi panggilan sholat itu berkaitan erat dengan lancar tidaknya urusanmu? Terserah kamulah. Ilmu memang tidak harus terterima dengan mudah. 

Kalau rejekimu masih ada meski kamu merasa tak tepati waktu sholat dan kamu pikir itu bisa diartikan bahwa ketepatan waktu sholat tak ada pengaruhnya bagi rejekimu, sebetulnya itu cuma sebentuk kasih sayang yang besar dari Sang Akbar. Dia mencintaimu meski kamu tak pernah bergegas cepat memenuhi panggilanNya. Kalau kamu datang terlambat dan kamu masih diberi tempat olehNya di dalam mesjid (bukan diluar), itu karena DIA mencintaimu. Tapi ini tak lantas harus membuatmu ngelunjak minta terus diperlakukan special. Hamba macam apa kamu? Tak tahu diri!!! Membayangkannya saja saya sudah malu hati dan muak pada keegoan diri. 

Kamu tak benar-benar mencintaiNya tapi kamu berharap banyak dariNya? Kamu mengacuhkan kerinduanNya tapi kamu berharap dicintai? Kamu menomor sekiankan Dia tapi kamu minta didahulukan kepentinganmu? Kamu hamba kutu kupret. Kalau saya, sudah saya matikan kamu, saya ganti dengan yang lebih baik. Tapi Tuhan Maha Sabar dan Maha Penyayang… Begitupun kamu masih merasa tak sudi berlari kepadaNya ketika Dia memanggilmu?

Sebetulnya inti semua ini adalah membuatNya lebih mencintaimu sehingga tanpa kamu mintapun Dia akan melimpahimu dengan banyak hadiah. Bukankah Dia mengatakan pada kita jika kita berjalan mendekatiNya, Dia berlari mendekati kita? 

Bencillah pada dirimu sendiri sebelum kamu mengeluh mengapa doa doamu tak terkabul. Doa doa impianmu, doa doa yang mewakili nafsumu, dan bukan doa doa yang menunjukkan kebutuhanmu. Sementara Dia mengurusi semua kebutuhanmu tanpa kamu minta dan tanpa kamu sadari!!! Bencillah pada dirimu sendiri sebelum kamu meneriakiNya karena ,asal kamu tahu, Dia mencintaimu lebih dari ibumu mencintaimu!!! Dialah yang menciptakan banyak cinta untukmu termasuk ibumu, begitupun kamu masih tak menganggapNya dengan hatimu??? Seperti kamu pada ibumu kan?? 

Apa salahNya? Sehingga kamu sering marah padaNya?? MengeluhiNya? Menggerutu? Bukankah kamu selalu datang terlambat memenuhi panggilanNya? Lalu kamu meneriakiNya karena mesjid penuh dan kamu tak dapat tempat dibelakang imam???

Stupid.

.

Jin oh Jin

Sebetulnya sudah dari dulu saya sering berurusan dengan jin. Sejak masih sekolah dan sejak anak pertama saya belum masuk sekolah. Gas pernah dimatikan, lontong pindah tempat, atau jus jambu yang ntah darimana asalnya dan banyak lagi. Tak ada penjelasan logis untuk semua itu, so stop assuming bahwa “mungkin kerjaan orang”. 

Ternyata urusan jin ini ga berenti karena sekarangpun masih saja saya merasa dijailin mahluk kasat mata itu. Sekarang saya tak takut melainkan kesal. Saking kesalnya wajah saya bisa jadi lebih mengerikan daripada mereka ketika ayat2 suci itu saya bacakan untuk membakar kulitnya.

Laptop ngadat bisa hidup lagi dengan ayat kursi kan luar biasa itu mengganggunya mereka. Apa saya tak boleh mendengar tauziah? Ruqyah? Sehingga seenaknya di-erorkan? Jin kampret! Bener-bener minta dibakar!!

Ya ya kalau kita memang harus hidup berdampingan, be it! Tapi ya ga usah cunihin gitu. Lu jual gue beli deh jadinya. 


 

Prioritas

Saya jadi teringat sesuatu dan sebelum lupa, enaknya saya abadikan di blog ini.

Tentang prioritas sholat.

