Yang tak bisa terlupa dari yang 9 hari itu adalah…..

Tentang putaran tawaf pada Ka’bah yang tak pernah terhenti sedetikpun, sepanjang masa. Kekaguman ini susah dicari logikanya, semua bermuara pada iman, takwa, dan kecintaan yang melahirkan keinginan mengabdi.

Ternyata yang saya kuatirkan selama sebelum pergi, tak ada satupun yang terjadi :), alhamdulillah. Saya membantu orang di pesawat, dan saya dibantu orang di Mekah, itu terjadi. Saya nyuap kucing kurap di Baitullah, tak lama ada yang menyodorkan saya jus jeruk sambil berkata : “hadiah”, itu terjadi beneran. Tak lama kemudian ada yang menghadiahi tasbih dan kurma. Saya mendahulukan orang lain, lalu saya didahulukan orang lain juga. Saya membantu orang lain, dan saya dibantu olehNYA. Saya melindungi orang, dan saya dilindungi orang. Saya tak berpikir jelek, sehingga tak menemukan yang jelek.

Lalu “teguran” apa yang kira2 menjadi reminder untuk saya? sok tau. Iya, saya itu sok tau ternyata. Yang saya pikir saya benar, ternyata belum tentu, jadi untuk hal satu ini saya harus reducing sebanyak mungkin. Lebih baik berlagak tak tau daripada sok tau (lesson learned, in shaa Allah). Teguran kedua, i assume, bahwa saya harus bersilaturahmi, memelihara pertemanan dan hubungan persaudaraan dengan baik, karena manusia tak bisa hidup sendiri. Karena pertolonganNYA kadang wajib dengan “perantara” yaitu keluarga dan kawan2. Kita tak bisa sendiri atau menyendiri selalu dan memutus tali silaturahim. Kita selalu butuh orang lain, semandiri apapun kita! Maka, selalu baiklah kepada siapapun dan rawatlah hubungan baik itu. We need them.Lesson learned , in shaa Allah.

Bahwa Saya selalu terlalu sering CEPAT menyerah pada hal yang saya anggap tak mungkin dengan berbagai alasan. Terbukti saat saya merasa harus mundur ketika menarget Hijir Ismail dan Rawdah karena merasa super pesimis, ternyata saya bisa! Memang tak mudah untuk mencapai target, saya harus melakukan yang tak mau saya lakukan, tapi ternyata lagi, tak seburuk yang saya pikir, tak sesakit yang saya duga, dan tak sesulit yang saya prediksi, dan perjuangan yang buat saya termasuk “keras” dan “melawan nurani saya” itu pun berbuah manis.

Bahwa bukan gunung tinggi yang susah didaki, melainkan kerikil kecil yang ada dalam sepatu kitalah yang seringkali membuat kita gagal mendaki gunung. Ada kekuatiran yang beralasan dan ada yang tidak beralasan. Butuh iman dan rasa tawakal tinggi untuk bisa melihat mana yang beralasan dan mana yang tak beralasan: mana yang melindungi dari bahaya dan mana yang malah cuma jadi batu sandungan. 

Bahwa kita harus melakukan apa yang bisa kita lakukan sekarang, saat ini, daripada mengulur waktu dan berencana. Karena kita tak pernah tau apa yang terjadi kemudian. Spekulasi akan selalu lebih menguntungkan apabila kita melakukan segera apa yang bisa kita lakukan ketimbang berencana lalu menunda. Somehow keadaan didepan sana bisa lebih sulit ternyata. Sesal kemudian tiada guna, toh? 

Bahwa kerjasama itu hasilnya selalu lebih baik daripada kerja sendiri.

Bahwa untuk urusan tawaf (aka ibadah), sebetulnya lebih asik jalan sendiri daripada berombongan. Karena ibadah itu haruslah hubungan pribadi dengan Allah langsung, bukan hubungan pribadi dengan grup lalu Allah. Terpecahlah konsentrasi kita. Ini perlu persiapan rasa tawakal dan penguasaan peta area ibadah, I guessed. Ada ikhtiar, ada doa, maka ada selamat, in shaa Allah. 

Bahwa belanja di Madinah lebih asik daripada di Mekah. Ini penting diingat dan di share :D. 

Dan bahwa baik di Madinah ataupun Mekkah, burung2 di Baitullah dan Nabawi seperti tiada henti berkicau. Sungguh mereka selalu bertasbih dalam puja puji terhadap Rabbnya. 

Allahu Akbar!

Kesan saya yang terakhir adalah bahwa Allah selalu mendengar keinginan kita meski tak pernah terucap dalam doa doa kita, ntah karena kita lupa, ntah karena kita merasa belum perlu memasukkannya dalam doa. Allah mendengar! Allah mengabulkan! Jadi salaaaaahhh banget kalau orang sampai harus semedi di air terjun tujuh hari tujuh malam cuma supaya keinginannya terkabul.

Saya cuma membatin dalam hati tentang betapa inginnya saya melihat ka’bah sebelum ia dihancurkan yahudi jahat berkaki pengkor (hadis), betapa ingin saya menyentuh ka’bah sebelum ia tak ada lagi. Itu! Itu saja..begitu saja. Lalu diijabah dengan cara yang menyenangkan alhamdulillah.. subhanaa Allah. 

My Lord…My Love…thank You for the invitation… 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements