Kami diberi waktu 2 hari ‘free’ untuk beribadah sepuasnya di Masjidil Haram, yang mana saya tak begitu happy karena tak ditemani mutowif. Kata “free” itu kalau dilakoni yang sudah biasa umroh pastinya asik-asik aja, sementara buat yang newbee seperti saya agak-agak menyedihkan karena takut “nyasar”. Tapi ya alhamdulillah saya diberi kawan sekamar yang bak GPS untuk saya, baik hati, gemini pulak!! (Halah!). Jadilah kami berempat, sekamar,  sering berenteng-renteng barengan ke Masjidil.

Lokasi antara hotel dengan masjidil harus ditempuh dengan naik bis hotel yang tiap saat stand by mengantarkan jemaah. Cukup dekat cuma berkisar 1.5 km saja ke terminal, lalu dilanjut jalan kaki sekitar 1 km an lagi menuju masjidil.

Jadi dua hari free itu dari 5 kali sholat wajib, biasanya cuma sekali sholat di hotel. Kadang dhuhur di hotel, kadang magrib. Maklumlah, newbee, belum bisa atur waktu juga. Kalau sudah begini rasanya ingin kembali memperbaiki banyak kesalahan dikesempatan pertama. Semoga bisa, aamiin.

Sebelum umroh memang sudah banyak yang mengingatkan, sholat apaaa saja!, apaaa saja! disana. Semua sholat sunnah lakoni!! sebanyak banyaknya karena kesempatan “diundang” bisa jadi tak datang dua kali. Dilakoni memang alhamdulillah meskipun tak sebanyak yang direncanakan. Karena pada kenyataannya kami banyak ngantuknya, pffftttt. Luar biasa sejuknya suasana Mekkah, damai dan tenang hati tak tertandingi, jadi yang namanya ngantuk naudzubilla beratnya. Ini perjuangan terberat selama beribadah disana.

Mungkin memang tak boleh terlalu banyak bengong supaya tak ngantuk, anehnya baca Al Qur’an tak ngantuk, tawaf tak ngantuk, menatap ka’bah juga tak ngantuk. But once pikiran kita kosong gak tau mau ngapain, ini itu merasa sudah dikerjakan, saat itulah ngantuk menyerang! dengan ganasnya! Tapi memang sehari-hari seperti itu, begitu kita “tak produktif” maka akan banyak waktu terbuang percuma oleh ulah si ngantuk.

Hari pertama free time, setelah ibadah kami menyempatkan kuliner. Target saya dari awal adalah kebab. Mikir kalau kebab itu dibeli langsung ditanah asalnya , pastilah berbeda, jauh lebih wokeh. Etapi ternyata teori itu meleset, kebab punya Abra Kebab atau Downer kebab atau bahkan kebab jalanan seperti kebab Baba Rafi , yang sering saya beli di Ina jauuuuh lebih menggoyang lidah dan merasuk sukma kulinery saya daripada kebab Arab ori. Ntah berapa kali saya trial beli kebab di beberapa penjual berbeda dan satupun tak ada yang selezat racikan ala Indonesia. Disana cenderung lebih hambar sementara di Ina sangat spicy. Rotinya? rotinya enak sekali. Ina kalah untuk urusan ini. Roti mereka lembut dan lezat. Jus mereka juga enak, kental dan asli.Kopi? kopinya lebih asik racikan saya sendiri dari resto hotel heheheheh. Briyaninya? again… kurang spicy. Masih lebih lezato briyani buatan teman orang Arab yang sudah lama bermukim di kebon kacang Jakarta sana :P. Kentang goreng? yang satu ini Arab punya lebih ori. Sayang hambar juga… coba diawur garem pasti lebih manstabbb.

Selesailah urusan kulinary, lalu lanjut ke free time hari kedua, kami se-grup memutuskan tawaf dengan target mencium batu hajaral aswat, dan  sholat sunnah di hijir ismail. Adapun target saya dari rumah itu sholat sunnah di hijir ismail dan menyentuh dinding multazam. Kenapa saya mau banget yang dua ini? karena kharomah kedua tempat ini adalah “pengabulan doa”, berbeda dengan kharomah hajaral aswat.

Sejak hari pertama memandang ka’bah saya selalu memperhatikan sudut multazam itu (dinding sempit antara hajaral aswat dan pintu ka’bah), dan tak pernah sedetikpun saya lihat tempat itu kosong dari manusia, jangankan kosong, renggangpun tak pernah! Bukan saja karena ukurannya yang sempit, tapi juga karena orang mengejar kharomah hajaral aswat di sebelahnya. Mungkin tak banyak yang tau juga betapa dinding multazam itu begitu dasyat kharomahnya, tak kalah dasyat dengan karomah hajaral aswat. Tempat itu tak pernah bercelah! dan saya menjadi tak berharap banyak.

Kami melakukan tawaf bertarget itu menjelang sore. Mutowif yang bergelar habib memimpin tawaf kami setelah membentuk formasi laki2 di ring luar dan wanita didalam supaya rombongan tak terpecah. Rencananya kami akan saling membuat blokade ketika tiba di hajaral aswat dan di hijir ismail, so, anggota bisa bergiliran melakukan ibadah sunnah. Tapi rencana tinggal rencana, setelah putaran ke-3 dan rombongan semakin mendekati ka’bah, arus manusia semakin padat dan semakin beringas. Sayapun berpikir untuk ‘mundur’ saja dari “perebutan” kesempatan berdoa mustajab itu. Kepala saya menoleh ke kanan, ke arah ‘exit’ mengira-ngira situasi bisa out. Lalu mendadak rombongan terpecah, buyar!. Halaaahh… gawat ini pikir saya, bisa nyasar nih saya. Tapi teman segrup yang asal Papua persis berada tepat di depan saya sedang bergandengan lengan dengan suaminya, cepat saya memegang bahu teman saya itu dan mengikuti “movement” mereka berdua. Saya masih sempat menoleh ke arah “exit” dari kerumunan tawaf , ketika saya merasa harus ikut tertarik masuk lebih dekat dengan ka’bah. Benar saja, ketika saya menoleh ke arah kiri, bangunan ka’bah yang anggun itu sudah begitu dekatttt dengan saya, menjulang gagah dengan kharismanya. “Oh well Allah, I wont give up now!!” begitu batin saya dan mulai bertekad berjuang mencapai hijir Ismail.

Kalimat2 istigfar tak henti meluncur dari mulut saya sambil tetap berpegangan kuat pada teman saya yang luar biasa seterooong ternyata, alhamdulillah. Tekanan dari kanan, kiri, depan belakang kadang2 begitu kerasnya sampai saya merasa jantung mau copot, sesak nafas dadakan, atau berasa kegencet buldozer dari segala arah. Tapi hati kecil saya berbisik santai; “Yang gencet elu toh sesama daging, sama sama empuk, lu gak bakal penyet jadi kertas kok! ibarat yupi, lu bisa membal lagi kembali ke bentuk asal kan?”. Ehh iya iya, bener begituu… batin saya dan semakin mendesak masuk lebih dekat ke ka’bah. Akhirnya terpegang dinding melingkar hijir Ismail. Tangan kami terus menelusuri dinding porselen itu sampai tiba di tempat masuknya. Kerumunan manusia makin super duper padat disitu. Posisi kami semua adalah “gepeng” karena desakannya. Tapi bak pemain rugby, kami meringsak masuk, terus mendorong, gepeng lagi, mendorong lagi, gepeng lagi, terombang ambing kesana..kemari…. dan mulut tiada henti minta pertolongan Allah supaya diijinkan masuk. Gak heran di tempat masuk hijir ismail itu kita pada gepeng karena sekaligus itu menjadi tempat keluar. Duhay Allah…. sebegitu kerasnya niat para hambaMU ini untuk dikabulkan doa-doanya…

Alhamdulillah kami bertiga lalu sudah berdiri di areal hijir ismail. Ya Allah, ampuni hambaMu ini karena ntah kepala siapa yang hamba kenai kaki hamba ketika dia sedang sujud, hiks. Hamba pantati juga orang yang sedang sholat, hiks. Tapi bagaimana mau mikir tata krama kalau dalam posisi seperti itu??? “Ayo cepat2 sholat” begitu kata suami teman saya. Kamipun solat seadanya. Tak bisa rukuk ya tak rukuk, tak bisa sujud ya tak sujud, pokoknya terus berusaha solat. Tetiba ada space untuk teman saya sholat, saya langsung membuat blokade dengan suaminya, menjaga dia supaya bisa solat sempurna.Kami terdorong kesana kemari, terhempas-hempas dan kami bertahan saling menguatkan pagar badan supaya kawan yang sedang sholat bisa sholat sempurna. Begitu dia selesai, saya melihat ruang kosong disebelah kiri saya yang cukup untuk saya dan dua orang lagi (tapi yang dua itu tak ada dan lapak tetap kosong melompong) untuk melakukan solat sempurna!!, cepat2 gantian saya dan suami teman saya itu yang sholat dua rakaat. Aneeh… tempat seramai itu saya bisa solat sempurna dengan tenang tanpa gangguan sedikitpun dengan “lapak” yang cukup lega untuk 3 orang, tanpa blokade siapapun!. Believe it or not , alhamdulillah. Begitupun kami tak langsung keluar, karena berdoa sepuas-puasnya sampai saya merasa tak tahu harus meminta apa lagi, dan mengisyaratkan kawan2 saya itu untuk gantian dengan yang lain, “Let’s out!” tapi mereka masih bertahan berdoa. Tak lama kemudian, kami kembali terdorong arus… again gepeng2an lagi. Kali ini kami memutuskan keluar.

Kami merayap didinding ka’bah sambil terus berusaha keluar dan terus memegang ka’bah, sekali kali kami terdorong menjauh sedikit, lalu mendekat lagi, dan saya memeluk ka’bah lagi. Terdorong menjauh lagi, dan mendekat lagi, dan saya memeluk ka’bah lagi. Terus begitu…. sampai kami tiba di sudut batu hajaral aswat terletak. Oh… here we are, batin saya sambil menatap lekat batu surga yang menjadi dambaan muslim dunia untuk dicium karena sunnahnya begitu. Kami cuma bisa melihat sedekat itu, melambai dan cium tangan sendiri karena batu terkenal itu lagi diblokir pakai kursi berhubung ada jamaah yang terkabul request nya untuk solat disitu. Pengabulan yang jarang-jarang. Dan saya tak begitu kecewa meski tak dapat cipokan bertuah hehehehe… mungkin karena target saya adalah multazam.

Demikianlah kemudian kami menyempurnakan tawaf lalu melipir keluar area melanjutkan dengan sholat ashar dan magrib disana…

Alhamdulillah

Ini foto setelah gepeng bolak balik dalam perjuangan menuju hijir Ismail 🙂 Ternyata masih cukup rapih ya? setelah sebelumnya merasakan jadi adonan roti di dalam putaran tawaf ring satu hehehehe.

16903106_10208309720207179_1938665830815228661_o

 

 

Advertisements