Ini mencuat dalam benak saya ketika sholat di Masjidil Haram dalam beberapa sikon. Sikon ketika saya mempersiapkan diri lebih awal menunggu tibanya waktu sholat, sikon datang tepat waktu sholat, sikon datang sedikit telat dari waktu sholat, lalu datang agak telat, lalu datang telat. Akibat yang saya dapat dari masing2 situasi itu (berkenaan dengan tempat sholat saya di area Masjidil) berbeda-beda. 

Gak ada cerita deh datang telat tapi mau tempat yang asik langsung ngadep Ka’bah. Come on! How could it be?? 

Datang telat ya terpaksa sholat dipinggir jalan, datang agak telat bisa solat di dekat tempat wudhu yang sedikit basah, datang sedikit telat ya bisa di lantai 2, atau dihalaman Masjidil, datang pas waktu ya alhamdulillah masih dapat tempat didalam, adem sejuk, tenang. Nah datang dengan persiapan menunggu sholat pastinya bisa dapat tempat yang lebih eksklusif. Tentunya secara mesjid masih lenggang..banyak tempat masih kosong kita bisa memilih tempat terbaik sesuka kita, mau yang langsung menghadap Kabah pun bisa!! 

Sudah bisa mengerti maksud saya?

Bahwa saran Rasulullah untuk sholat tepat waktu supaya hidup kita lebih baik, itu sudah “aturan khalamullah”. It is when we give HIM the priority, HE definitely will make us HIS priority. It is us who determine the result for sure ; weather we want to be HIS priority or not?

Gak lucu banget kalau kita merasa semua doa kita tidak diijabah tepat waktu seperti yang kita mau padahal itu karena kita memang selalu ” telat” memenuhi panggilanNYA. Bukan salahNya kalau kita lalu dapat tempat “pinggiran”. Tentu kita berlomba dengan muslim2 rightenous lainnya. Siapa yang memberi prioritas utama terhadap sholat, akan mendapatkan prioritas eksklusif pula, dengan sendirinya malah. Bukankah Allah Maha Adil? Yang datang jauh lebih awal karena sholat prioritas utama tentunya akan jadi tamu istimewa. Lha yang datang selalu telat lalu minta diistimewakan? Jedukin aja kepala ke tembok!! Huh! Ga tau malu! (Ngomong ke diri sendiri)

Kalau hukum Allah, aturan Allah, khalamullah ini sudah begitu jelasnya, lalu masihkah kita berani meminta banyak, plus semua permintaan harus cepat terkabul, sementara kita masih menjadikan sholat sebagai prioritas kesekian??? 

MIMPI!!!!

Pic: kebagian sholat diluar mesjid 😦

Quote I like

“Aku usir suamiku barusan”, adu Ima lewat chat. “Aku kesal dia tidak menjalankan kewajibannya sebagai kepala keluarga selama bertahun-tahun. Aku selalu dalam posisi setengah mati mencari dan mengusahakan jalan keluar, sementara dia nampak santai terus seperti tak punya masalah apa-apa. Aku gak tahan, aku kesal”.

“Tak adakah keluargamu yang bisa kau mintai tolong?” tanyaku. “Tak ada, entah mengapa, terjadi salah pengertian kemaren sehingga, aku dikesali kakakku dan adik-adikku. Aku capek. Aku merasa sendirian menghadapi semua ini”.”Kau tak sendiri. Ada Allah” Tulisku.

“Aku ingin kembali ke Boy” katanya lagi menyebut nama lelaki selingkuhannya yang sudah lama dia tinggalkan karena ingin kembali membangun rumah tangga dengan suaminya. “Jangan. Kau tak harus kembali padanya, tapi pada Tuhan. Hanya Allah yang bisa kau mintai tolong, bukan si Boy. Dia bukan jalan keluarmu “.

“Aku sempat marah pada Tuhan. Aku pikir dengan umroh maka doa doaku akan diijabah tapi kenyataannya apa? masalahku kenapa makin rumit? aku bahkan ditinggalkan sendiri?”

“Ima, coba aku tanya kau. Jikalau anakmu sakit typus, lalu dia minta kau belikan coklat, es krim, permen, mie instan, apakah kau akan langsung mengabulkannya? ”

“Tidak”

“Tentunya. Karena kau mencintai anakmu kan? kau akan terus memberikannya obat yang pahit sehari 3x ntah berapa pil pahit, lalu makanannyapun akan kau takar dan kau perhatikan. Semisal harus bubur, harus hambar, harus halus, tak boleh minyak, tak boleh pedes, tak boleh yang enak-enak. Ya kan?”

