Sedih sekali meninggalkan Mekkah, meninggalkan Ka’bah di Masjidil Haram. Saya rasanya belum puas bermesra-mesra memandangnya, juga merasa belum sempurna beribadah disana, plus merasa belum semua target ibadah saya tercapai disana. Mungkin memang saya harus kembali lagi kelak kesana dan tinggal disana jauh lebih lama lagi ; 42 hari in hajj occasion, aamiin ya Rabb.

Bicara soal haji, kami sempat diajak tour ke Padang Arofah, ke Mina, ke Musdalifah. Jikalau bicara soal Padang Arofah, saya teringat satu hal yang super tentangnya, yaitu tempat dimana manusia kelak akan dikumpulkan setelah bumi dihancurkan dan dibentuk kembali. Sebuah padang gersang yang tandus dan panas, dikelilingi bukit2 batu. Kebayang gak sih, sudah panas menggurun, matahari juga cuma sejengkal dari kepala kita (saking panasnya situasi kelak disana). Maka saya bergidik menatap Arofah. Sebuah tempat yang menjadi ritual terpenting tentang status haji seseorang yang tidak dilakukan saat umroh. Ritual pembeda antara umroh dan haji adalah tinggal di Arofah ini plus lempar jumroh.

Di Mina, musdalifah serta Arofah ini juga mendadak perasaan saya tak enak. Ada kesan mencekam, mengerikan, muram, kelam dan …bukan creepy tapi ntahlah .. yang jelas perasaan tak enak. Saya sempat bilang ke ibu saya saat itu tentang perasaan yang menyerang mendadak ini. Ibu saya bilang, mungkin karena disitu banyak saiton (jumroh), disitu juga sering terjadi kecelakaan yang merengut banyak jiwa jamaah haji. Saya pikir mungkin juga begitu. Kelak dihari dimana manusia dikumpulkan di padang itu, juga jangan2 memang akan menimbukan perasaan mencekam seperti yang saya rasakan itu ya. Sebuah kengerian pada sesuatu….

Kembali ke perjalanan menuju Madinah, it took about 4.5 to 5 hours. Kami tiba di hotel di Madinah sore hari. Setelah meletakkan barang2 di kamar, mandi dan makan, kami berjalan menuju Nabawi yang jaraknya mungkin sekitar 500 meter kurang dari hotel.

Madinah lebih cantik daripada Mekkah. Gedung2nya lebih tersusun rapih. Di kota haram ini pula terbaring jenazah Rasulullah saw dengan dua sahabat beliau Abu Bakar ra dan Umar bin Khattab as. Sementara Mekkah menyimpan sejarah sebagai kota kelahiran beliau. Dua kota muslim yang konon kelak tak bisa dimasuki Dajjal ini, haram pula diinjak oleh orang2 kafir (non muslim). Allah menjamin tak ada non muslim yang bisa masuk di kota ini, subhanaa Allah. Sehingga kerajaan Saud juga membangun kerajaannya di tanah halal supaya bisa menerima tamu2 yang bukan muslim disana. Luar biasa sekali bukan? Mimpi apa saya bisa menginjakkan kaki di dua kota super bersejarah itu. Alhamdulillah.

17021990_10208334570548422_1590771353877967028_n17097262_10208334572028459_4007032207318644251_o16864694_10208334574708526_671355190945758086_n17098467_10208334571868455_4464685036358724720_n17103651_10208334567788353_7924000740416636643_n

 

Advertisements