Ternyata, kalau kita masih melakukan dosa A lalu mengingatkan orang lain untuk tidak melakukan dosa A, akan berdampak nyebelin untuk yang diingatkan apalagi yang diingatkan tau sekali bahwa kita sendiri masih melakukan dosa A.

Saran saja, kalau belum berhasil mengatasi dosa sendiri, gak usah lebay ngasih nasehat. Bagilah nasehat itu untuk berdua; untuk diri yang belum bisa ngatasi dan untuk orang lain yang dinasehati, sehingga outputnya gak lebay mleber-mleber tumpah ruah bikin kelelep. Kalau dibagi dengan rasa besar hati bahwa diri ini tak lepas dari dosa yang sama, biasanya “kata-kata” yang keluarpun akan lebih humble.

Dan yang paling mengesalkan kalau rasa ego ketika menasehati orang diatas namakan rasa “sayang” supaya sama-sama masuk surga. Terus terang, nasehat karena care yang tulus, dengan nasehat karena ego, ketika sampai ke hati yang dinasehati, akan beda banget rasanya. Orang yang menasehati karena ego nya, akan disambut orang yang dinasehati dengan ego juga, sebaliknya jika yang menasehati menggunakan rasa sayang, yang dinasehati akan menerima dengan sayang juga. Trust me, it works that way!

Itu sebabnya nasehat dari orang yang mencintai kita dengan cinta yang benar-benar cinta, bisa kita terima dengan cinta pula. Karena cara si cinta menasehati kita membuat kita makin cinta. Hadeuuuh… kenapa jadi romantis begini?

Tapi gak selalu begitu. Nouman Ali Khan itu bukan cinta saya, tapi cara dia menasehati penuh dengan kasih sayang dan tak pernah pakai ego. Gak heran kalau saya selalu terkesan dengan nasehat-nasehatnya. Tak pernah berisi caci-maki, merendahkan, menghakimi dan amarah, melainkan kasih sayang, support untuk berbuat baik dan ajakan lemah lembut. Menggelitik kita untuk patuh daripada membangkang.

Tapi memang tak mudah menjadi the best advisor, termasuk saya yang bolak balik merasa gagal menjadi penasehat asik. Padahal nasehat2 saya diperlukan anak-anak saya, tapi mengapa selalu berbarengan dengan amarah??? hhhhhh…..

Semoga Allah memberikan saya kemudahan bicara dan kelapangan dada seperti Nabi Musa ketika menasehati Firaun, sehingga siapapun yang saya nasehati tak merasa sedang digurui atau sakit hati, melainkan menerimanya dengan baik dan meresapinya dalam-dalam untuk terus diingat… semoga.

 

Advertisements