“Iya..ya” tulisnya.

“Yang tahu tentang kita adalah Pencipta kita ma. Sakit apa kita, hanya Dia yang tahu. Butuh apa kita, hanya Dia yang tahu. Obat apa yang kita perlukan dan therapy apa yang kita perlukan, hanya Dia yang tahu. Kita tak tahu apa-apa. Mungkin kita sedang sakit sekarang, sehingga harta yang kita minta belum diberikan atau tidak diberikan demi keselamatan kita sendiri. Dia mencintai kita, mengapa kau menyalahkanNYA??”. Ima memberikan aku emoticon menangis 4 butir. “Mungkin saja DIA ingin kita sehat dulu, kuat dulu sehingga bisa DIA kabulkan semua permintaan. Percayalah, dikabulkan atau tak dikabulkan, semua demi keselamatan kita dunia-akhirat”

Aku menulis lagi, “Ibaratnya kau sedang naik mobil dijalan menanjak yang akan membawamu menuju puncak yang pemandangannya indah. Kau harus jago memainkan rem kaki, kopling dan gas. Yang jelas, kau harus menekan gasmu terus, tak boleh lepas kalau tak ingin mobilmu mundur lalu jatuh ke jurang. Sedikit-sedikit kau gas, terus kau gas, sehingga mobilmu maju, meski perlahan, tapi dia tetap naik dengan aman. Seperti itulah yang harus kau lakukan sekarang. Gas imanmu, gas tawakalmu! terus gas perlahan, jangan pernah kau lepas. Kau mengerti maksudku?”

“Aku mulai mengerti maksud semua ini ” tulisnya

“Jangan berharap pada manusia. Pemberi rejeki itu Allah, bukan suamimu. Rapikan dan baguskan sholatmu, ditambah dhuha akan lebih baik lagi, begitu cara kau menahan iman dan rasa tawakalmu. Percaya padaNYA bahwa DIAlah yang akan menolongmu. DIA bersamamu selalu, dekat denganmu dan menunggumu datang padaNYA… datanglah padaNYA ma… jangan pada Boy ”

“Thank you” kata Ima dan memberi emotikon tersenyum.

Aku cuma bisa mendoakan kawanku ini. Aku juga bukannya tak lepas dari masalah. Godaan untuk berbuat salah demi melarikan diri dari masalah juga bukannya kecil. Besar sekali.Tapi semua itu harus dilawan dengan niat untuk terus lurus. Karena kalau bolak balik mengkol,terus, nyampainya kapaaaan? sementara umur terus berkurang? Yah… hidup memang seperti itu, penuh cerita…konflik…masalah.

 Aku sendiri sedang berjuang untuk menambah iman dan tawakal, sama dengan Ima. Setiap saat selalu berusaha naik 1 derajat lebih baik dari hari kemarin. Hidup itu perjuangan; perjuangan untuk menjadi lebih baik secara kehidupan dan religy.

 

Advisor

Ternyata, kalau kita masih melakukan dosa A lalu mengingatkan orang lain untuk tidak melakukan dosa A, akan berdampak nyebelin untuk yang diingatkan apalagi yang diingatkan tau sekali bahwa kita sendiri masih melakukan dosa A.

Saran saja, kalau belum berhasil mengatasi dosa sendiri, gak usah lebay ngasih nasehat. Bagilah nasehat itu untuk berdua; untuk diri yang belum bisa ngatasi dan untuk orang lain yang dinasehati, sehingga outputnya gak lebay mleber-mleber tumpah ruah bikin kelelep. Kalau dibagi dengan rasa besar hati bahwa diri ini tak lepas dari dosa yang sama, biasanya “kata-kata” yang keluarpun akan lebih humble.

Dan yang paling mengesalkan kalau rasa ego ketika menasehati orang diatas namakan rasa “sayang” supaya sama-sama masuk surga. Terus terang, nasehat karena care yang tulus, dengan nasehat karena ego, ketika sampai ke hati yang dinasehati, akan beda banget rasanya. Orang yang menasehati karena ego nya, akan disambut orang yang dinasehati dengan ego juga, sebaliknya jika yang menasehati menggunakan rasa sayang, yang dinasehati akan menerima dengan sayang juga. Trust me, it works that way!

Itu sebabnya nasehat dari orang yang mencintai kita dengan cinta yang benar-benar cinta, bisa kita terima dengan cinta pula. Karena cara si cinta menasehati kita membuat kita makin cinta. Hadeuuuh… kenapa jadi romantis begini?

Tapi gak selalu begitu. Nouman Ali Khan itu bukan cinta saya, tapi cara dia menasehati penuh dengan kasih sayang dan tak pernah pakai ego. Gak heran kalau saya selalu terkesan dengan nasehat-nasehatnya. Tak pernah berisi caci-maki, merendahkan, menghakimi dan amarah, melainkan kasih sayang, support untuk berbuat baik dan ajakan lemah lembut. Menggelitik kita untuk patuh daripada membangkang.

Tapi memang tak mudah menjadi the best advisor, termasuk saya yang bolak balik merasa gagal menjadi penasehat asik. Padahal nasehat2 saya diperlukan anak-anak saya, tapi mengapa selalu berbarengan dengan amarah??? hhhhhh…..

Semoga Allah memberikan saya kemudahan bicara dan kelapangan dada seperti Nabi Musa ketika menasehati Firaun, sehingga siapapun yang saya nasehati tak merasa sedang digurui atau sakit hati, melainkan menerimanya dengan baik dan meresapinya dalam-dalam untuk terus diingat… semoga.

 

Akhirnya pecah juga mereka setelah sekian bulan bersama-sama cuma karena masalah uang dan ketidakterbukaan, atau ketidakjujuran? atau mis-komunikasi? Seperti biasa, dari jaman taun jebrot, saya selalu jadi “perantara” dari dua kubu yang berkonflik. Mungkin karena saya selalu mau mendengarkan dari dua sisi, lebih tepatnya; berusaha mendengar dari dua sisi. Tak berani mencoba subjektif meskipun salah satu dari mereka adalah yang paling dekat dengan saya. Mengapa? saya takut salah “menilai” lalu menyesal kemudian. Tak heran kadang saya kena semprot yang kanan, atau yang kiri, cuma karena berusaha objektif, bukan membela salah satu.

Ternyata memang tak mudah menyatukan dua kubu yang sudah kepalang amit-amitan. Padahal saya pikir, masalah bisa diselesaikan dengan baik-baik, lalu pertemanan bisa disambung kembali. Sungguh meskipun saya tak begitu dekat dengan yang satu, dan lebih dekat dengan satunya, saya tak suka mereka bentrok lalu putus tali silaturahmi. Okelah, bilang saja si A itu jahat, karakternya jelek dlsb, tapi tak harus dimusuhi kan? kadang2 kita juga yang salah karena memberi celah orang lain untuk berbuat jahat. Sepanjang kita tak memberi celah siapapun untuk menjahati kita, saya percaya tak akan ada kejahatan yang muncul. Lempeng saja aman, in shaa Allah. Sejahat-jahatnya orang, pasti masih ada sisi baiknya. Dekati sisi yang itu saja, jauhi jahatnya, sudah.

Teman saya yang berkonflik itu, salah satunya berbintang gemini.  Saya tak begitu dekat dengan kawan gemini ini, tapi saya juga tak sepenuhnya menyalahkan alasan dia sehingga terjadi konflik ini. Sebagai sesama gemini, saya bisa menerima dan mengerti semua alasannya, tapi teman dekat saya yang satu lagi mem-bullshit-kan semua alasan yang buat dia tak masuk akal, tapi buat saya so so so make sense.

Saya kesal karena belum berhasil mendamaikan mereka. Ntah kenapa saya kesal sayapun tak tau. Mungkin karena saya pikir ini cuma salah pengertian saja, sehingga gak seimbang jika harus memutus tali pertemanan. Kalau karena penghianatan, atau menusuk kawan dari belakang, mungkin memang terlalu kejam untuk ditolelir. Dua-duanyapun saling keras kepala dengan alasan masing2. Mumet.

Saya masih berharap ada jalan keluar bagi mereka berdua berdamai, meskipun saya sempat kesal lalu mematikan hp sekian lama, meninggalkan semua dunia orbrolan di wa.

Kita lihat saja nanti… wish me luck.

 

 

Kesan Perjalanan Menuju Cinta

Yang tak bisa terlupa dari yang 9 hari itu adalah…..

Tentang putaran tawaf pada Ka’bah yang tak pernah terhenti sedetikpun, sepanjang masa. Kekaguman ini susah dicari logikanya, semua bermuara pada iman, takwa, dan kecintaan yang melahirkan keinginan mengabdi.

Ternyata yang saya kuatirkan selama sebelum pergi, tak ada satupun yang terjadi :), alhamdulillah. Saya membantu orang di pesawat, dan saya dibantu orang di Mekah, itu terjadi. Saya nyuap kucing kurap di Baitullah, tak lama ada yang menyodorkan saya jus jeruk sambil berkata : “hadiah”, itu terjadi beneran. Tak lama kemudian ada yang menghadiahi tasbih dan kurma. Saya mendahulukan orang lain, lalu saya didahulukan orang lain juga. Saya membantu orang lain, dan saya dibantu olehNYA. Saya melindungi orang, dan saya dilindungi orang. Saya tak berpikir jelek, sehingga tak menemukan yang jelek.

Lalu “teguran” apa yang kira2 menjadi reminder untuk saya? sok tau. Iya, saya itu sok tau ternyata. Yang saya pikir saya benar, ternyata belum tentu, jadi untuk hal satu ini saya harus reducing sebanyak mungkin. Lebih baik berlagak tak tau daripada sok tau (lesson learned, in shaa Allah). Teguran kedua, i assume, bahwa saya harus bersilaturahmi, memelihara pertemanan dan hubungan persaudaraan dengan baik, karena manusia tak bisa hidup sendiri. Karena pertolonganNYA kadang wajib dengan “perantara” yaitu keluarga dan kawan2. Kita tak bisa sendiri atau menyendiri selalu dan memutus tali silaturahim. Kita selalu butuh orang lain, semandiri apapun kita! Maka, selalu baiklah kepada siapapun dan rawatlah hubungan baik itu. We need them.Lesson learned , in shaa Allah.

Bahwa Saya selalu terlalu sering CEPAT menyerah pada hal yang saya anggap tak mungkin dengan berbagai alasan. Terbukti saat saya merasa harus mundur ketika menarget Hijir Ismail dan Rawdah karena merasa super pesimis, ternyata saya bisa! Memang tak mudah untuk mencapai target, saya harus melakukan yang tak mau saya lakukan, tapi ternyata lagi, tak seburuk yang saya pikir, tak sesakit yang saya duga, dan tak sesulit yang saya prediksi, dan perjuangan yang buat saya termasuk “keras” dan “melawan nurani saya” itu pun berbuah manis.

Bahwa bukan gunung tinggi yang susah didaki, melainkan kerikil kecil yang ada dalam sepatu kitalah yang seringkali membuat kita gagal mendaki gunung. Ada kekuatiran yang beralasan dan ada yang tidak beralasan. Butuh iman dan rasa tawakal tinggi untuk bisa melihat mana yang beralasan dan mana yang tak beralasan: mana yang melindungi dari bahaya dan mana yang malah cuma jadi batu sandungan. 

Bahwa kita harus melakukan apa yang bisa kita lakukan sekarang, saat ini, daripada mengulur waktu dan berencana. Karena kita tak pernah tau apa yang terjadi kemudian. Spekulasi akan selalu lebih menguntungkan apabila kita melakukan segera apa yang bisa kita lakukan ketimbang berencana lalu menunda. Somehow keadaan didepan sana bisa lebih sulit ternyata. Sesal kemudian tiada guna, toh? 

Bahwa kerjasama itu hasilnya selalu lebih baik daripada kerja sendiri.

Bahwa untuk urusan tawaf (aka ibadah), sebetulnya lebih asik jalan sendiri daripada berombongan. Karena ibadah itu haruslah hubungan pribadi dengan Allah langsung, bukan hubungan pribadi dengan grup lalu Allah. Terpecahlah konsentrasi kita. Ini perlu persiapan rasa tawakal dan penguasaan peta area ibadah, I guessed. Ada ikhtiar, ada doa, maka ada selamat, in shaa Allah. 

Bahwa belanja di Madinah lebih asik daripada di Mekah. Ini penting diingat dan di share :D. 

Dan bahwa baik di Madinah ataupun Mekkah, burung2 di Baitullah dan Nabawi seperti tiada henti berkicau. Sungguh mereka selalu bertasbih dalam puja puji terhadap Rabbnya. 

Allahu Akbar!

Kesan saya yang terakhir adalah bahwa Allah selalu mendengar keinginan kita meski tak pernah terucap dalam doa doa kita, ntah karena kita lupa, ntah karena kita merasa belum perlu memasukkannya dalam doa. Allah mendengar! Allah mengabulkan! Jadi salaaaaahhh banget kalau orang sampai harus semedi di air terjun tujuh hari tujuh malam cuma supaya keinginannya terkabul.

Saya cuma membatin dalam hati tentang betapa inginnya saya melihat ka’bah sebelum ia dihancurkan yahudi jahat berkaki pengkor (hadis), betapa ingin saya menyentuh ka’bah sebelum ia tak ada lagi. Itu! Itu saja..begitu saja. Lalu diijabah dengan cara yang menyenangkan alhamdulillah.. subhanaa Allah. 

My Lord…My Love…thank You for the invitation… 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Akhirnya tiba juga saat hari-hari terakhir di Madinah tercinta hiks. Disaat-saat menunggu sholat, kami berjalan-jalan disekitar Mesjid Nabawi. Ternyata ya, justru di Nabawi banyak sekali toko yang menjual oleh-oleh dengan harga murah. Tak saja toko tapi di Gate 15 ada pasar yang buka sepanjang hari dengan banrolan dagangan yang jauh lebih murah dibandingkan Mekkah, Jeddah atau Doha.Di Gate 23 pun harga-harga banrolannya termasuk sangat murah. Ada beberapa spot pertokoan yang harganya asik banget dipakai untuk “lempar riyal”

Misal nih, baju gamis wanita di Mekkah 60 riyal, di Nabawi 40 riyal, coklat 20 riyal sekilo di jeddah, Nabawi 15 riyal, mainan kunci onta yang keemasan di Jeddah 30 riyal dapet 3, di Nabawi 15 riyal 2 dan lain lainlah, pokoknya jauuuh lebih murah ternyata.

Untung saya tak banyak lempar riyal di Mekkah, jadi lumayan bisa menjelajahi pasar Nabawi dengan bahagia.Hihihi

Belakangan saya cek di Indonesia, ternyata harga coklat langsung beli di Madinah jauh lebih murah daripada beli di Indonesia. Disini sekilo bisa dibanrol 150K-250K (itupun cuma satu jenis coklat) sementara di Nabawi cuma 15 riyal sekilo yaitu hanya sekitar 60K kurang plus kita bisa meraup coklat mana saja yang jenisnya bisa 15 macam! . Begitu juga coklat kerikilnya, disana 35-70 riyal sekilo (dikali aja Rp 3.700), sementara disini bisa 200K-350K/kg. Alhamdulillah kemaren saya memang borong coklat sampai 4 kg. Kurma sudah terlalu mainstream. Hehehehe. Besides, I love coklat!!!

Nah kalau mainan kunci onta ontaan yang made in china, murah di Indonesia. Sajadah travel juga murah disini. Kalau Korma saya kurang survei karena selain tak tertarik, saya juga tak begitu suka.

Sebelum umroh, saya memang tak mikir soal lempar riyal ini. Tak ada rencana sama sekali mau beli apa. Buat saya, biar Allah saja yang memutuskan saya akan dipilihkan apa untuk dibawa pulang sebagai kenang2an. Dan ternyata saya membeli yang paling mahal dijual di Indonesia tapi murah dijual di tanah haram hehehehe. Alhamdulillah…tak berlebih…tak juga kurang. 

Begitulah akhirnya dihari terakhir hotel sepi karena kawan se- grup nyebar berbelanja from shop to shop disepanjang gedung2 yang mengelilingi Nabawi. Riyal sama sekali tak tersisa di dompet kami. Lempar semuaaaaaa!!

Jam 8 pagi kami cek out dari hotel. Banyak kawan yang kopernya beranak pinak. Saya? Saya gak nambah koper tapi nambah beratin koper hehehe. Alhamdulillah gak meribet. 

Kami menuju Doha yang memakan waktu 5-6 jam, terbang ke Jeddah lalu Jakarta dengan Qatar Airline. Sedihnya saya sepanjang perjalanan pulang. Meninggalkan Rasulullah dan Baitullah… Tapi saya tak menangis… Saya bersyukur tiada henti, telah diberi kesempatan mengunjungi rumahNya, mengunjungi makam Rasulullah saw dan meresapi sejarah islam yang in shaa Allah menambah keimanan dan kecintaan saya pada Dia dan Rasulullah. In shaa Allah….